SuaraJakarta.co | Media Ibukota Indonesia

Islamophobia Ternyata Jadi Bisnis yang Menggiurkan

Lean: Apa yang bisa membuat masyarakat dunia paham bahwa ISIS tidak ada kaitannya dengan ajaran Islam yang dipraktekkan oleh 1,6 miliar Muslim? Maka jawabnya satu kata: waktu.

Prasangka-prasangka seperti ini tidak mudah diatasi. Untungnya, Muslim saat ini memiliki perangkat untuk melawan balik prasangka dan kesalahpahaman informasi ini. Walaupun internet menjadi tempat berkembang biak bagi Islamophobia, namuna dia juga menjadi tempat yang cepat untuk menawarkan pandangan berbeda dengan melalui gambar-gambar viral atau ekspresi lainnya.

Budaya pop juga memainkan pengaruh atas mayoritas. Banyak aktor dan komedian, rata-rata non Muslim, yang menggunakan platform mereka untuk menyuarakan perlawanan mis-informasi dengan target adalah kelompok-kelompok Muslim.

Suara-suara Muslim pun kemudian menjadi tayangan feature di banyak tempat, seperti film, televisi dan radio. Rakyat Amerika dan Eropa kemudian menjadi nyaman dengan pemikiran bahwa kelompok-kelompok seperti ISIS ini adalah penyimpangan.

Ziabari: Di dalam buku Anda, Anda menyebut Islamophobia sebagai industri. Apakah menurut Anda Islamophobia ini benar-benar dijadikan sebagai sebuah industri? Apakah ada upaya sistematis yang memang tugasnya adalah membuat orang takut terhadap Muslim? menjadikan Muslim ini sebagai setan yang bertanggungjawab atas apa yang terjadi saat ini?

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *