Percaya Allah SWT

Tempat itu tandus kering, tak ada manusia di sekitarnya. Tak ada air. Tak ada tanaman. Tak ada apa-apa. Dan di situlah mereka berhenti. Dia berhenti, menurunkan istrinya beserta seorang bayi mungil dalam gendongannya.

“Di sinikah engkau akan meninggalkan kami?”, akhirnya muncullah pertanyaan ini dari sang istri.

Yang ditanya tak menjawab. Hingga pertanyaan itu terucap kedua kalinya, Ia pun tetap diam dalam hening.

“Apakah ini perintah dari Allah?”, hingga akhirnya pertanyaannya berubah.

Dan sang lelaki sholeh itu pun mengiyakan. Sang istri berhenti bertanya, di dalam hatinya hilang segala resah. Jika ini memang ini perintah Allah, maka tak ada keraguan dalam hatinya. Sebab dia
percaya, suaminya seorang utusan Allah, tak mungkin Allah mencelakakan utusanNya.

“Allah tak akan membiarkan kita..”, gumamnya yakin. Dan membiarkan suaminya kembali ke negeri asalnya.

Saat kemudian mulai kehausan karena perbekalan menipis, Hajar pergi ke atas bukit Shafa berusaha mencari air. Tak menemukan apapun di sana, dia berlari ke bukit Marwa. Begitu berulang terus hingga tujuh kali, dan ketika dia mulai kelelahan, terdengar suara gemercik air dari arah tempat ia meninggalkan bayinya.

“Zam-zam!”, Kumpulkan! maka sejak itu mata air yang atas kehendak Allah muncul dari tempat kaki Ismail menghentak-hentak dikenal dengan Zamzam.

***
Sudah menjadi ketentuan Allah bahwa Hajar dan bayi mungilnya itu ditinggalkan tak jauh dari Baitullah yang telah dibangun oleh Nabi Adam as. lebih dari 3900 tahun sebelumnya. Namun demikian, saat
Ibrahim membawa mereka ke sana, tempat itu memang sunyi sepi dan hanya berupa dataran tandus gersang.

Sebagian riwayat lain ada pula yang mengatakan bahwa Baitullah pertama kali dibangun oleh malaikat Jibril jauh sebelum Adam diturunkan ke bumi. Akan tetapi dataran tersebut mengalami banjir besar, sehingga posisi Baitullah adalah gundukan atau bukit kecil yang tidak terjangkau banjir.

Maka saat Hajar yang hanya tinggal berdua bersama bayi mungilnya lalu menemukan mata air Zamzam, dia mendengar orang mengatakan padanya,”Janganlah enkau khawatir tersia-sia, sebab di sini ada rumah
Allah yang dibangun anak ini dan ayahnya. Dan bahwa Allah tak menyia-nyiakan penduduknya.”

Tak berapa lama kemudian, datanglah Kabilah Jurhum yang bermigrasi dari Yaman. Mereka minta ijin pada Hajar untuk bermukim di sana. Tentu saja, Hajar menerimanya dengan gembira, sebab dengan begitu ia tak lagi sendiri di lembah yang asing lagi kerontang itu. Mereka membangun rumah-rumah. Maka Ismail pun dibesarkan di tengah lingkungan bangsa Arab, dan menua sebagai nenek moyang Arab Al-Musta’ribah.

Begitulah, hingga pada 1892 SM Ismail bersama ayahnya membangun Ka’bah. Hingga kini, tiga ribu tahun lebih kemudian, antara Shafa dan Marwa telah berubah jauh dari sebuah lembah kering nan panas, menjadi bangunan megah berlantai marmer bertingkat dua. Setiap tahunnya, jutaan manusia berlari kecil di antaranya mengenang perjuangan seorang Bunda yang percaya penuh pada Tuhannya.

Percaya akan Allah, cuma itu saja yang harus disemayamkan dalam hati manusia. Percaya bahwa tidak ada yang terjadi tanpa sepengetahuan Dia, tanpa seijinNya, tanpa skenarioNya. Percaya penuh bahwa Tuhannya membuat ketentuan atas makhlukNya, dan tak akan meninggalkan makhlukNya itu terlantar.

*penulis: Sari Kusuma
*referensi: Atlas Sejarah Nabi dan Rasul, Sami bin Abdullah bin Ahmad Al-Maghluts. Penerbit: Kaysa Media.

Related Articles

Latest Articles