Site icon SuaraJakarta.co

Media Sosial VS Media Mainstream

Media Sosial VS Media Mainstream

Media Sosial VS Media Mainstream

SuaraJakarta.co, JAKARTA – Media sosial adalah sebuah media online, dengan para penggunanya bisa dengan mudah berpartisipasi, berbagi, dan menciptakan isi meliputi blog, jejaring sosial, wiki, forum dan dunia virtual. Blog, jejaring sosial dan wiki merupakan bentuk media sosial yang paling umum digunakan oleh masyarakat di seluruh dunia.

Media sosial mulai semarak di Indonesia sejak tahun 2002 saat salah satu media sosial yang terkenal saat itu, Friendster mulai digunakan oleh pengguna internet pada umumnya. Friendster mulai merajai dunia maya. Namun, pengguna friendster saat itu masih bersifat ekslusif. Artinya, hanya sedikit yang mampu mengoperasikan Personal Computer (PC) dan menggunakan internet. Kemudian, pada tahun 2004 muncul media sosial yang sangat fenomenal, yaitu Facebook. Kepemilikan dari Mark Zuckenberg ini baru digunakan di Indonesia di tahun 2006 dan langsung mengalahkan pengguna Friendster. Dengan fitur yang lebih baik, serta fasilitas yang berbeda dibandingkan Friendster membuat pamor Facebook meroket. Twitter pun ikut menjadi kontestan media sosial yang ada di Indonesia. Dengan istilah-istilah yang berbeda seperti mention, retweet, direct message, dll, serta tingkat keamanan akun privasi yang lebih baik dibandingkan dengan Facebook membuat Twitter memiliki peminat yang tak kalah banyak. Sehingga, seringkali orang yang berpengaruh dan terkenal lebih memilih menggunakan Twitter sebagai sarana bagi mereka untuk berinteraksi dengan orang yang lain tanpa khawatir akun privasinya terbongkar.

Seiring waktu, semakin banyak pengguna dari berbagai media sosial membuat media sosial sendiri menjadi sarana bagi setiap individu mengatakan berbagai hal dan melaksanakan kepentingannya masing-masing. Media sosial yang sarat kepentingan itu menjadi suatu kekuatan baru yang menandingi media-media mainstream (media cetak dan televisi). Maka mulailah bermunculan akun-akun baik anonim maupun tidak yang ikut menghiasi panggung opini masyarakat. Entah mereka bersikap netral terhadap suatu peristiwa, atau memiliki sikap yang lain. Seringkali akun-akun di media sosial itu mengabarkan suatu peristiwa yang terjadi secara riil dan terpecaya. Karena, bisa jadi saat itu merekalah yang mengalaminya. Atau mereka mendapatkan informasi dari teman, saudara, atau yang lainnya yang mengalami suatu peristiwa untuk diberitakan. Sehingga, tingkat validitas berita itu menjadi lebih akurat.

Dan tak luput juga dari pandangan kita bahwa banyak sekali berita yang ternyata lebih akurat daripada berita yang beredar di media mainstream. Masih ingatkan peristiwa di Mesir ketika Pemerintahan yang sah yang dipimpin oleh Presiden Mohammad Mursi di kudeta oleh Jenderal As-Sisi. Saat itu, seluruh media berita mainstream di Mesir dibatasi konten beritanya dengan mengabarkan peristiwa yang kontras dengan kejadian yang nyata terhadap suasana di Mesir. Namun, masyarakat Mesir memiliki solusi lain. Mereka mengabarkan suasana yang terjadi di Mesir melalui media sosial, baik itu Twitter, Facebook, LinkedIn, Path, Istagram, dll. Sedangkan media mainstream di Mesir saat itu mengatakan hal yang berbeda.

Neta S. Pane, Presidium Indonesia Police Watch (IPW) mengatakan bahwa rata-rata masyarakat di Indonesia saat ini sudah jarang yang melaporkan tindak kejahatan yang mereka alami ke kantor polisi, karena dirasa kurang adanya respon yang positif oleh pihak yang berwenang dan tak jarang kasus yang disodorkan oleh korban kejahatan tidak mengalami progress yang baik. Krisis kepercayaan yang dialami oleh masyarakat saat ini selain karena kurang adanya respon yang positif ialah prosedur pelaporan yang harus dilakukan itu terlalu menyita banyak waktu serta dirasa terlalu berat terutama bagi orang awam yang tingkat pendidikannya rendah.

“Biasanya, orang akan malas dan lebih memilih untuk tidak melanjutkan laporannya ke kepolisian. Mereka lebih memilih membuka akun media sosial dan mengabarkannya disana”, lanjutnya.
Fitur yang mudah diakses oleh banyak orang menjadi keunggulan tersendiri bagi media sosial dalam mengabarkan suatu peristiwa. Walaupun, kita tahu bahwa masih banyak pengguna media sosial yang sarat akan kepentingan-kepentingan dan memungkinkan untuk ‘memelintir’ berita, tapi itu tidak menghilangkan substansi dari media sosial sebagai panduan dan referensi dalam menyampaikan berita. Kita hanya tinggal menelusuri info yang ada dan berkaitan erat antara satu dengan yang lainnya. Tidak seperti media mainstream yang memang kita tahu lebih banyak juga kepentingan-kepentingan didalamnya. Apalagi media swasta yang notabene dimiliki oleh politikus, enterpreuner, dll itu menambah daftar ketidakminatan publik akan berita-berita yang dipostingnya. Hal ini membuat banyak sekali orang yang lebih memilih media sosial sebagai referensi berita-berita yang terjadi baik nasional maupun Internasional. Berikut merupakan data yang dilansir oleh Bemben.com mengenai statistik pengguna sosial media di Indonesia.

Saat ini, pengguna smartphone semakin bertambah seiring berkembangnya teknologi yang semakin canggih. Hal ini berdampak pada kebutuhan masyarakat di Indonesia akan smartphone untuk menunjang aktivitas sehari-hari. Para pemilik media sosial juga ikut serta meramaikan aplikasi yang mereka kelola agar dapat digunakan langsung melalui smartphonenya. Dan Indonesia merupakan pasar yang strategis melihat fakta bahwa masyarakatnya sudah mulai melek akan teknologi.
Melihat dari fakta-fakta tersebut, maka tugas dari kita ialah lebih selektif untuk memilih akun-akun media sosial yang memang benar-benar kredibel dan berintegritas tinggi yang digunakan sebagai acuaan dalam menyerap berita. Jangan kita gunakan akun-akun yang dikelilingi oleh kepentingan beberapa pihak sebagai panduan berita. Karena, nantinya kita akan salah dalam menilai suatu peristiwa dan sifat dari berita itu sangat subjektif. Dengan begitu, berita atau isu yang beredar di masyarakat akan berimbang antara media sosial dan media mainstream.

Penulis: Ahmad Ghiffari Zain, Mahasiswa S1 Fakultas Hukum, Universitas Padjadjaran

Exit mobile version