Site icon SuaraJakarta.co

Faktor Melonjaknya Suara Anies-Sandi

Foto: Pos Kota

Oleh: Pandu Wibowo, Peneliti Sosial Politik CIDES Indonesia & Kandidat Magister Perencanaan dan Kebijakan Publik Universitas Indonesia

Anies Rasyid Baswedan dan Sandiaga Solahudin Uno berhasil melaju ke putaran ke-2 Pilkada DKI Jakarta 2017 secara mengejutkan dengan prolehan suara di angka kisaran 40% dari hasil quick count lembaga-lembaga survey politik. Pasangan nomor 3 yang diusung oleh Partai Keadilan Sejahtera dan Partai Gerakan Indonesia Raya ini berhasil mengalahkan Pasangan nomor 1 Agus Harimurti Yudhoyono dan Silvyana Murni serta menempel ketat pasangan petahana Basuki Cahaya Purnama dan Djarot Hidayat.

Jika kita lihat lolosnya Anies Sandi ke putaran ke 2, kiranya ada 3 faktor utama yang meyebabkan hal itu terjadi.

Pertama, diacipline of planning, targets, and execution. Untuk memenangkan pertarungan di kanca politik, para ilmuan politik sepakat bahwa tuntutan untuk
discipline of planning, targets, and execution sangat dibutuhkan. Hal ini sebenarnya amat sulit dilakukan oleh rata-rata partai politik, karena pendekatan partai politik dengan partai politik lain berdasarkan asas pragmatisme. Namun asas pragmatisme itu tidak berlaku di partai politik yang mengusung Anies Sandi. PKS dan Grindra berhasil solid dalam proses pemenangan.

Kita perlu belajar makna kesabaran dari Anies Sandi dan Tim Kampanyenya. Anies Sandi bersama tim mampu menjaga stamina moral sesuai planning dan targets awal, dan mereka tau kapan waktu harus mengeksekusi amunisi sampai hari pencoblosan tiba. Ibarat lomba lari, mereka bisa mengelola stamina. Tidak langsung mengeluarkan seluruh stamina untuk ada di posisi pertama sementara, tapi tetap terus berlari dengan target kecepatan yang telah direncanakan. Itu kenapa kalau kita lihat disurvey-survey, pada awalnya Anies Sandi ada diperingkat terakhir. Dan posisi itu adalah posisi yang menguji ke-solidan tim yang bekerja di lapangan. Dengan kesabaran dan kedisiplinan inilah, suara dukungan Anies Sandi naik secara stabil, dan beranjak ke peringkat kedua, dan bisa mengimbangi petahana di peringkat pertama. Berbeda halnya dengan Agus Silvy yang berlari cepat di awal dimana semua survey menunjukan elektabilitas Agus Silvi di posisi pertama, namun akhirnya kehabisan stamina menjelang garis finish, sehingga Agus Silvy tak mampu lolos di putaran kedua. Berbeda halnya juga dengan Ahok Djarot yang nyaman dengan suaranya sehingga tak sadar mereka sedang mengalami stagnasi, dan beberapa suaranya pun mulai pindah ke Anies Sandi. Fenomena inilah yang membuktikan bahwa kedisiplinan dari perencanaan, target, dan eksekusi menjadi kunci kesuksesan politik.

Kedua, Kampanye berbasis gerakan. Pemilih Anies Sandi dapat dikategorikan berasal dari pemilih sosiologis, dimana kalangan kelompok islamis, komunitas sosial, dan relawan masyarakat Jakarta. Kunci utama melonjaknya suara Anies Sandi dan Tim adalah mampu menciptakam kampanye berbasis gerakan. Pemilih sosiologis yang ada bukan hanya menyumbangkan suaranya di bilik suara, mamun juga ikut bergerak memobilisasi warga untuk menyumbangkan suaranya di bilik suara. Pada rentang November – Desember, kita mungkin melihat Anies Sandi dan Tim saja yang bergerak kampanye, namum pada rentang Januari-Februari awal, semua pemilih sosiologis bergerak mengampanyekan Anies Sandi.

Faktor-faktor yang menyebabkan pemilih sosiologis bergerak ini karena leadership team pemenangan Anies Sandi dapat menggerakan pemilih sosiologisnya. Faktor kedua karena adanya kesamaan visi dan misi antara pemilih sosiologis ini dengan visi misi Anies Sandi yang menyebabkan lahirnya konstruktivisme politik sepanjang pilkada.

Ketiga, fenomena the silent majority has spoken. Fenomena ini adalah masyarakat Jakarta menginginkan gubernur baru. Fenomena ini juga dibuktikan dari Perolehan suara Ahok Djarot yang tidak mencapai angka 50% lebih. Hampir 60% masyarakat Jakarta menginginkan Ahok Djarot digantikan pada periode kedua kepemimpinannya di Jakarta. Faktor-faktor yang menyebabkan masyarakat Jakarta menginginkan gubernur baru ini antara lain kasus penistaan agama oleh Ahok, pembangunan reklamasi yang menabrak UU, kesenjangan dan ketimpangan sosial ekonomo serta janji-janji yang belum diwujudkan.

Tiga faktor inilah yang kiranya dapat kita lihat dari lolosnya Anies Sandi ke putaran kedua Pilkada DKI Jakarta yang akan diselenggarakan dua bulan kedepan. Jika Anies Sandi dan Tim berhasil mempertahankan kompetensinya dan bisa menarik suara dari Agus Silvy maka dapat dihipotesakan Anies Sandi dapat menjadi gubernur baru Jakarta 2017-2022.

Exit mobile version