Anies Baswedan dan Keadilan Sosial

Oleh : Miko Kamal

(Ketua Senat Mahasiswa Universitas Bung Hatta 1994-1995)

SuaraJakarta.co, JAKARTA – Sebelum ini, saya sempat dua kali bertemu Anies Baswedan. Sudah lama benar. Pertama di Kaliurang Yogyakarta. Sekitar tahun 1992 atau 1993, di acara Pertemuan Nasional Senat Mahasiswa. Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Gajah Mada (BEM UGM) penyelenggaranya. Presiden BEM UGM waktu itu Elan Satriawan. Anies senior Elan, baik di fakultas ekonomi maupun di organisasi kemahasiswaan.

Saya dengar, waktu itu, Anies salah satu tokoh mahasiswa di belakang layar terselenggaranya temu para pentolan mahasiswa se-Indonesia. Pertemuan itu kemudian menjadi salah satu titik tolak gerakan reformasi 98. Kabarnya, beliau juga konseptor lahirnya badan eksekutif mahasiswa yang sekarang eksis. Dulu, zaman saya masih di kampus, senat mahasiswa menjalankan peran eksekutif, serupa BEM sekarang. Peran legislatif dimainkan oleh badan perwakilan mahasiswa.

Saya datang ke acara besar itu dengan Ketua Senat Mahasiswa Universitas Bung Hatta, Ridwan Jamal (Almarhum). Di kegiatan itu saya banyak berkenalan dengan tokoh-tokoh mahasiswa UGM seperti Anies, Elan Satriawan, Iwan Satriawan dan Taufik Rinaldi. Dua nama terakhir berasal dari fakultas hukum. Mungkin karena berasal dari latar yang sama (fakultas hukum), saya kemudian lebih banyak berinteraksi dengan Iwan dan Taufik. Dengan Anies dan Elan tidak.

Tidak hanya dengan aktivis mahasiswa UGM, di pesta besar itu juga saya berkenalan dengan beberapa tokoh-tokoh mahasiswa dari kampus-kampus lainnya di Indonesia. Sayang saya sudah lupa nama-nama mereka dan dimana mereka sekarang.

BACA JUGA  Technology-Based Teaching: 2013 Curriculum for Junior High School in Indonesia

Pertemuan kedua di Bukittinggi. Saya lupa acara apa dan tahun berapa. Yang jelas setelah pertemuan di Kaliurang. Sepertinya tahun 1994. Anies hadir di sebuah acara. Saya dan Almarhum Ridwan Jamal menemuinya. Saya lihat Ridwan berhubungan agak erat dengan Anies. Saya tidak.

Meskipun Anies sempat menuliskan kata pengantar singkat di buku saya yang berjudul “Berkota Berbangsa Bernegara”, saya tidak pernah bertemu langsung dengan beliau setelah dua pertemuan itu. Kata Pengantar Anies itu saya dapatkan lewat ajudan beliau di Pemerintah Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta, semasa beliau jadi Gubernur.

Ahad 4 Desember 2022 merupakan pertemuan ketiga. Saya menunggu Anies bersama ratusan orang perwakilan simpul relawan yang akan mendukung beliau menjadi Presiden. Saya ikut mendengar arahan beliau dengan takzim, sama seperti perwakilan simpul relawan lainnya.

Anies memulai arahannya. Kata Anies, Indonesia merdeka karena peran penting kaum intelektual yang sebagian besar berasal dari ranah Minang. Para kaum intelektual merumuskan tujuan akhir dari kehidupan berbangsa dan bernegara kita: keadilan sosial. Tambah Anies, keadilan sosial hanya bisa dicapai bila ada kemauan dan dorongan dari masyarakat. Anies mengambil keputusan untuk ikut bertarung di arena tarung presiden adalah dalam rangka ikut mempercepat terwujudnya keadilan sosial itu.

BACA JUGA  Saat Anies Salam Komando dengan Bambang Pamungkas

Saya tidak akan menceritakan soal kepiawaian Anies menyusun kata-kata dalam arahannya. Soal ini sudah banyak yang menulisnya. Kemampuan Anies berpidato memang di atas rata-rata. Bahasanya runut dan teratur. Berisi, tidak ada kata percuma yang keluar dari mulutnya.

Saya menangkap satu hal: kegelisahan Anies. Beliau gelisah. Negeri sudah merdeka 77 tahun, tapi hilal keadilan sosial masih juga belum terlihat jelas. Ini sebenarnya bukan hanya kegelisahan Anies. Ini kegelisahan bersama.

Gelisah itu memang pakaian aktivis. Aktivis tidak akan duduk tenang bila cita-cita para pendiri bangsa yang diperjuangkannya belum lagi mewujud nyata. Berjuang dan berjuang terus. Itulah aktivis. Ada aktivis yang berjuang di dalam. Ada juga yang di luar. Keduanya sama baiknya.

Anies termasuk aktivis yang pernah berjuang dari dalam. Jabatan gubernur ibukota baru saja diselesaikannya. Jadi menteri dia juga pernah. Sekarang, skala perjuangannya hendak dilebarkannya.

Anies punya metoda yang cukup jelas mengobati kegelisahannya: gagasan, narasi dan berkarya. Itu sudah dicoba dan dibuktikannya di Jakarta dalam masa 5 tahun pemerintahannya.

Mudah-mudahan Allah izinkan Anies jadi Presiden untuk mengobati kegelisahannya dan kegelisahan kita bersama mewujudkan “Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia”.[*]

Suara Jakarta
Author: Suara Jakarta

Related Articles

Latest Articles