Sejarah Emas

bisnis-emas-uang
Ilustrasi. (Foto: IST)
SuaraJakarta.co, JAKARTA – Dalam sejarah panjangnya, umat manusia telah mengenal uang perak dan uang emas, baik dalam bentuk hard currency maupun gold backup money untuk penyimpan kekayaan maupun sebagai alat tukar. Peradaban besar seperti Romawi, Cina, Mesir dan kekhalifahan Islam menggunakan emas dan perak sebagai alat simpan kekayaan negara atau kekaisarannya. Lima mata uang hard currency Aerus Romawi, Solidus Romawi, Numisma atau Bezant dari Bizantium (Romawi Timur), Dinar – Dirham Islam dan Ducat Venesia dipergunakan secara internasional melintas batas peradaban mereka sendiri mulai dari satu abad sebelum Masehi hingga permulaan abad ini.

Sebelumnya, tujuh abad SM, uang emas digunakan dengan berbagai standar kandungan di Lydia secara terbatas. Alexander ‘The Great’ (356-323 SM) menyatukan Macedonia dengan mata uang perak tunggal.
Julius Caesar mengembalikan mata uang Romawi menjadi uang emas setelah terjadi manipulasi ekonomi rakyat oleh pengusa sebelumnya. Alexander Hamilton (1755-1804) bendahara pertama negeri Amerika memperkenalkan standar emas untuk uang negaranya. Wajah Hamilton bisa dijumpai di uang US$10, sementara George Washington, bapak negara pertama Amerika yang mengangkat Hamilton hanya ‘nampang’ di US$1.

Napoleon menetapkan uang Prancis dengan standar emas, lalu ia jadi kaisar legendaris. Lenin mengendalikan hiperinflasi Rusia dengan standar emas. Juga Mao Tse-tung di Cina. Pada 1949, pemerintahan penguasa Amerika di Jepang menetapkan standar emas untuk negeri jajahanannya. Tiga tahun kemudian, Jepang memutuskan menjadi sekutu abadi negara yang telah membom atomnya, Amerika, hingga saat ini.

Banyak negara, melalui bank sentral masing-masing, punya kepentingan untuk menyimpan kekayaan negaranya dalam bentuk emas. Emas dikenal sebagai pilihan cadangan devisa utama setiap negara kendati ‘diabaikan’ sebagai backup pencetakan uang sejak tahun 1971. Di masyarakat paling modern pun di barat (Eropa dan Amerika) juga dunia timur seperti di Timur Tengah, Cina, India dan Asia Tenggara (didominasi oleh Thailand, Vietnam dan Indonesia) adalah penyimpan emas baik dalam bentuk perhiasan, batangan maupun Dinar.

Penulis: Endy Kurniawan @endykurniawan, Coach, trainer dan Penulis Seputar Bisnis, Keuangan dan Investasi

Related Articles

Latest Articles