SuaraJakartaCo – Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung resmi memulai pembongkaran tiang monorel mangkrak di Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, Rabu (14/1/2026). Langkah ini disambut lega oleh mantan Gubernur DKI Jakarta Sutiyoso, yang menilai keputusan tersebut menutup bab panjang proyek transportasi yang terbengkalai selama lebih dari dua dekade.
Sutiyoso mengatakan, kepastian pembongkaran menjadi keputusan penting agar ruang kota Jakarta tidak terus dibebani infrastruktur yang tak lagi berfungsi. Menurutnya, sikap tegas Pemprov DKI saat ini menunjukkan arah kebijakan transportasi yang jelas.
“Hari ini jujur saja hati saya lega. Ada keputusan yang tegas dari Pak Gubernur Pramono terhadap persoalan yang sudah terlalu lama menggantung,” kata Sutiyoso di sela peninjauan lokasi pembongkaran.
Ia kemudian mengingat kembali awal perencanaan sistem transportasi massal Jakarta pada masa kepemimpinannya. Sejak 2003, Pemprov DKI mulai menyusun konsep transportasi makro untuk mengurai kemacetan yang semakin parah di ibu kota.
Saat itu, Sutiyoso mengaku melibatkan para pakar transportasi dari berbagai perguruan tinggi. Proses perencanaan dilakukan melalui survei lapangan hingga studi banding ke sejumlah negara, salah satunya Bogota, Kolombia, yang dinilai memiliki karakter lalu lintas dan perkotaan mirip dengan Jakarta.
Berdasarkan kajian tersebut, Pemprov DKI kala itu menetapkan empat moda utama transportasi. Moda berkapasitas besar adalah Mass Rapid Transit (MRT) yang dibangun di bawah tanah. Di atasnya dirancang monorel, sementara di permukaan dikembangkan bus rapid transit (busway) dengan 15 koridor. Selain itu, juga direncanakan moda alternatif berupa waterway.
Seluruh moda tersebut sejak awal dirancang terintegrasi agar masyarakat dapat mengakses transportasi massal dari berbagai titik dengan mudah dan efisien. Namun, dalam perjalanannya, proyek monorel justru terhenti dan menyisakan tiang-tiang beton di sejumlah ruas jalan utama Jakarta.
Pembongkaran tiang monorel mangkrak ini dinilai menjadi momentum penataan ulang wajah kota sekaligus penegasan arah kebijakan transportasi Jakarta ke depan. Pemprov DKI kini memilih fokus pada penguatan MRT, LRT, dan layanan bus yang terintegrasi.
“Jalurnya masing-masing, tapi terintegrasi. Dari titik mana pun masyarakat mau ke mana, pasti dapat transportasi makro tadi,” ujar Sutiyoso.
Pembongkaran ini juga dipandang sebagai upaya menyelesaikan warisan persoalan infrastruktur masa lalu agar tidak terus membebani ruang publik dan tata kota Jakarta.

