Bodohnya Ikan Karena Tak Bisa Memanjat

Api menyambar-nyambar dengan ganasnya. Seluruh penghuni rumah berusaha menyelamatkan diri. Namun tidak dengan seorang anak berusia belasan tahun itu. Demi melihat kobaran api, ia tertahan, membeku, tak bergerak. Seluruh keluarga berusaha membujuk, menarik bahkan memaksanya untuk keluar demi menyelamatkan diri. Namun ia tak bergeming. Naas, ia pun menjadi korban kebakaran itu, terpanggang api bersama seluruh isi bangunan yang terbakar.

Bocah remaja itu ternyata penyandang autisme, ajal menjemputnya disebabkan kegagalannya merespon bahaya di sekitarnya. Dan inilah sebagian besar ketakutan yang dirasakan keluarga dari anak penyandang autisme. Sehingga tak jarang keluarga menahan anak dengan autisme di dalam rumah, hingga menguncinya dalam kamar. Bahkan sebagian besar orang memandang anak dengan autis sebagai aib.
**

Puluhan tahun yang lalu, seorang balita berusia 18 bulan dibawa oleh kedua orangnya ke sebuah sekolah taman bermain untuk balita. Pemilik sekolah melihat ada yang beda dengan anak ini: ia tak merespon langsung jika diajak bicara, matanya tak menatap lawan bicara, ia juga mudah sekali berteriak marah. Di usianya dia belum menunjukkan tanda mulai berbicara. Anak ini tidak normal, pikir pemilik sekolah.

Dengan tegas, mereka menolak balita itu, sambil berpesan: Bawalah anak anda ke institusi kesehatan jiwa, dalam bahasa awam ini berarti Rumah Sakit Jiwa.

Bagaimana perasaan anda jika sekolah yang anda harapkan mendidik anak, malah mengecap anak anda ‘sakit jiwa’ sehingga perlu sekali dibawa ke Rumah Sakit Jiwa? Itulah yang dirasakan sepasang orang tua tersebut. Namun kejadian itu justru membuat mereka tertantang. Tanggung jawab yang besar pula membuat mereka tak menyerah mencari bantuan demi anak mereka itu. Anak mereka kemudian diketahui menderita Sindrom Asperger, salah satu spektrum dari Autisme.

Sang Ibu tak menyerah begitu saja, setelah ditolak, ia kembali lagi keeseokannya. Tak sekali, berkali-kali ia terus merayu sekolah itu untuk menerima anaknya. Balita itu adalah Stephen Mark Shore. Stephen kecil akhirnya memang diterima di sekolah pre-school tersebut. Namun bukan itu saja, ibunya pun juga melakukan intervensi di rumah. Sebelum teori home-based early intervention terhadap penyandang autis dicetuskan, ibunya telah melakukan metode itu di rumah. Ibunya terus melatih, mengajak Stephen bermain, berinteraksi dan berkomunikasi, bergerak dan meniru.

Masyarakat mungkin lebih mengenal Temple Grandin daripada Stephen. Sebab Grandin yang penyandang autis serta guru besar di bidang ilmu kehewanan berhasil menemukan metode baru dalam proses pemotongan hewan, yang meminimalisasi rasa sakit hewan ternak. Sebab pula, kisah tentangnya telah diangkat menjadi film layar lebar.

Stephen Mark Shore kini ia telah menjadi guru besar di bidang pendidikan anak autisme. Belasan negara sudah ia datangi, untuk memberikan kuliah soal penanganan autisme. Dia juga memiliki gelar sarjana akuntansi dan sistem informasi serta pendidikan musik di Massachusetts University, serta gelar masternya di Boston University.

Ia melihat bahwa tak semua penyandang autisme seberuntung dirinya: Mendapat banyak dukungan dari keluarga, lingkungan dan guru-guru. Saat masa sekolah ia memang banyak mengalami tantangan, mulai dari berbagai insiden bully dari temannya, juga masalah komunikasi dengan gurunya. Namun Shore bisa lulus sekolah bahkan kemudian kuliah dan menyandang berbagai gelar sarjana. Maka, ia merasa harus turut andil membantu langsung penyandang autisme. Sehingga pada 1998 dia memutuskan untuk memperdalam ilmu tentang pendidikan autisme. Kini ia guru besar bidang pendidikan penyandang autisme di Adelphi University.

Menurutnya, penyandang autisme memang memiliki keterbatasan dalam berinteraksi dengan dunia luar. Namun mereka memiliki kemampuan yang luar biasa dan mendalam soal hal yang repetisi dan mendetail. ’’Yang tidak diketahui masyarakat, perilaku autisme yang repetitif dan mendetail sangat berguna jika diarahkan dengan benar. Contohnya, seseorang yang bekerja di departemen informasi transportasi di stasiun,’’ katanya.

’’Hanya karena kucing bisa memanjat dipandang pintar, sedangkan ikan bodoh karena tak bisa melakukan hal yang sama. Justru harus dimanfaatkan fakta bahwa ikan sangat pandai berenang,’’ katanya beranalogi, seperti dikutip oleh Indopos (2/4/2016).

Setiap individu memang terlahir unik, dengan kelebihan dan kekurangan masing-masing. Berusaha memperbaiki kekurangan adalah bijaksana. Namun berusaha membandingkan satu individu dengan individu lain adalah sebuah petaka. Dalam hal ini, Stephen telah mengajari kita untuk menyulap keunikan tersebut, tanpa berusaha membandingkan dengan yang lain, menjadi sebuah kelebihan.

Penulis: Sari Kusuma

Related Articles

Latest Articles