GELORA, dan Kesima Yasonna

Penulis: Yusuf Maulana, Bidang Literasi & Narasi, DPN Partai GELORA Indonesia

SuaraJakarta.co, OPINI – Momen penyerahan surat keputusan pengesahan Badan Hukum Partai Gelombang Rakyat Indonesia, Selasa 2 Juni, muncul apresiasi atas kinerja dan prospek partai ini oleh Yasonna H Laoly, selaku Menteri Hukum dan HAM ataupun pribadi politikus, dan kolega separtai yang juga gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo. Suatu apresiasi yang sepintas tampak spontan, terutama pada Yasonna. Tepikan dulu bahwa itu bagian dari komunikasi politik untuk sekadar berbasa-basi. Gelora, tukas Yasonna, berisikan para petarung. Suatu pujian yang sepatutnya jadi bahan pemikiran aktivis partai berwarna dominan biru langit ini: sudah seberapa patut menyandang predikat sesuai yang diarahkan pihak luar?

Izinkan saya tidak bicara dalam ruang dan waktu sekarang, namun ke alam bawah sadar pertautan dua orang kader Soekarnoisme itu dengan narasi Gelora. Artinya, spontanitas ataukah basa-basi, semua itu tidak hadir dalam momen kealpaan. Namun, ada suatu ingatan. Tentu saja, uraian di tulisan berikut hanya spekulasi subjektif saya yang kemudian ditarik dengan pembacaan objektif pada catatan sejarah. Poin pentingnya sebenarnya pada soal becermin pada sejarah, yang ini penting bagi aktivis dan—terutama—pengurus Gelora. Jadi, kesima sang Menteri di acara daring penyerahan anggap saja pemanis dalam pentas politik nasional.

Di tengah perpolitikan nasional yang “biasa-biasa”, cetusan dari pendiri Gelora, Anis Matta untuk membawa Indonesia sebagai kekuatan 5 besar dunia sesungguhnya angin segar yang menggerakkan. Bagi kalangan yang pesimis dan sinis dengan melihat kenyataan hari ini negeri kita, narasi Anis Matta itu terdengar sloganistis dan impian kosong belaka. Bagi kalangan yang merindukan perubahan, tidak serta-merta menyambut gema narasi Anis Matta sebagai kesamaan agenda. Masih ada semacam jarak untuk bersama-sama melakukan gerakan serupa walau tanpa harus berkiprah bareng di Gelora.

Narasi “Indonesia menjadi kekuatan 5 besar dunia” dan jarak dengan kenyataan di negeri ini sesungguhnya bisa kita bandingkan dengan situasi yang mendorong dua anak muda yang begitu cinta pada bangsanya dan ingin membawa lari segera dari ketertindasan oleh penjajah. Di bawah umur 30 tahun, Soekarno dan Hatta sudah memimpikan, membayangkan dengan satu skema pikiran bagaimana negerinya ke depan selepas merdeka.

Sebenarnya nama Tan Malala dengan Menuju Merdeka 100% bisa disebutkan juga, namun untuk membatasi uraian di tulisan ini melebar, serta tingkat luasnya pengenalan publik pada Soekarno-Hatta maka nama sosok komunis nan misterius ini terpaksa tidak diperbincangkan.

Yang mereka lakukan adalah membaca situasi geopolitik masa itu. Kekuatan global sedang berancang saling adu kekuatan. Pada 1926-1927, keduanya dalam ruang dan masa berbeda “sepakat”: akan ada perang di kawasan Asia Pasifik. “Sepakat” di sini bukan berarti mereka duduk bareng, menganalisis lalu berkesimpulan sama. Hatta waktu itu tengah menempuh studi di Belanda, seraya mendalami gagasan sosialisme. Adapun Soekarno, sosok yang waktu itu juga bukan kawan apalagi karib, tengah bergelut dalam alam pergerakan di Bandung; juga sebagai mahasiswa.

Akan tetapi, pikiran dan naluri mereka bekerja dan menghasilkan kesimpulan yang sama. Akan ada peperangan besar, dan negerinya bakal kena imbas. Dan dari imbas itulah nantinya harus ada satu perubahan mahapenting yang tidak boleh dilewatkan: kemerdekaan. Maka, kesamaan berikutnya juga, yang lagi-lagi “tanpa janjian”, keduanya menghasilkan presentasi bagaimana memerdekakan negerinya.

Ada dua kata kunci yang membuat keduanya berbeda. “Indonesia” dan “merdeka”. Menjadi aneh bagi banyak anak bangsanya ketika kolonialisme masih mencengkeram tanpa ampun. Apalagi Soekarno ketika itu baru saja divonis bersalah dalam peradilan di Bandung.

Hatta menulis lebih dulu: Ke Arah Indonesia Merdeka, sekitar 20 halaman banyaknya. Waktu itu ia baru saja sampai ke Hindia Belanda. Sjahrir yang memintanya menulis risalah penting dan berani itu. Satu uraian memimpikan negerinya yang sebenarnya asas dan tujuan partainya: Partai Pendidikan Nasional Indonesia atau biasa disingkat PNI Baroe. PNI ini berbeda dengan PNI era Soekarno masih menghirup udara bebas. Gegara penahanan Soekarno itulah, sebagian koleganya memilih membubarkan partai. Satu sikap yang mengecewakan Hatta dan Sjahrir yang akhirnya memisah dengan membentuk partai baru.

