SuaraJakarta.co | Media Ibukota Indonesia

Ketahanan Pangan sebagai “Senjata” Menghadapi MEA Tahun ini

suara-jakarta-Ketahanan-Pangan-indonesia-sawah-padi

Seorang petani sedang memanen padi. (Foto: Fajrul Islam/SuaraJakarta)

suara-jakarta-Ketahanan-Pangan-indonesia-sawah-padi

Seorang pekerja wanita sedang memanen padi. (Foto: Fajrul Islam/SuaraJakarta)

Bangsa Indonesia, yang notabene merupakan Bangsa dengan iklim tropis dan berada pada jalur khatulistiwa memiliki potensi pretanian yang luar biasa. Terlebih Bangsa Indonesia merupakan negara kepulauan dengan lebih dari lima bleas ribu pulau di dalamnya. Poteni inilah yang selama ini tidak dioptimalkan oleh pemerintah sebagai pemangku kebijakan.

Fakta yang terjadi saat ini malah menunjukkan hal yang sebaliknya. Dari data Badan Pusat Statistik, tercatat bahwa terjadi kenaikan jumlah impor produk-produk pertanian lebih dari empat kali lipat sepanjang 2003 hingga 2014. “Pada 2003 impor produk pertanian kita di angka US$3,34 miliar dan selama sepuluh tahun terjadi peningkatan empat kali lipat menjadi US$14,9 miliar pada tahun lalu,” tukas Deputi Bidang Statistik Produksi BPS Adi Lumaksono, dalam Sosialisasi Hasil Sensus Pertanian 2013 di Swiss-Bell Hotel, Jakarta, Selasa (12/8/2014).

Beberapa penyebab yang membuat kondisi ‘miris’ ini terjadi adalah karena jumlah lahan pertanian yang semakin sempit karena terjadi pembangunan yang masif di hamper semua wilayah di Indonesia. Hal ini membuat sektor pertanian semakin tergusur dan harus menelan ‘pil pahit’ yang disebut impor. Selain itu, harga komoditas local kita masih terlalu tinggi jika dibandingkan dengan produk impor karena subsidi yang diberikan pemerintah untuk sektor pertanian ini belum menjadi prioritas dan jumlahnya terbatas. Jelas hal ini membuat pasar lebih memilih komoditas impor yang lebih murah meski kualitasnya jauh di bawah produk pertanian lokal.

BACA JUGA  Tantangan Kemandirian Industri Baja

Jika permasalahan-permasalahan ini tidak diselesaikan segera, maka pertanian Indonesia akan semakin terpuruk dan menjadi ‘mangsa’ bagi bangsa lain setelah program Masyarakat Ekonomi ASEAN resmi diberlakukan kemarin. Kemudahan akses dan rendahnya biaya masuk ke negara-negara lain termasuk Indonesia akan menjadi celah bagi negara-negara lain menguasai industri pertanian di Indonesia. Harus ada langkah yang cepat dan efektif dari pemerintah agar kemungkinan-kemungkinan yang akan sangat merugikan bangsa Indonesia ini tidak terjadi.

Pemerintah sebaiknya memperketat prosedur dan izin mendirikan bangunan bagi perusahaan atau pihak-pihak lain yang mengganggu keberlangsungan pertanian Indonesia. Harus ada pembatasan-pembatasan pembangunan agar jumlah lahan tidak semakin berkurang dan tergusur oleh bangunan-bangunan komersial. Selain itu, subsidi yang diberikan pemerintah kepada para petani lokal harus ditingkatkan, agar tidak hanya kuantitas produk pertanian lokal yang bertambah, tetapi juga kualitas dan harga dari komoditas ini bisa bersaing dengan produk impor.

Dan yang terpenting dari semua itu adalah kesadaran dari diri kita pribadi untuk lebih memilih produk dari petani-petani lokal kita agar ancaman masuknya produk-produk asing bisa hilang dengan sendirinya karena tidak mendapatkan pasar di negeri ini.

Penulis: Akhmad Saifuddin, Mahasiswa Institut Teknologi Bandung

Related Posts

Leave a Reply