Site icon SuaraJakarta.co

Wakil Ketua DPD RI Minta Masyarakat Tidak Terprovokasi Terkait Pernyataan Ustad Khalid Basamalah

Wakil Ketua DPD RI Sultan Bachtiar Najamudin.

SuaraJakarta.co, Jakarta – Wakil ketua Dewan Perwakilan Daerah (DPD RI) meminta masyarakat Indonesia khususnya para pecinta seni pewayangan untuk tidak terprovokasi dengan pernyataan salah satu Ustad kondang Dr. Khalid Basalamah, Lc. yang menyarankan seorang dalang dan jamaahnya untuk bertaubat.

“Saya kira tidak perlu ada yang merasa dirugikan dengan pernyataan beliau, karena itu merupakan tugas beliau sebagai da’i yang diminta untuk diberikan nasehat. Soal hukum wayang, masih diperdebatkan. Itu wilayah khilafiyah Agama Islam”, jelas Sultan B Najamudin, melalui keterangan resminya pada Sabtu (19/02).

Menurutnya, apa yang disampaikan oleh Ustadz Khalid Basalamah merupakan hasil analisis beliau berdasarkan dalil atau keterangan aturan Islam yang menurut beliau itu benar. Sebagai bangsa kita harus menghormati pendapat beliau.

“Bagi saya tidak ada komentar beliau yang melecehkan. Dan sejak awal beliau sudah men-disclaimer, bahwa jawaban atas pertanyaan jama’ahnya itu tidak bertujuan atau berniat untuk mendiskreditkan pihak manapun, khususnya para pelaku seni pewayangan”, terang Sultan.

“Beliau orang sholeh dan sangat cerdas dalam memahami kebudayaan Indonesia. Silahkan berdebat jika kita memiliki pendapat atau sumber dalil yang berbeda, bukan melaporkannya polisi”, tegas Sultan.

Tindakan saling melaporkan, kata Sultan, adalah ciri ketidakdewasaan mental. Apalagi hanya karena perbedaan pendapat dan ketersinggungan. Jadi makin ke sini jadi bangsa ini terkesan makin kerdil jiwanya

“Suasana yang menggangu keakraban sosial bangsa ini harus kita akhiri. Bangsa ini tidak akan pernah maju dan guyub jika selalu mengedepankan prasangka buruk terhadap perbedaan”, jelas mantan Wakil Gubernur Bengkulu itu.

Lebih lanjut Senator muda asal Bengkulu itu menerangkan bahwa penerimaan terhadap demokrasi harus disertai dengan pembiasaan bangsa ini terhadap perbedaan pendapat dan perbedaan tafsir atau asumsi. Selama tidak mengganggu hak hidup dan kehormatan pribadi orang lain, tentunya tidak perlu kita besar-besarkan.

“Jika ada ustadz lain yang memiliki cara dan orientasi dakwah membudayakan Islam, kenapa kita tidak bisa toleran dengan pendekatan dakwah yang meng-Islamkan budaya bangsa Indonesia yang beragam”, tambah Sultan.[***]

Exit mobile version