Di lain pihak, Soekarno sendiri, tanpa ada motivasi berkait dengan tulisan Hatta, juga menyusul tulisan bernada menantang: Mentjapai Indonesia Merdeka. Di buku Dibawah Bendera Revolusi kita bisa dapati sajian ulang tulisan Soekarno muda ini sebanyak 70-an halaman. Isinya uraian geopolitik, analisis sosio-ekonomi, falsafah sejarah, hingga logika massa aksi mengapa Indonesia niscaya merdeka. Buat saya pribadi, inilah tulisan terbaik dan paling “membakar” secara rasional dari seorang Soekarno.

Dan entah apakah dengan tulisan susulan setelah anggitan karya Hatta bagi PNI Baroe, Soekarno semacam membuat jawaban atas bidasan eks koleganya semasa di PNI lawas itu. Waktu itu Hatta masih di Belanda, dan dia mengamati apa yang terjadi di PNI berikut fenomena naratornya: Soekarno. Di Daulat Ra’jat, media kelompok Hatta-Sjahrir, Hatta ditampilkan membidas Soekarno begini pada 1931, “Soekarno mempunyai kontak yang terlalu sedikit dengan rakyat, dan hanya mengumpulkan tepuk tangan dalam rapat-rapat. Padahal, rakyat harus sepenuhnya diresapi oleh semangat… Dan tidak dapati dicapai dengan agitasi saja.”

Ke Arah Indonesia Merdeka, biasa disingkat KIM, juga punya hal istimewa. Semua anggota PNI Baroe, tulis dedengkot sosialis Indonesia Subadio Sastrosatomo, memiliki KIM. “Dan untuk memperdalam serta memahami isi KIM atas gagasan Sjahrir dibuatlah oleh seksi pendidikan Pimpinan Umum PNI (Baroe) pertanyaan-pertanyaan tertulis bertalian dengan isi KIM.”

“Jumlah pertanyaan-pertanyaan tersebut adalah 150 buah… Setiap pengurus cabang diwajibkan mengajukan pertanyaan-pertanyaan itu kepada para anggota pada tiap-tiap kursus, dan oleh anggota harus dijawab dengan benar,” tambah Subadio dalam buku Mengenang Sjahrir (1980: xix).

Apa hebatnya KIM? Dengan menyaksamai 150 pertanyaan dalam metode ideologisasi, pihak intelijen Hindia Belanda berkesimpulan: Hatta-Sjahrir dengan PNI Baroe jauh lebih berbahaya dibandingkan Soekarno dan Partai Indonesia (Partindo). Isi risalah dan manifesto kelompok Hatta lebih menghunjam dan lugas. Bukan berarti karya Soekarno tidak berbahaya, cuma ideologisasi kelompok PNI Baroe lebih sistematis “memusatkan pemikiran kader,” dalam istilah Subadio.

Baik Ke Arah Indonesia Merdeka maupun Mentjapai Indonesia Merdeka, keduanya jadi sejarah. Sudah lama pikiran besar tidak mengisi dan membimbing masa depan bangsa gugusan kepulauan ini. Sampai kemudian ingatan dua politikus pengusung Soekarnoisme di atas tersentak sadar. Ada narator dan partai yang serupa kurun 1930-an: mengusung pikiran besar dengan terjangan gelombangnya bagi negeri ini.

Dalam konteks disentak kesadaran historis bawah sadar pada romantika karya besar guru partainya, dua politikus dari kalangan nasionalis-sekuler itu sadar. Sadar bahwa ada serupa Soekarno, juga Hatta kalau mereka insyafi, yang membawa pikiran melajukan negeri ini dalam aras momentum kebangkitan menuju satu abad Republik Indonesia.

Bila dulu ada Ke Arah Indonesia Merdeka, dan Mentjapai Indonesia Merdeka, maka mereka menyadari ada sesuatu yang patut disimak dari narasi-narasi bertajuk “Gelombang Ketiga Indonesia”. Tajuk ada, naratornya juga eksis: Anis Matta berikut Gelora. Sebuah fenomena “baru” yang rentan menginterupsi praksis dan perilaku politik di tanah air. Menjadi determinan bahkan kiblat pergerakan perpolitikan hari-hari ke depan. Suatu masa kesempatan terbuka untuk mendaur ulang pikiran besar manusia seperti Hatta dan Soekarno, tentu dalam kemasan zamannya, dalam menyiapkan satu perubahan besar dalam lanskap geopolitik kontemporer. Dan, tentu saja, bagaimana Indonesia terlibat aktif di dalamnya sebagai aktor; bukan objek penindasan sebagaimana masih berlaku hari ini.

Sebuah mimpi, cita-cita, bahkan utopia, itu ada pada Gelora. Naratornya juga ada. Nah, tinggal bagaimana narasi itu—Indonesia menjadi kekuatan 5 besar dunia (walaupun tanpa eksplisit kata “merdeka” tapi implisit memisikan itu)—dipahamkan jadi inspirasi hingga spirit pergerakan berkebangsaan. Dalam bahasa lugas kalangan sosialis: “memusatkan pemikiran kader” ke utopia Indonesia sebagai 5 besar kekuatan dunia. [**]

Leave a Reply