Di Tengah Duka Jelang Tahun Baru, Pemprov Baiknya Ajak Warga ke Tempat Ibadah

Warna menonton arak-arakan Jakarta Karnaval 2014 di Bundaran HI. (Foto: Fajrul Islam/SuaraJakarta)

Warna menonton arak-arakan Jakarta Karnaval 2014 di Bundaran HI. (Foto: Fajrul Islam/SuaraJakarta)

Warna menonton arak-arakan Jakarta Karnaval 2014 di Bundaran HI. (Foto: Fajrul Islam/SuaraJakarta)

SuaraJakarta.co, JAKARTA – Seperti diketahui bersama perayaan dari tahun ke tahun dalam menyambut tahun baru di Jakarta oleh Pemerintah Provinsi (Pemprov), tidak terlalu banyak manfaatnya dan terkesan hura-hura. Yang harus dibangun justru seharusnya berbentuk kepedulian, dan secara langsung masyarakat terdidik untuk bisa melakukan introspeksi diri, lebih baik dari tahun sebelumnya, apalagi kondisi bangsa Indonesia yang saat ini sedang dirundung musibah.

Demikian disampaikan Anggota Komisi E DPRD DKI Jakarta Tubagus Arif, Rabu (31/12) di Kebon Sirih Jakarta Pusat.

Lebih lanjut Tubagus mengatakan, Pemprov harusnya demikian, bukan sekedar menyelenggarakan pesta dipenghujung tahun, tapi perlu mengevaluasi terkait tata kelola pemerintahan, dengan menata fungsi pemerintahannya dalam bentuk pelayanan yang bebas pungli di level Kelurahan dan Kecamatan dan harus menjadi sebuah barometer di Jakarta.

“Harusnya Pemprov, berkaca, mengevaluasi diri, terkait dengan kerja-kerja pemerintahan, dan jika kita evaluasi berapa banyak dana yang dikeluarkan oleh pemerintah hanya untuk melakukan perayaan tahun baru 2014 lalu,” tanyanya serius.

Banyak kejadian yang mencengangkan di Ibukota ini, mulai dari angka kenaikan penderita HIV AIDS yang meningkat dari kalangan anak-anak dan remaja menurut data KPAI, kemudian adanya tempat judi terbesar di Jakarta Barat, ditambah lagi bahaya minuman keras yang marak dan selalu makan korban, belum lagi tawuran antar kampung.

“Sudah semestinya warga diajak ke barak-barak spiritualnya, yang Muslim ke Masjid, yang Nasrani ke Gereja, ke Pura, Wihara dan sebagainya, dan semua warga diajak berintrosepksi diri untuk menghadapi tahun 2015. Bukan dengan hura-hura dengan beragam acara yang tidak mencerminkan jati diri anak bangsa di Jakarta,” sebut Tubagus.

Tahun lalu itu ditaman-taman Jakarta justru dijadikan tempat prostitusi dadakan, terbukti banyak alat kontrasepsi yang berserakan yang ditemukan masyarakat di pagi harinya, “Ini sangat ironis, kalau seandainya menyambut tahun baru selalu dengan hura-hura, harusnya pemprov introsepksi diri, ternyata banyak masalah di Jakarta ini,” pungkas Tubagus.

Leave a Reply