Lidah Tak Bertulang, Namun Lebih Tajam dari Pedang

“Bu, maaf jadi ganggu istirahatnya. Masih capek ya? Ini sudah 4 jam ini sejak persalinannya tadi. Sudah pengen buang air kecil belum?”, suara lembut itu membangunkan si ibu muda itu. Ibu muda ini tengah tertidur sambil menyusui bayi kecil yang baru 4 jam yang lalu ia lahirkan. Anak pertama, dengan proses persalinan panjang selama hampir 20 jam. Sejak ketubannya pecah siang kemarin, lalu induksi diberikan mulai tengah malam, sehingga sejak itu hingga keesokan harinya ia merasakan nyerinya kontraksi rahim. Semalaman ia tak bisa tidur, dan barulah setelah bayi itu lahir 4 jambyang lalu, ia bisa lelap. Jadi wajarlah jika ketika orang lain tengah terjaga, ibu muda ini tertidur pulas.

“Kayaknya belum Mbak,” ibu muda ini menjawab malas.

“Coba saya periksa kandung kemihnya. Hmm, ini penuh. Yuk, buang air kecil, pake pispot aja. Saya ambilkan ya, saya bantu..”, sambil memeriksa perut bagian bawah pasiennya, wanita berseragam biru muda itu menyimpulkan hasil pemeriksaannya. Pasiennya harus segera buang air kecil. Diambilnya pispot, dan dibantunya dengan sabar pasiennya untuk buang air kecil. Pasiennya tetap santai di atas kasurnya.

Ibu muda yang menjadi pasiennya tentu saja meski masih diliputi kantuk, menuruti anjuran bidan itu. Rasa malas serta kesal akibat terganggu tidurnya langsung hilang. Usaha tulus bidannya untuk membantu membuatnya merasa nyaman.

Rasa lelah luar biasa yang ia rasakan perlahan hilang, diganti rasa kagum pada bidan itu, serta rasa syukur luar biasa.

“Mbak Bidan udah punya anak?”

“Belum Bu, nikah aja belum,” jawabnya bidan muda itu sambil senyum tersipu.

Luar biasa, amat jarang seseorang bisa bersikap demikian empati pada ibu pasca melahirkan tanpa sempat mengalami sendiri rasanya melahirkan.

Ia jadi ingat pengalaman temannya yang melahirkan beberapa pekan sebelumnya. “MasyaAllah ya, mungkin ini ujian buat saya, melahirkan dengan cara operasi, lalu dapet petugas kesehatan yang kurang sreg di hati..”, ia ingat betul cerita temannya itu.

“Pas sehari habis operasi lahiran, masih dirawat di rumah sakit, saya mau buang air kecil, saya minta bantuan bidannya. Eh, malah dijawab ketus: Yaah, si Ibu, pipis aja minta dibantu. Udah lewat 24 jam sih udah harus ke kamar mandi sendiri. Ayo Bu, jangan manja!”, demikian kisah temannya itu.

Wanita itu baru saja dioperasi: kulit, otot, lalu jaringan lemak di perutnya, serta rahim di dalamnya disayat, dilukai, dilewati bayi seberat sekitar 3 kilogram, lalu ditutup lagi dengan dijahit, menggunakan benang dan jarum. Ngilu. Obat penghilang nyeri memang telah diberikan, namun tetap saja nyeri itu masih bersisa. Namun ternyata petugas kesehatan itu tak memikirkannya, dan ini tergambar dari penolakan itu. Meskipun cuma kumpulan kata, namun tak kurang efeknya negatifnya pada mood ibu baru melahirkan itu.

***

Kata-kata memang kadang tidak begitu sulit diucapkan, ia bahkan begitu saja mengalir lewat lidah. Tanpa perlu banyak energi, tanpa banyak analisa. Namun ternyata efeknya luar biasa besar. Lidah tak bertulang, namun ia bisa lebih tajam dari pedang. Ia kadang bisa lebih getir dari kopi tanpa gula. Namun sebaliknya, suatu saat ia bisa lebih manis dari gula.

Ia bagai ruh yang menghidupkan semangat yang tengah terlelap. Ia juga bisa bagai air yang dengan mudah memadamkan api yang tengah menyalakan obor penerangan suatu malam. Dan semuanya bisa saja dengan mudah mengalir lepas dari lidah manusia. Jadi, daripada mengeluarkan kata-kata yang memadamkan semangat yang tengah menggelora, kenapa tidak mengeluarkan kata yang menghangatkan suasana dan menerangi sudut ruang yang gulita?

Penulis: Sari Kusuma

Leave a Reply