SuaraJakarta.co | Media Ibukota Indonesia

Ancaman-Ancaman Keuangan Keluarga (Bagian 1)

suara jakarta-Tips-Ampuh-Kelola-Keuangan-Bulanan

Ilustrasi. (Foto: IST)

suara jakarta-Tips-Ampuh-Kelola-Keuangan-Bulanan

Ilustrasi. (Foto: IST)

SuaraJakarta.co, JAKARTA – Ketika keluarga menyusun rencana keuangan, ada faktor internal dan eksternal yang harus diperhatikan. Faktor internal misalnya ketidakpastian penghasilan, kesehatan anggota keluarga juga kebiasaan penggunaan uang yang terkontrol. Yang eksternal lebih ucontrollable dan harus kita kenali. Apa saja?

Inflasi

Uang kertas selalu menemui masalah ketika ditakar nilainya dengan benda dan jasa. Ini seperti menimbang apel di satu sisi timbangan dengan kertas di sisi timbangan yang lain. Apel tak pernah berubah banyak beratnya. Untuk membuatnya setimbang, perlu tumpukan kertas yang sangat banyak. Bahkan karena kertas itu dibuat makin tipis dan tak bermutu, perlu kertas yang terus lebih banyak lagi. Demikian kondisi uang kertas saat ini yang terus kehilangan daya beli. Perlu makin banyak uang untuk membeli benda yang sama meski di lembaran uang ditulis angka-angka yang semakin membesar. Angka yang tertulis itulah yang disebut nominal. Daya beli beda lagi. Daya beli adalah nilai benda itu jika dipertukarkan dengan benda lain. Inilah yang secara stabil dimiliki emas dan perak. Nilai keduanya bisa saja tak naik tinggi, tapi tetap berharga untuk ditukar dengan barang dan jasa. Nilai keduanya bahkan secara konsisten naik melebihi inflasi, sehingga siapa pun yang menyimpan asetnya tidak pernah merasa rugi. Untuk menggambarkan ini, Al-Ghazali dengan sederhana menyebut emas dan perak “Bukanlah harga, tapi menjadi cermin yang mengambarkan harga-harga.”

BACA JUGA  Menggeser Kiblat Harga Emas Dunia

Depresiasi

Depresiasi adalah penurunan nilai tukar sebuah mata uang ketika diperbandingkan dengan mata uang negara lain, terutama reserve currency yang jadi patokan internasional seperti US$, Euro, atau Yen. Musibah besar yang terjadi di seputar nilai tukar ini misalnya pada 1997-1998 di mana Indonesia menjadi korban terbesar dari Krisis Moneter. Tidak ada yang fundamental terjadi pada kekuatan ekonomi Indonesia ketika itu selain spekulan yang membawa masuk USD dalam jumlah sangat besar kemudian menariknya seketika. Rupiah terjungkal lima kali ke bawah. Apa saja yang ditakar dengan US Dollar seperti utang, barang modal impor, termasuk emas menjadi 5 kali lebih mahal. Tak hanya itu, bursa saham rontok dan depresiasi Rupiah terhadap USD telah memicu hiperinflasi dan barang-barang lokal menjadi delapan kali lipat lebih mahal, dari inflasi normal 10% menjadi hampir 80%. Emas ketika itu tak mengalami kenaikan harga di pasar internasional, tetapi karena ditakar dalam US$ (US Dollar per Troy Ounce), maka nilainya naik 2,5 kali lipat dari Rp27.000 per gram menjadi Rp87.000 per gram. Kekacauan ekonomi ini menular ke situasi keamanan dan politik dan terjadilah reformasi.

Apa yang kita simpan dalam bentuk investasi terutama di sektor keuangan tak sepi dari pengaruh depresiasi. Return di atas inflasi, misalkan 20%, di saat yang sama harus menghadapi penurunan nilai tukar rupiah hingga 30%, akan menyebabkan investasi kita tak mampu membeli atau ditukar barang apa pun alias kehilangan nilainya.

Penulis: @endykurniawan – Trainer, coach dan penulis bidang Bisnis, Investasi dan Keuangan. Pendiri dan pemilik @salma_dinar distributor emas logam mulia nasional

Related Posts

Leave a Reply