Siswi SMA ini Menjadi Delegasi Termuda Wakili Jawa Barat dalam Forum Indonesian Youth Conference

SuaraJakarta.co, SMA identik dengan masa yang paling indah. Begitu banyak kenangan mulai dari cinta, teman, hingga sekolah. Banyak siswa yang datang hanya untuk formalitas mengisi hari-hari. Bukan untuk belajar, tujuan kaum muda di masa ini biasanya untuk bertemu teman, kemudian senang-senang dan melupakan pelajaran. Mengobrol dengan teman sebangku, lalu membiarkan guru berceloteh bak angin lalu. Begitu indah masa SMA ini, hingga para pemuda lupa mencari prestasi. Kemudian mereka menyesal, dan meminta waktu kembali. Sayang, nasi tlah menjadi bubur, sesal tiada arti.

Berbeda dengan siswa SMA lain, Alsha Merancia(18) siswi SMAN 1 Bogor ini memiliki cerita menarik. Aktif di organisasi sekolah maupun luar sekolah tampaknya tidak mengganggu nilai akademik yang menjadi kewajibannya. Perempuan yang kerap dipanggil Alsha telah menjadi delegasi termuda mewakili jawa barat dalam forum indonesian youth conference di Jakarta pada November 2014 silam. Forum Indonesian Youth Conference adalah Konfrensi kepemudaan yang digagas oleh Sinergi Muda yang tujuannya untuk memberikan pembekalan pengetahuan dibidang softskill maupun akademik kepada setiap perwakilan di tiap daerah di seluruh Indonesia. Setelah diberikan pembekalan selama 7 hari di Jakarta, para perwakilan tiap daerah diminta untuk melakukan suatu aksi sosial yang dapat memberikan perubahan ke arah lebih baik untuk daerah yang mereka wakilkan. Forum ini terbuka untuk pemuda yang dikategorikan berumur 17-24 tahun, dan Alsha mampu mengalahkan ribuan pendaftar dari seluruh Indonesia, yang mana ia juga tlah mengalahkan mahasiswa dan mahasiswi yang usia nya sudah terpaut jauh diatasnya. “Awalnya aku takut dan minder karena masih SMA, tapi setelah mengikut rangkainnya, aku sadar bahwa umur bukan tolak ukur kemampuan kita untuk berprestasi” tuturnya. Perempuan berdarah padang ini menambahkan, setelah mengikuti forum tersebut ia mendapatkan banyak teman dari berbagai daerah di seluruh indonesia, banyak pengalaman juga banyak relasi. Sebagai komitmen nya dengan pihak Sinergi Muda, sekarang Alsha sedang fokus untuk membuat kegiatan sosial bakti donor darah yang direncanakan akan diselenggarakan di desa daerah dramaga pada bulan januari mendatang. Kegiatan ini akan ia lakukan bersama teman-teman SMA nya yang beranggotakan sekitar 20 orang.

5 kali mengikuti lomba debat, 5 kali menang

Agaknya tahun 2014-2015 merupakan tahun emas untuknya. Alsha yang awalnya tidak sengaja diajak teman untuk lomba debat, menolak dengan alasan belum punya pengalaman. Namun karena sang teman terus meyakinkan dan menyarankan untuk learning by doing membuat Alsha berubah pikiran. Alsha memutuskan untuk ikut dan membentuk satu tim yang terdiri dari tiga orang. Perlombaan debat pertama tersebut pada bulan maret 2014 di Universitas Juanda Ciawi, bertemakan ekonomi-politik tim Alsha dan kawan-kawan yang awalnya belum melek politik menjadi mau tidak mau harus banyak mencari refrensi, informasi isu politik serta literatur-literatur ilmu yang berkaitan. Lomba tersebut berlangsung selama dua hari. Memang rezeki tak kemana, tim pendebat amatiran ini mendapatkan juara dua. Senang bukan main, rasanya seperti mimpi bisa mengalahkan tim debat dari SMA se-kabupaten dan kota Bogor. Tak berhenti disitu, merasa memiliki passion di bidang debat dan merasa nikmat telah mendapatkan hadiah lomba berupa uang, membuat mereka merasa tertantang untuk mengikuti perlombaan serupa lainnya yang lebih advance, yaitu tingkat nasional. Tepatnya di Mei 2014 pada ajang “national governance days” yang diadakan oleh fakultas ilmu sosial dan ilmu politik universitas padjajaran. “Jalan mulus buaha dari batu kerikil yang berjatuhan” benar memang pepatah tersebut. Perlombaan kali ini ternyata memiliki beberapa hambatan. Tak lain dan tak bukan adalah faktor uang. “Waktu itu, kita pengen banget ikut. Tapi karena kita di bogor dan acaranya di jatinangor, keingan tersebut sempat terhambat di biaya dan akomodasi. Kita harus mikirin tiket travel, penginapan, konsumsi disana, dan uang pendaftaran lomba itu sendiri. Uang tersebut akan diganti full oleh sekolah jika kami juara satu. Jika kami juara dua atau tiga, uang tersebut diganti setengahnya. Dan jika kami tidak menang, kami menanggung semua nya dengan biaya pribadi” Ungkapnya. Ketika ditanya bagaimana kelanjutannya, alsha menceritakan “yang aku dan teman-teman pikirkan saat itu hanya bagaimana caranya kami menang dan harus juara satu. Karena hadiah untuk juara satu adalah uang senilai tiga juta, otomatis pembiayaan kami kesini akan balik modal. ‘Datang untuk menang’ begitulah prinsip dari timku. Tidak bisa dipungkiri bahwa perlombaan tingkat nasional ini sangat sengit. Sehingga tidak ada toleransi untuk malas-malasan. Selama tiga hari perlombaan, kami sibuk membaca mencari informasi dari malam hingga pagi. Betul pula kata pepatah “hasil tidak akan membohongi proses” apa yang telah kami perjuangkan, pada akhirnya terbayar manis. Tim kami mendapat juara 1 dan aku pribadi menjadi the best speaker”

Aktif organisasi di sekolah maupun luar sekolah berbuah beasiswa selama setahun

Tidak hanya itu, perempuan berdarah minang ini aktif organisasi di sekolah maupun luar sekolah. Sehingga tak heran jika alsha dikenal sebagai anak yang supel dan memiliki banyak teman. Di luar sekolah, ia menjadi salah satu anggota dari ngo imago(inspirasi muda bogor). Ngo ini bergerak di bidang youth-social, goalnya adalah meminimalisir angka tawuran pelajar di kota bogor. Dari organisasi inilah, alsha mendapatkan beasiswa pendidikan sebesar satu juta rupiah selama setahun. Di sekolahnya sendiri, ia aktif dan menjabat sebagai bendahara umum organisasi pramuka.
Singkat cerita, seperti itulah cerita tim redaksi kami dengan Alsha, ada yang tertarik untuk mengikuti jejak Alsha, girls?

Related Articles

Latest Articles