Zombie Konsumerism dan Mengurangi Ketergantungan

SuaraJakarta.co – Apa itu Zombie? Zombie berasal dari bahasa Afrika “nzambi”, kata dalam bahasa Kongo, berarti arwah orang mati. Afrika adalah tempat asal mula zombifikasi. Pembuatan zombie dilakukan seorang Bokor (dukun) atau yang lebih dikenal dengan sebutan Voodoo di Amerika Latin.

Zombie ini bukanlah makhluk yang sudah mati lalu dibangkitkan kembali selayaknya diketahui “korban” film-film populer Hollywood kebanyakan. Makhluk satu ini awalnya manusia biasa yang sehat wal afiat. Lalu dijampi-jampi Bokor hingga koma. Bokor memiliki ramuan yang cukup unik untuk membuat zombie. Ramuan yang dibuatnya terdiri dari campuran katak (bufo) dan ikan puffer (ikan fugo) yang digiling halus menjadi bubuk. Ramuan ini diberikan Bokor kepada korban hingga akhirnya korban terlihat seperti mati dengan nafas dan detak jantung yang lemah. Sehingga orang-orang yakin bahwa manusia ini benar-benar mati.

Lalu, korban zombifikasi ini dikubur dengan keyakinan orang-orang bahwa manusia ini telah mati. Tetapi, hanya Bokorlah yang tahu bahwa manusia ini tidak benar-benar mati. Setelah korban dikubur, selang waktu yang tidak lama, si Bokor menggali kuburannya kembali.

Bokor biasanya memberi ramuan lagi kepada si korban yang digali dari kuburan agar kembali segar bugar. Zombie ini seperti manusia biasa. Manusia yang bernafas, makan dan minum (tetapi seadanya), tetapi zombie ini tidak berbicara dan berpikir selayaknya manusia yang normal. Tujuan Bokor membuat zombie untuk dijual kepada para pemilik perkebunan dan para tuan tanah, lalu dipekerjakan dengan kejam tanpa menerima upah.

Zombie yang telah diulas di atas yang, tak dapat berpikir dan berbicara, hanya bisa menerima atau mematuhi perintah para tuannya. Inilah zombie yang sebenarnya, manusia yang telah diracuni lalu dijual. Betapa ngerinya para Bokor Afrika dan para tuan tanah (feodal) pada saat itu. Itulah asal usul zombie, bukannya hasil film fiksi polesan Hollywood.

Zombie di atas sangat mengerikan. Prikemanusiaannya hilang atas ulah Bokor dan pemilik perkebunan. Ternyata masih ada lagi zombie yang sangat-sangat jauh mengerikan daripada zombie buatan Bokor Afrika. Zombie ini yang kita sebut “zombie konsumerisme”.

Zombie yang satu ini hidupnya bukan diperkebunan lalu dipekerjakan. Dan bukan zombie yang hidup di Afrika dan Amerika latin nan jauh di sana. Zombie ini hidup di tanah Nusantara, tepatnya di negeri ibu pertiwi yang, kekayaan sumber daya alamnya berlimpah ruah: darat maupun lautan. Zombie konsumerisme ini hidup di era globalisasi. Zombie ini ini tak diracuni seperti zombienya para Bokor yang diperjualbelikan. Zombie yang satu ini dapat berpikir dan berbicara bahkan bisa pergi kemana pun sesuka hatinya tanpa pengawasan para Bokor-bokor Afrika.
Zombie ini juga tak dikubur lalu dibangkitkan kembali. Ia menerima upah walau dipekerjakan. Yang lebih ngeri lagi, zombie jenis ini bisa mencerca, memaki dan bertindak semaunya. Tetapi, zombie konsumerism ini tidaklah ‘lebih mulia’ dari pada zombie buatan Bokor.

Mereka adalah korban para pemilik modal dari yang asing hingga domestik dan biasanya berkeliaran di mall-mall, dan pusat perbelanjaan. Mereka hidup di bawah alam sadarnya, yang menurutnya hidup ini benar apa adanya lalu menerima begitu saja. Zombie Konsumerisme ini biasanya hidup dengan gaya ala Eropa maupun Amerika. Mereka diracuni hidupnya dengan brand-brand Asing, bukannya dengan racun katak dan ikan puffer. Menurutnya, ketika mengenakan brand impor merasa hidupnya sudah modern dan segaul-gaulnya. Zombie yang satu ini diisi dari berbagai kalangan. Mulai dari yang muda sampai om-om dan tante-tante yang terang mentereng penampilannya.

Zombie ini bisanya sangat individualistik, acuh sesama bangsanya, walaupun tak semua begitu. Cenderung mementingkan diri sendiri dengan tujuan memperkaya secara materil sejadi-jadinya dan masa bodoh dengan nasib negeri tempat mereka tinggal.

Sedikit contoh, zombie-zombie macam ini diisi kebanyakan dari kelas menegah ngehe yang, hidup di negara berkembang ini yang tak sedikit masalah pergumulan elit politik, kasus pelanggaran HAM, Korupsi Kolusi dan Nepotisme (KKN). Tetapi mereka pun rindu akan suatu perubahan di negeri ini. Mereka merindukan perubahan tetapi acuh dengan persoalan negeri ini. Seakan-akan permasalahan negeri ini bisa terselesaikan dengan para pemimpin-pemimpin negara tanpa adanya peran masyarakat.

Padahal, yang harus kita sadari dahulu, baik atau buruknya sebuah negara itu tergantung juga dengan baik buruknya masyarakat suatu negara atau kesadaran warga negara dengan persoalan kondisi negaranya.

Republik Indonesia ini yang kaya raya alamnya tetapi katanya tak mampu mengelolanya, sampai-sampai negara ini diperkosa dengan aseng-aseng dan asing (kapitalis) dari berbagai sektor manapun yang telah dikuasainya. Pun akhirnya negara ini beserta masyarakatnya bergantung kepadanya.

Bagi penulis, dengan kondisi negara yang carut marut, kita memang tak bisa terlepas begitu saja dari sistem kapitalistik. Akan tetapi bukannya tak ada alternatif untuk terlepas dari ketergantungan. Asalkan para zombie konsumerisme ini sedikit mengurangi sifat konsumtifnya. Agar dikit demi sedikit aseng dan asing (kapitalis) angkat kaki perlahan-lahan dari bumi pertiwi.

Kita bisa mengurangi ketergantungan kita mulai dari makanan, karena makanan sebuah alternatif yang paling rasional dan gampang dicari yang asli buatan lokal. Seperti yang sama-sama kita ketahui dalam perhitungan ekonomi, semakin sedikit permintaan pasar semakin sedikit produksifitas. Kita bisa memulai perlahan-lahan dari mengurangi ketergantungan makanan-makanan kapitalistik dan akhirnya mereka dikit demi sedikit angkat kaki dari republik yang selalu diperkosanya ini.


Penulis: Ahmad Haidir Ali, Mahasiswa Hubungan Internasional – FISIP Universitas Prof.Dr.Moestopo (BERAGAMA) Jakarta dan Pegiat LiNTAS (Lingkar Studi Tangerang Selatan)

Related Articles

Latest Articles