Jangan Lupakan Mereka, Meskipun Jasanya Kecil

Lepas bepergian selama hampir dua pekan, satu tunas kecil muncul di pekarangan depan pagar rumah Pak Jaka -bukan nama sebenarnya. Tunasnya berbentuk tanaman merambat. Tumbuh di petak kecil di depan pagar. Pada dasarnya di luar pagar sudah terhitung tanah negara, tapi di kampung: yang punya rumah di dekatnya merasa berhak untuk menjaga kelestarian petak itu. Pak RT yang rumahnya tepat di seberang rumah Pak Jaka, jaraknya 3 meter lah, sering turut menyiangi rumput yang kadang subur di petak tersebut. Kalau menyiram pot di depan rumahnya sendiri, Pak RT sering ikut menyiram petak tanah depan pagar rumah Pak Jaka itu. Begitu juga Pak Jaka, jika menyirami tanaman di halaman dalam pagar rumahnya, ia juga menyirami petak kecil tersebut.

Petak tanah itu hanya selebar 30 cm, dibatasi pagar rumah Bu Ana di bagian belakang, di depan dibatasi tepian got.

Kembali ke soal tunas yang baru tumbuh itu, rupanya ia cepat sekali perkembangannya. Dalam waktu sebulan, ia merambat kemana-mana, terutama ke pagar, kanopi car port, bahkan ke balkon rumah Pak Jaka. Bentuk daunnya sedikit menjari, berbulu halus. Semua orang penasaran: Pohon apa itu? Pak Jaka yang biasanya sibuk dengan pekerjaan dan sering bepergian keluar kota, tak merasa melempar bibit apapun ke petak itu. Namun pak RT mengaku pernah melempar biji sayur oyong ke sana. Tetangga sebelah menebak itu pohon labu, tetangga belakang menebak itu pohon timun. Hanya pak RT yang dengan yakin menyebutkan tanaman merambat itu adalah pohon sayur oyong.

Dua bulan berlalu, ternyata tanaman itu hanya rimbun daun dan batangnya saja. Tak juga muncul bunga, apalagi buah. Rasa penasaran semua orang belum terpuaskan.

Nyaris masuk bulan ketiga, pada suatu pagi, asisten rumah tangga Pak Jaka berteriak girang campur takjub.”Buuu, ini di atas pohonnya udah berbunga!”, teriaknya melapor pada majikannya. Saat itu ia tengah menyapu balkon. Namun teriakannya bisa terdengar ke seluruh penjuru rumah, yang lebarnya tak lebih dari 200 meter persegi itu, bahkan ke seberang rumah.

Seluruh isi rumah bukan main tergopoh-gopoh menghampiri Bibi’ di balkon. Bahkan bapak dan bu RT menyimak dari seberang rumah. Balkon itu memang tepat menghadap rumah Pak RT.

Satu bunga tumbuh, diikuti bunga yang lain. Dalam waktu singkat, ada sepuluh bunga tumbuh. Dalam hitungan hari, buah pun muncul. Ternyata tanaman merambat itu adalah sayur oyong belut. Dalam beberapa pekan, sayur itu rimbun bertumbuhan. Dengan suka cita Bu Jaka membagi-bagikan kepada tetangganya, tentu saja setelah ia sendiri mencoba sebuah untuk dimasak.

“Bener kan saya bilang? Itu sayur oyong”, komentar pak RT.

“Untung kemaren saya goresin dikit pangkal batangnya. Jadi cepet berbuah deh,” lalu Bu RT membuat pengakuan. Jadi, selama 3 bulan masa penantian diliputi rasa penasaran hampir seluruh tetangga itu, semua orang memberi usulan agar tanaman merambat itu cepat berbuah. Bu RT menyarankan pangkal batang tanaman itu ditoreh sedikit dengan pisau. Karena pak Jaka terlalu sibuk dengan urusan pekerjaan, sementara penghuni rumah yang lain juga tak begitu memikirkan tanaman merambat itu, maka usulan itu tak sempat dilaksanakan. Sehingga Bu RT diam-diam mengeksekusi sendiri usulannya itu.

Lalu, ada Bu Ana, yang masih kerabat dekat pak Jaka, yang rumahnya beda RT, mengusulkan agar menusuk-nusuk pangkal batangnya dengan mulut ikan lele. Dan ternyata diam-diam, saking penasaran dan perdulinya pada nasib tanaman merambat itu, Bu Ana lalu mengeksekusi pula usulannya sendiri tanpa konfirmasi.

Juga, Pak Anu, yang juga kerabat dekat Pak Jaka yang rumahnya masih satu RW, yang setidaknya dua hari sekali datang berkunjung lalu ikut menyiram tanaman, juga memberi pendapat. Menurutnya tanaman merambat itu kurang unsur hara, sehingga perlu diberi pupuk kompos. Lagi-lagi, Pak Anu juga mengeksekusi sendiri usulannya, tanpa konfirmasi.

Dan, ketika sayuran itu berbuah, dan panennya melimpah, semua orang turut merasa puas. Masing-masing berpendapat: Untung saya sudah begini, untung saya beri ini. Semua turut merasa berjasa. Masing-masing menyebut jasanya di hadapan pak Jaka, namun pada kesempatan yang berbeda, sehingga mereka tidak saling mengetahui jasa pemberi usulan yang lain. Pak Haji pun tidak merasa perlu untuk mengklarifikasi siapa sebenarnya yang paling berjasa, tapi kepada masing-masing, secara terpisah, ia menyampaikan rasa terimakasih. Bu RT tak perlu tahu bahwa Bu Ana telah melakukan sesuatu, juga Bu Ana tak perlu tahu Pak Anu telah turut andil di balik panen besar itu.
***

Dalam sebuah keberhasilan, setiap orang berhak merasa punya jasa atau andil di dalamnya. Namun faktanya, tidak ada itu truly one man show. Tidak ada keberhasilan yang terjadi hanya berkat jasa satu orang pemain tunggal, yang sepenuhnya dia saja yang bertugas, memberi peran, tanpa sadikitpun peran tokoh lain.

Selalu ada tokoh pemeran pembantu, yang seolah ‘hanya’ bertugas meramaikan, namun tanpanya pertunjukan tak akan berhasil. Selalu ada peran-peran sampingan, yang terkadang hanya dipandang sebelah mata, namun tanpanya pertunjukan akan kering hampa, nyaris tak bermakna. Maka, jadilah padi: makin tunduk ketika ia makin berisi. Jasa-jasa kecil tak boleh dilupakan, apalagi jasa-jasa besar para pemeran sampingan.

Penulis: Sari Kusuma

Related Articles

Latest Articles