Site icon SuaraJakarta.co

Jaman Jokowi, Kita Dagang Enak. Jaman Ahok Digusur Terus

suara-jakarta-Jaman-Jokowi,-Kita-Dagang-Enak.-Jaman-Ahok-Digusur-Terus
Aa Ajang, penjual otak-otak ikan tenggiri di Pasar Baru, Jakarta Pusat. (Foto: Budiman)
SuaraJakarta.co, JAKARTA – Sore itu, Aa Ajang, begitu biasa disebut oleh rekan-rekannya sesama pedagang, masih sibuk menjual dagangannya. Meski ditemani rintikan hujan, bujang kelahiran Garut ini tak surut untuk mencari rezeki halal agar dapur tetap ngebul. Aa Ajang adalah seorang penjual otak-otak ikan tenggiri yang biasa membuka dagangannya di Pasar Baru, mulai dari pukul 12.00 siang hingga pukul 09.00 malam.

“Ya, sebenarnya sih saya bisa mulai jualan lebih pagi. Tapi, kan kita mesti menghormati yang punya toko. Kita baru jualan saat toko udah buka. Dan kita pun baru tutup saat tokonya pun udah tutup. Ya menghormati lah namanya”, tutur Aa bernama asli Imam yang biasa berjualan di depan toko butik di salah satu lapak

Kepada suarajakarta.co, ia menceritakan banyak hal. Terutama, soal perlakuan yang sangat ketat di Pemerintahan Provinsi DKI Jakarta saat ini di kepemimpinan Basuki Tjahja Purnama (Ahok). Menurutnya, dibandingkan di era Jokowi, perlakuan yang diterima dari satpol PP sangatlah ketat dan tidak berpihak kepada rakyat kecil. Bahkan, bujang garut ini pun mengakui, kepemimpinan Jokowi saat menjadi Gubernur DKI, masih lebih baik dibandingkan era Ahok

“Kita mah dagang enakan di era Jokowi. Di jaman Ahok sangat ketat. Bahkan, pas kemarin malam tahun baru, kita ditertibkan. Padahal, gerobak saya pas waktu itu udah dimasukkin ke gang, eh kena sita juga”, Keluhnya kepada suarajakarta.co

Padahal, pria yang mengaku berusia 20 tahunan ini mengaku, tiap minggunya setiap pedagang di Pasar Baru Jakarta ditarik uang keamanan Rp. 3000 dan uang kebersihan Rp. 2.000. Tapi, uang keamanan tersebut, ternyata, hanya untuk membantu para Perlindungan Masyarakat (Linmas) untuk memudahkan persengketaan di persidangan jika terkena penertiban

“Ya uang itu biasanya untuk membantu para Linmas bantuin perkara kami di persidangan. Saya pernah mengurus sendiri ke persidangan, bisa habis sampai Rp. 500.000 hanya untuk bolak-balik sidang. Belum untuk bayar petugas sana-sini. Mau gak mau kami harus pinjem dulu ke banyak orang duitnya”, tambahnya

Aa Ajang mengakui pendapatan bersihnya sehari paling maksimal hanya mencapai Rp. 100.000. Artinya, dengan harga perbungkus otak-otak Rp. 3.500, paling maksimal ia hanya bisa menjual 29 bungkus per hari. Maka, wajar, baginya penertiban yang dilakukan oleh Satpol PP di era Gubernur Ahok saat ini menjadi hal yang sangat memberatkan baginya.

Namun demikian, ia tetap berharap bahwa pedagang kecil seperti dirinya tetap diperhatikan dan jangan sampai diusir. Oleh karena, menurutnya, pedagang-pedagang makanan murah meriah seperti dirinya lah yang menghidupkan Pasar Baru yang telah dibangun sejak tahun 1820 tersebut.

“Sekarang coba perhatikan. Pasar Baru kan rame gara-gara ada pedagang kayak kita. Kalau orang datang ke toko seperti itu kan tidak tiap hari karena uang yang dikeluarkan besar. Gak kayak kita”, harapnya kepada Ahok melalui suarajakarta.co (03/01/2015) (ARB)

Exit mobile version