Soal KRL, Publik Lebih Merespon Negatif daripada Positif

SuaraJakarta.co, JAKARTA – Persoalan pelayanan publik di DKI Jakarta masih belum menemukan titik temu penyelesaian. Setelah MRT Jakarta terancam dibatalkan karena diprotes oleh warga yang tinggal di kawasan Fatmawati untuk Jalur MRT Lebak Bulus-Kampung Bandan, kini KRL yang per hari mengangkut penumpang sekitar 400 – 500 ribu tersebut, lebih banyak mendapat respon negatif daripada positif dari publik yang terbiasa menggunakan jasa di bawah naungan PT KAI ini.

Soal sorotan negatif dari publik tersebut sebagaimana tercermin dari hasil analisis Media Monitoring Indonesia Media Monitoring Centre (IMMC) terhadap 5 (lima) media online yang memiliki rating tertinggi untuk dibaca. Kelima media berita online tersebut adalah kompas.com, detik.com, viva.co.id, merdeka.com, dan okezone.com. Adapun metode yang digunakan dalam melakukan monitoring adalah menggunakan teknik purposive sampling dalam rentang waktu selama 1 tahun, mulai dari September 2013 hingga September 2014.

Dari beberapa hasil temuan, ditemukan salah satu kesimpulan yang mengejutkan bahwa tone pemberitaan terhadap KRL yang mendapat respon dari publik, lebih banyak bersifat negatif daripada positif. Beberapa persoalan tersebut muncul atas dasar insiden yang bersifat massif atau persoalan-persoalan teknis yang sering terjadi sehingga memunculkan gangguan teknis.

“Pemberitaan terhadap KRL sepanjang periode September 2014-September 2014 mengalami peningkatan secara signifikan pada bulan Desember 2013 karena terjadinya tabrakan antara KRL dengan Truk Tangki Pertamin di Kawasan Pondok Betung, Bintaro, Jakarta Selatan. Peristiwa ini membuat KRIL sepanjang beberapa hari menjadi pusat pemberitaan media”

“Peningkatan pemberitaan KRL juga terjadi pada Bulan Pebruari, April, dan Juni 2014 yang lebih banyak dipengaruhi oleh banyaknya gangguan dalam perjalanan KRL di Jabodetabek, Besarnya pemberitaan media sepanjang Februari, April, dan Juni menunjukkan tingkat gangguan dalam perjalanan KRL cukup sering terjadi”, tulis IMMC pada hasil riset yang disampaikan pada email redaksi suarajakarta.co

Untuk isu yang paling banyak disoroti oleh publik adalah Gangguan Perjalan KRL. Sebaran isu tersebut memuncaki pemberitaan media hingga di angka 350 pemberitaan. Gangguan perjalanan KRL, misalnya, berkaitan dengan terlambatnya kedatangan kereta, gangguan sinyal, terendamnya rel kereta karena banjir, dan sebagainya. Sedangkan, soal Kecelakaan KRL mendapatkan sorotan media kedua terbanyak dengan angka di atas 250 pemberitaan.

Butuh Integrasi Angkutan Publik

Beberapa upaya untuk menyelesaikan persoalan KRL ini sudah banyak disampaikan oleh beragam pihak. Hidayat Nur Wahid, sebagai salah satu kandidat Gubernur DKI pada kampanye nya 2012 silam mengatakan seperti yang dilansir rmol.co, bahwa permasalahan KRL bisa dijadikan kesempatan bagi Pemda DKI Jakarta untuk turut serta dalam investasi dan manajemen operasional yang selama ini dimonopoli oleh PT KAI melalui anak perusahaannya maupun Kementerian Perhubungan.

Masukan lain juga datang dari Direktur Executive Land Transport Authority (LTA), lembaga satu atap yang mengatur seluruh pelayanan, baik kereta, bus, maupun takis di Singapura, yang langsung bertanggung jawab kepada PM Singapura dan bermitra dengan Departmen Transportasi. Menurutnya, pengelolaan moda transportasi yang terintegrasi dalam satu lembaga seperti di Singapura tersebut, dapat membuat kinerja antarmoda transportasi tidak akan saling tumpang tindih, melainkan saling melengkapi.

Hal tersebut menjadi kewajaran sebab penanganan moda transportasi publik yang ada di Jakarta, tidak sepenuhnya dikelola dan diatur oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Contohnya, KRL Commuter Line yang dikelola oleh PT KCJ berada di bawah PT KAI, Bus Transjakarta berada di bawah Pemprov DKI Jakarta, sedangkan Bus PPD berada di bawah Kementerian Perhubungan. (ARB)

Related Articles

Latest Articles