Site icon SuaraJakarta.co

Menyaksikan Indonesia Hancur secara Perlahan dengan Kebijakan Pekan Kondom Nasional

Beberapa waktu belakangan kita disibukkan dengan berita yang menyedihkan, yakni bahwa pemerintah melalui Kementerian Kesehatan akan mengadakan apa yang disebut Pekan Kondom Nasional. Menyedihkan, karena secara langsung kegiatan ini menyakiti nilai-nilai luhur yang dipegang bangsa Indonesia sejak dulu, yakni nilai-nilai tentang etika berinteraksi dengan sesama.

Niat awal dari Kementerian Kesehatan sebenarnya baik. Melalui Ibu Menteri Kesehatan RI, Nafsiah Mboi, Kementerian Kesehatan bermaksud untuk mengurangi angka infeksi HIV/AIDS di Indonesia. Namun, langkah yang dipilih ternyata salah besar. Kebijakan membagikan kondom secara gratis untuk mengatasi HIV/AIDS ini nyata-nyata ditolak secara masif oleh seluruh elemen masyarakat Indonesia.

Pembagian kondom secara gratis kepada masyarakat oleh Kementerian Kesehatan menunjukkan bahwa Pemerintah menganggap seluruh elemen masyarakat Indonesia secara umum melakukan kegiatan seks secara bebas. Mengapa? Karena pembagiannya dilakukan secara bebas dan tanpa melalui studi yang dapat dipertanggungjawabkan. Dan ini berarti, mulai dari seluruh pejabat tinggi negara, para pelaku pendidikan, hingga masyarakat umum melakukannya.

Pun jika kebijakan ini memang tepat, mengapa Ibu Menteri Kesehatan RI tidak memulainya dari lingkungan terdekatnya dahulu, dari keluarganya sendiri misalnya. Atau jika tidak, mulai dari seluruh menteri di Kabinet Indonesia Bersatu II, kalangan Kementerian Kesehatan dan tenaga medis di seluruh Indonesia. Karena suatu aturan akan mampu berjalan lebih efektif di masyarakat apabila dari pemimpinnya sudah melakukan hal tersebut. Mengapa hal ini tidak dilakukan?

Menurut hemat saya, hal di atas tidak dilakukan karena ada kemungkinan pihak pengusul kebijakan (Ibu Menteri Kesehatan RI) sendiri merasa bahwa kebijakan itu pasti menuai penolakan. Tidak perlu jauh-jauh ke kalangan menteri dan Kementerian Kesehatan RI, jika beliau (Ibu Menteri Kesehatan RI) masih punya hati, beliau tentu tak akan sampai hati memberikan kondom kepada keluarganya sendiri. Karena memang hati nurani kita masing-masing pasti menolak dan sangat tidak menginginkan anggota keluarga kita melakukan hal yang demikian. Jadi, jika dari kita sendiri saja sudah tidak menginginkan itu terjadi, mengapa kebijakan ini masih terus digulirkan?

Yang pasti, sekalipun kebijakan ini tidak dilakukan secara penuh, pemberitaan mengenai Pekan Kondom Nasional ini telah secara nyata merusak moral generasi muda Indonesia. Dengan terjadinya degradasi moral di kalangan pemuda Indonesia, tentu pihak yang diuntungkan adalah negara lain yang tidak ingin Indonesia mengalami kemajuan. Bung Karno, presiden pertama RI, sangat yakin bahwa pemudalah yang kelak akan membawa perubahan besar bagi Indonesia seperti tergambar dalam pernyataannya, “Berikan aku sepuluh pemuda dan akan aku guncangkan dunia.” Untuk itu, mari sama-sama kita lindungi diri dan keluarga kita dari pengaruh negatif kebijakan Pekan Kondom Nasional ini.

 Penulis:  Sabilil Akbar Husniaputra, Mahasiswa Teknik Sipil ITB Angkatan 2010

Exit mobile version