Indonesia dan Masyarakat Ekonomi ASEAN 2015

suara-jakarta-kampung-kreatif-bandung

Terlepas dari segala jenis teori, terlepas dari segala jenis buku, artikel ini menceritakan perbandingan saya mengenai posisi Indonesia dengan Singapura, Vietnam, Kamboja, Thailand hingga Malaysia yang saya kunjungi di sepanjang tahun 2014.

Indonesia, negeri gemah ripah loh jinawi, bukanlah sebuah angan-angan. ungkapan tersebut memang benar adanya untuk segera kita capai. masalahnya, sudah sampai manakah kita dalam langkah pencapaian tersebut? Mari kita bandingkan beberapa sektor penting yang menyangkut persiapan bangsa ini dalam menghadapi persaingan di MEA (Masyarakat Ekonomi ASEAN) yang akan dimulai di tahun 2015 besok!

Transportasi

Beberapa waktu lalu saya berbincang dengan rekan yang sedang studi mengenai Tata Kota di ITB mengenai transportasi yang ideal. Transportasi ideal adalah transportasi yang terintegrasi, ujar rekan saya. Artinya, mulai dari Pelabuhan atau Bandara, transportasi publik harus mampu diteruskan dari tingkat tertinggi yakni antar negara hingga antar distrik. Nah, ‘diteruskan’ di sini tentunya menyangkut beberapa indikator mulai dari ongkos, keamanan, kejelasan, kenyamanan hingga tingkat pelayanannya.

Lalu, di manakah posisi Indonesia? Ternyata, posisi Indonesia tak cukup bagus jika kita melihat bagian ‘gerbang’ sebuah negara yakni Bandar Udara. Dari beberapa indokator tersebut, Bandara Changi di Singapura menempati posisi puncak! Kenapa? Changi jauh lebih bersih, cocok untuk berbagai kalangan mulai dari pejabat dunia hingga pelancong paling kere sekalipun akan merasa nyaman di sana. Mengapa? Lantainya yang sebagian besari diselimuti karpet tebal menjadi pemicunya. bahkan saya pun merasa nyaman-nyaman saja tidur di atas karpet bandara ketika pesawat kepulangan saya baru akan berangkat esok hari setelah kedatangan saya. selain itu, layanan bus gratis yang bisa dinikmati siapa saja untuk mengitari kawasan Singapura, menjadi pemicu penting pula selain taman-taman bandara dan fasilitas lain yang sangat mewah dan terbuka. Posisi kedua direbut oleh Malaysia yang berhasil membuat saya terkejut karena memiliki pengumuman waktu sholat lima kali sehari di dalam Bandara! Selain itu, transportasinya juga cukup terintegrasi karena selain LRT yang akan siap mengantar kita ke pusat kota, ada pula bus-bus yang siap langsung mengantar kita ke tempat wisata! lengkap pokoknya! Selain itu, terminal LRT dan monorel sangat nyaman dan bersih serta terdapat informasi yang cukup jelas sehingga tak mungkin rasanya tersesat jika bertanya kepada petugas terminal. Untuk posisi ketiga, tampaknya Suvarnabhumi di Thailand dan Soekarno Hatta agak bersaing di posisi ketiga, Pasalnya, dari segi Interior Bandara Suvarnabhumi lebih memukau dan kental akan ‘Thailand’-nya dibandinkan dengan Soekarno-Hatta yang ‘rada tanggung’ mencerminkan negara besar Indonesia.

Pariwisata

Bicara soal pariwisata, tampaknya ada persaingan ketat antara Vietnam dan Malaysia cukup sengit. Mengapa? Di Vietnam, kios-kios agen perjalanan pariwisata berjejer banyak sekali. mulai dari yang hanya dalam kota – yang menurut saya kurang wah hingga ke pelosok negerinya pun disediakan. Vietnam sepertinya cukup bagus dalam membuat pemasaran bagi negaranya. Posisinya yang strategis antara Kamboja, Thailand, Malaysia dan China pun menjadi sangat menguntungkan karena banyak turis yang merasa ‘sekalian mampir’ ke negara Komunis ini. Di Malaysia pun tak kalah hebat. Bus dua tingkat gratis bernama GOKL yang menyediakan perjalanan keliling ibukota negara persemakmuran Inggris ini sangat menarik! Belum lagi, kota yang lebih bersih, banyak peta di tiap sisi kota serta masyarakat yang lebih ‘melek’ akan bahasa Inggris pun menjadi keunggulan tersendiri bagi negeri persemakmuran Inggris ini.

Di posisi selanjutnya, ada Singapura yang ‘begitu doang’ namun sangat hebat dalam menciptakan branding negaranya sebagai kota masa depan. Indonesia sendiri? Hmm sebenarnya Indonesia sangat kaya dan beragam. bahkan dari segala sektor pariwisata, Indonesia yang paling beragam diantara negara lain di Asia Tenggara bahkan mungkin di dunia. Namun sayangnya, faktor ketersebaran informasi, branding pariwisata, infrastruktur, kecakapan berbahasa Inggris masyarakatnya, penjagaan kawasan wisata, tata kota hingga kebersihan dan transportasi masih menjadi PR besar untuk negara ini. Coba bayangkan, jika ada turis yang datang ke Bandung dan ingin ke Tangkuban Parahu atau Kawah Putih, mereka harus naik angkot yang sempit dan tarifnya tak jelas itu, berapa kali oper dari bandara?

Pendidikan

Beruntung, Indonesia tak selamanya berada di posisi nomor tiga atau lima di segala sektor. dalam hal pendidikan, rupanya Indonesia cukup baik. eksistensi dan kemajuan ITB, UI dan UGM membuat indikator pendidikan Indonesia ‘sedikit’ lebih baik dibandingkan dengan beberapa negara di Asia Tenggara, namun masih jauh di bawah Singapura. Tapi tenang, pemerintah Indonesia memiliki beasiswa yang cukup atau mungkin lebih besar dalam hal pendidikan diantara negara-negara lain di Asia Tenggara. Coba cek, dari BOS, Bidikmisi, LPDP dan Dikti yang sangat besar. Oleh karenanya, masih ada harapan besar bagi Indonesia untuk bisa lebih bersaing dari segi pendidikan guna menghadapi MEA 2015. Tetapi rupanya bangsa ini tak bisa melaju dengan kecepatan normal meskipun memiliki segala fasilitas di atas. Negara tetangga yakni Malaysia harus terus diperhatikan karena dalam hal publikasi karya ilmiah, penemuan, implementasi pendidikan dan sebagainya, warga Malaysia rupanya lebih unggul dibandingkan dengan Indonesia.

Sosial

Dalam hal sosial, bangsa kita memang sudah terkenal sebagai bangsa yang ramah dan suka bersosialisasi. karena semangat gotong-royong, musyawarah dan kekeluargaanlah yang sebenarnya membuat Indonesia tetap menjadi bangsa yang besar dan nomor satu dalam hal ini dibandingkan dengan beberapa negara di Asia Tenggara tersebut. Di posisi selanjutnya, menyusul Malaysia yang memang merupakan ‘saudara’ jauh Indonesia yang agak mirip tipikalnya.Di posisi berikutnya, Vietnam pun mengikuti. Meskipun hampir seperti Kamboja yang memiliki tingkat kriminalitas dan kerawanan yang cukup tinggi, jiwa sosialisasi Vietnam rupanya lebih terasa dibandingkan dengan Singapura yang agaknya maju karena infrastruktur dan senyum bayaran.

Dari pemaparan di atas dapat ditarik sebuah kesimpulan sederhana: Indonesia masih punya harapan. Lantasm siapakah yang memegang harapan tersebut? Pemerintah? Rakyat? Pemuda? Sumberdaya? Jawabannya adalah semua komponen tersebut yang harus saling dukung dan tak mudah menyalahkan serta menjatuhkan satu sama lain. sudah bukan zamannya lagi saling serang dan menjatuhkan di dalam kandang padahal ada pesaing-pesaing besar di luar kandang yang bisa mengancam kemakmuran bersama. Oleh kareanya, Yuk Bergerak! 🙂

Penulis: Angga Fauzan, Graphic Designer, Event Organizer, Writter

Leave a Reply