Site icon SuaraJakarta.co

Tujuh Kepala Daerah Serukan Tolak Valentine Day

SuaraJakarta.co, JAKARTA – Berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, kali ini keterlibatan dari banyak kepala daerah, baik dari tingkat I (gubernur) maupun dari tingkat II (walikota dan bupati) untuk melarang perayaan Hari Valentine, sangat masif dilakukan.

Melalui surat edaran, para pemimpin yang terpilih melalui proses demokratis tersebut memberitahukan kepada seluruh orang tua/ wali murid untuk dapat mengawasi putra-putirnya agar tidak mengikuti perayaan yang dikenal dengan istilah Hari Kasih Sayang ini.

Menurut penelusuran Suarajakarta.co, setidaknya ada 7 (tujuh) kepala daerah yang sepakat untuk melarang para generasi muda di daerahnya melakukan kegiatan yang tidak bermanfaat di tanggal 14 Februari hari ini. Tujuh kepala daerah tersebut adalah Walikota Depok (Nur Mahmudi Ismail), Walikota Makassar (M. Ramdhan Pomanto), Walikota Padang (Mahyeldi Ansharulloh), Walikota Banda Aceh (Iliza Sa’aduddin), Wakil Walikota Bekasi (Ahmad Syaikhu), Walikota Surabaya (Tri Rismaharini), dan Gubernur Jawa Barat (Ahmad Heryawan).

Melalui Surat Edaran (SE) bernomor 421/1121/436.6.4/2015, Walikota Surabaya Tri Rismaharani meminta kepada segenap Kepala SMP, SMA, SMK, baik negeri maupun swasta, untuk melarang dan mengawasi para anak didiknya untuk mengikuti perayaan valentine.

“Melarang kegiatan siswa untuk merayakan Hari Kasih Sayang / Valentine Day, baik di dalam maupun di luar sekolah; Membuat surat edaran kepada seluruh orang tua/wali murid untuk dapat mengawasi putra-putrinya; Mengingat pentingnya hal sebagaimana dimaksud, dimohon bantuan Saudara untuk menindaklanjuti surat edaran ini”, tegas SE yang ditandangani langsung oleh Kepala Dinas Pendidikan Surabaya, Dr. Ikhsan, S.Psi, MM tersebut per tanggal 12 Februari 2015.

Hal yang sama dilakukan oleh Walikota Ramdhan Pomanto. Menurutnya, Valentine termasuk perbuatan asusila. Sehingga, untuk memastikan bahwa generasi muda nya tidak ikuti perayaan tersebut, Beliau akan menggelar sidak langsung pada tanggal 14 Februari 2015.

Didukung Masyarakat

Kegigihan para pemimpin dalam menyelamatkan moral anak bangsa tersebut, tampaknya didukung oleh masyarakatnya. Mereka menilai bahwa tradisi Valentine adalah meniru tradisi lain di luar Bangsa Indonesia

“Setuju banget! Kita orang Indonesia gitu lho harusnya malu ikut2an melulu. Emang gak punya apa tradisi sendiri, maunya nyontek tradisi orang lain. Mending kalo positif”, tutur pemilik akun Inna A’thona, sebagaimana dikutip dari laman liputan6.com (14/2)

“Setuju nih! Surabaya kotaku masuk (melarang valentine)… Bangga!”, Sambut Azzaam Al-Buchori (13/2).

(ARB)

Exit mobile version