Site icon SuaraJakarta.co

Menyingkap Kiprah Turki dalam Sejarah Indonesia

File written by Adobe Photoshop¨ 4.0

SuaraJakarta.co, JAKARTA – Apa yang Anda asosiasikan ketika disebut negeri Turki? Rempah? Karpet? Kue Baklava? Kebab? Meski lebih dikenal melalui budaya, agama serta makanan khasnya, kiprah Benua Rum atau Ruhum, demikian Turki disebut berabad lalu di Indonesia, sebenarnya sangat panjang di bidang politik dan militer pada abad 16 hingga 19. Budaya tradisional & relijius Turki dikenal oleh masyarakat Indonesia dalam aliran tasawufnya yang muncul dalam tarian Sufi berpusing ala Rumi. Demikian juga, yang paling terkenal adalah kekhasan makanan kebab Turki. Yang beranjak ramai, atraksi ice cream Turki yang menarik perhatian penyuka kuliner Indonesia. Dan juga Yogurt, yang berasal dari kata asli Turki yakni yogurt, telah akrab dengan penikmat makanan tanah air.

Ternyata, sejak abad 16 secara politik Nusantara telah memiliki hubungan dengan khilafah Islam yang berpusat di Turki. Pada fase bani Umayyah, pengakuan dan interaksi kerajaan-kerajaan Hindu-Budha, yang sejaman, pun telah terjadi. Setelah dinasti berganti, hubungan lebih erat tentu terjadi dengan kesultanan Aceh, misalnya ketika perwakilan kesultanan Aceh mengirim utusan ke pusat kekhilafahan Turki untuk membina hubungan diplomatik dan mendapatkan perlindungan dari kapal Portugis.

Pada tahap berikutnya, kesultanan Turki yang membangkitkan Pan Islamisme hingga jauh ke kesultanan Asia Tenggara bahkan mengirimkan bantuan insinyur perang, desainer senjata serta tentara untuk membantu perjuangan raja-raja Islam bertahan dari pernjajahan, atau invasi ke wilayah sekitarnya. Hingga di Nusantara, pengaruh Turki begitu kuat dan menancap.

Turki sendiri, muncul di abad ini sebagai wakil dari optimisme baru negara lapis ke-2 yang tadinya sakit-sakitan kemudian muncul jadi kekuatan baru di Eropa dan memainkan peran penting di berbagai belahan dunia, terutama di Timur Tengah yang penuh konflik. Turki menjadi pemain ekonomi yang paling disegani belakangan ini dengan melihat ukuran negara, tenaga kerja dan daya saing teknologinya. Secara politik, Turki juga jadi negeri yang makin demokratis & terbuka setelah dikuasai sistem sekuler militeristik yang dilahirkan Attaturk sejak tahun 1924.

Dalam tahap menguatnya ekonomi dan peran politik serta militer Turki di kawasan, baik Eropa, Asia dan Timur Tengah (posisi Turki berada di tengah pergulatan ketiga wilayah tersebut), spirit Turki menyambangi banyak negara dalam bentuk perluasan pengaruh budaya, ekspansi bisnis khususnya fashion, konstruksi dan makanan serta kerjasama politik. Di Indonesia, pengaruh Turki sangat terasa di bidang tren mode dan kuliner. Ini menarik untuk kita kupas lebih lanjut dalam beberapa tulisan berikutnya (bersambung)

Penulis: @endykurniawan 

Exit mobile version