SuaraJakarta.co | Media Ibukota Indonesia

Islamophobia Ternyata Jadi Bisnis yang Menggiurkan

Lean: Charlie Hebdo dan Jyllands Posten memiliki hak untuk menyiarkan kartun-kartun mereka. Namun, memiliki hak bukan berarti apa yang mereka lakukan itu benar. Di Barat, kebebasan berbicara itu berubah pesat menjadi sebuah senjata. Kami tidak memperjuangkan kebebasan itu seperti kami memperjuangkan dengannya.

Menekan kelompok minoritas di AS dan Eropa dengan dalih nilai-nilai demokrasi liberal, itu tidak akan banyak membantu. Apakah Perancis menjadi lebih baik karena membiarkan kartun Muhammad dilecehkan, dan mengakibatkan dua orang membantai 12 lainnya? Apakah masyarakat Perancis memperoleh kebaikan dari peristiwa tersebut?

Kita menengok ke belakang, apakah kebebasan di Denmark meningkat dan kesetaraan sosial di sana membaik, hanya karena adanya kartun kontroversial?

Di Amerika Serikat, iklan anti Islam bodoh yang dipajang di bus oleh Pamela Geller, apakah itu kebebasan sejati yang dianut bangsa Amerika?

Tidak. Tidak ada dari itu semua yang memberikan kontribusi terhadap masyarakat yang lebih sehat. Semua “Kebebasan Berbicara” ini hanya pesan yang berisi prasangka. Mereka menargetkan adanya alienasi dan marjinalisasi sebuah kelompok masyarakat.

Ini menjadi sebentuk upaya meneguhkan bagaimana menjadi orang Amerika atau Eropa sejati. Umat Islam dipaksa menerima penghinaan tokoh-tokoh yang dianggap suci di khalayak publik. Bahkan, kebebasan berbicara ini menjadi hiburan atas nilai-nilai, seperti karikatur dan tokoh yang dijadikan figur, untuk kemudian dinistakan.

Tentu, di sini ada hipokrasi yang jorok. Di Perancis, bahasa anti semit – sama dengan Islamophobia – akan menempatkan Anda dalam kurungan penjara.

Pada 2008, aktris Bridget Bardot didakwa untuk kelima kalinya karena pidato yang berisi menghasut kebencian rasial terhadap umat Islam.

Tiga tahun kemudian, perancang busana John Galliano dihukum karena mengucapkan komentar “Anti Semit” di sebuah kafe. Dalam kasus serangan terhadap Charlie Hebdo, 54 orang ditahan karena kasus kriminal yang ambigu “apology of terrorism”.

Kebebasan berbicara menjadi sakral bagi sebagian orang sesuai dengan nilai-nilai keberagamaan mereka. Ketika menguntungkan, maka kebebasan berbicara diterima. Ketika tidak menguntungkan, mereka menolaknya.

Ziabari: Jumlah Muslim di Eropa dan Amerika Serikat terus meningkat. Kebanyakan Muslim adalah imigran yang datang dari negara berkembang ke Barat untuk mencari kehidupan yang lebih baik. Ketika sampai di Barat, kebanyakan Muslim merasa hak-hak sipil dan kebebasan mereka dibatasi. Apakah pemerintah di negara-negara Barat ini tidak bertanggungjawab atas keamanan dan kesejahteraan Muslim minoritas ini?

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *