Islamophobia Ternyata Jadi Bisnis yang Menggiurkan

Lean: Industri Islamophobia ini bukan seperti industri mobil. Tidak ada perusahaan besar, konglomerasi, CEO atau peralatan. Industri yang dimaksud di sini lebih pada rasa. Sebuah jaringan yang eksis, satu terhubung dengan kelompok atau individual yang tersebar di berbagai benua. Banyak yayasan raksasa yang memiliki puluhan juta dolar Amrika, (Donor’s Capital Fund, Scaife Foundation, Bradley Foundation, dsb). Mereka menyumbangkan uang ke banyak organisasi pemikiran atau organisasi yang mirip-mirip intelektual seperti Clarion Project, Middle East Forum, Horowitz Freedom Center, Center for Security Policy, dsb. Sudah tentu organisasi ini yang merefleksikan kepentingan ideologi pendonor.

Organisasi ini kemudian mengembangkan ke orang-orang yang memproklamirkan dirinya sebagai ahli Islam, ahli Timur Tengah, pakar terorisme, pakar keamanan nasional, seperti Daniel Pipes, Robert Spencer, Zuhdi Jasser, Steven Emerson, Frank Gaffney.

Pabrik-pabrik individual ini kemudian berbicara tentang Muslim dan Islam, ancaman hukum syariat di AS, dukungan mempengaruhi keberadaan Ikhwanul Muslimin dsb. Projek ini kemudian disebarluaskan oleh blogger dan aktivis semacam Pamela Geller, Brigitte Gabriel dan Walid Shoebat, yang mereka itu dibayar tinggi untuk menyebarluaskan idelogi pendonor.

Kelompok-kelompok ini, yang memiliki pandangan politik konservatif dan garis keras mendukung Israel, menjadi bagian dari “wadah pengeras suara” seperti Jihad Watch, Atlas Shrugs, BareNaked Islam, Gates of Vienna, Blazing Cat Fur, dsb).

Sebagai tambahan, dari hasil penjualan buku best seller mereka, jualan keliling, biaya konsultasi dan acara publik lainnya, pabrik-pabrik individual ini mendapat bayaran sangat tinggi hingga ratusan dollar Amerika setiap tahunnya.

Ziabari: Dengan aturan apa korporasi media memainkan isu Islamophobia? Organisasi media di Barat sangat membanggakan kejujuran, transparansi dan independensi. Apakah mereka mendapat “oder” dari pemerintah? Atau kah mereka memang melakukan kampanye anti Muslim sebagai bagian dari kebijakan editorial mereka?

Leave a Reply