SuaraJakarta.co | Media Ibukota Indonesia

Islamophobia Ternyata Jadi Bisnis yang Menggiurkan

Lean: Media memainkan peranan utama dalam isu Islamophobia. Walaupun mereka tidak punya kepentingan apapun dari pemerintah, namun pada kenyataannya mereka menghadirkan banyak cerita yang isinya adalah penggambaran Islam terhadap audiens. Setidaknya ada tiga masalah media terkait masalah ini.

Pertama, suara-suara Muslim mayoritas tidak terdengar. Lebih sering, non Muslim yang berbicara tentang Muslim. Media sering menghadirkan non Muslim sebagai pembawa acara, reporter, produser atau siapa pun yang bisa membawa nuansa dan kompleksitas pembicaraan tentang Islam.

Kedua, media massa berita adalah perusahaan bisnis dan uang datang dari iklan, yang bisa didapat dengan rating tinggi. Cara untuk meraup uang adalah dengan memperbanyak jumlah penonton. Dan cara untuk mempertahankan penonton adalah membiarkan mereka larut dalam cerita yang itu-itu saja.

Jadi, bagaimana Anda mempertahankan penonton yang terpaku pada sebuah cerita manakala reportase yang ada minim informasi, misalnya, terkait ledakan yang terjadi di salah satu tempat di bumi ini? Dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan utama ini yang membiarkan cerita-cerita tersebut berjalan. Daripada memberitahu audiens atas informasi lanjutan yang ada,reporter acap kali mengajukan pertanyaan yang sifatnya menyimpulkan, berhipotesa, menyindir, menduga-duga dan sebagainya.

Mereka lebih suka melakukan ini ketimbang melaporkan fakta-fakta yang mudah. Misalnya seorang pembawa acara bertanya “Apakah kita memiliki informasi bahwa serangan ini di Kansas dilakukan oleh teroris Islam?” atau yang lainnya “Apakah Al Qaeda atau ISIS yang berafiliasi di Eropa berada di belakang serangan ini?”

Kita dengar misalnya “Tidak ada indikasi pada titik awal bahwa ekstrimis Muslim terlibat.” Namun tiba-tiba, kemungkinan Islam dan Muslim terlibat menjadi ada, dengan upaya melanggengkan pemikiran bahwa umat Islam adalah memang layak menjadi tersangka. Cerita sensasi ini, benar atau tidak, kemudian akan hinggap di orang-orang yang menyaksikan televisi mereka.

Ketiga, dalam beberapa kasus, jurnalis melanggar etika pemberitaan dan sengaja mengobarkan kasus ini. Fox News dengan figur Sean Hannity dan Bill O’Reilly telah mengurai dengan panjang secara on air tentang “Jihad” ini atau “Shariah” itu.

Studi pada tahun 2011 oleh Thinkprogress menunjukkan bahwa Foxnews secara tidak proporsional telah menampilkan kata Islam radikal lebih sering dibandingkan dengan kompetitornya.

Berdasarkan dokumen yang dapat dipercaya, Kepala Fox, Roger Ailes, adalah sosok yang mengatur pemberitaan berdasarkan cara pandangnya yang paranoid terhadap Islam. Dia bahkan pernah dilaporkan melakukan kekerasan terhadap Muslim ketika seorang petugas kebersihan di kantornya ketahuan memakai “pakaian Muslim”.

Ziabari: Pertanyaan terakhir. Saya coba angkat kembali pernyataan Anda dahulu. Ketika September 2012 saat Anda diwawancara Mingguan Al Ahram, Anda mengatakan para pembenci Islam dan kelompok sayap kanan Ekstrim di Amerika Serikat menggelontorkan ribuan dollar setiap tahunnya untuk membuat pernyataan kontroversial dan menyebarkan kebencian terhadap Muslim. Bagaimana ini terjadi? Apakah Anda hendak menyimpulkan bahwa Islamophobia adalah bisnis yang menggiurkan bagi kelompok sayap kanan dan neo-konservatif?

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *