SuaraJakarta.co | Media Ibukota Indonesia

Islamophobia Ternyata Jadi Bisnis yang Menggiurkan

Lean: Benar bahwa jumlah serangan teroris yang dilakukan Muslim di Eropa sangat sedikit, dibandingkan kelompok lain. Di Amerika Serikat pun demikian. Universitas North Carolina dan Pusat Triangle Terorisme dan Keamanan Nasional meluncurkan laporan penelitian pada 2014, yang menunjukkan sejak serangan Black September, Muslim yang terhubung dengan terorisme hanya membunuh 37 orang di AS. Jauh dengan 200 ribu orang yang dibunuh dalam kekerasan kontak senjata pada periode yang sama.

Menjadi masalah, bagi kebanyakan orang Eropa dan Amerika, Islam dan Umat Islam adalah orang asing. Mereka keluar “dari sebelah sana”, dan mereka ada di luar batas-batas “kami”. Maka ketika berbicara terorisme, terorisme dalam negeri dikaitkan dengan terorisme luar negeri.

Kelompok seperti ISIS, Boko Hara, Taliban dan Al Qaeda. Kelompok-kelompok ini memang membunuhi banyak orang. Citra ini, yang oleh media massa mainstream diulang-ulang, menjadi tidak imbang penggambarannya terkait muslim yang anti kekerasan.

Ini semua karena cara pandang yang keliru yang berakibat kemudian pada kesimpulan muslim teroris domestik sebagai ancaman paling besar.

Ziabari: Ya, sebagaimana Anda katakan, kebangkitan kelompok teroris ISIS telah memberikan kontribusi secara signifikan pada meningkatnya sentimen anti Islam di seluruh dunia. Kondisi ini membuat mereka yang anti Islam semakin percaya bahwa ISIS benar-benar perwakilan Muslim dunia dan semakin meningkatkan keraguan bahwa Islam itu ajaran yang cinta damai. Menurut Anda, seberapa besar kemungkinan untuk membuat rasa skeptis bawah ISIS tidak ada hubungannya dengan Islam, dan mayoritas ulama Muslim dunia. Bahkan, Sunni dan Syiah, sama-sama menolak kebiadaban mereka membunuh anak-anak, wanita dan orang tak bersalah?

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *