Facebook Didesak Ubah Kebijakan untuk Atasi Penyiksaan Hewan

SuaraJakarta.co, JAKARTA – Setelah diprotes oleh aktivis pemerhati bentuk badan karena memuat emoji “feeling fat”, belum lama ini Facebook kembali diprotes oleh aktivis pemerhati hewan karena kebijakannya yang dianggap membiarkan kekerasan terhadap hewan.

Lewat petisi www.change.org/facebook-hewan hampir 450 ribu orang di seluruh dunia, termasuk Indonesia, mendesak Facebook mengubah Standar Komunitasnya untuk menghentikan postingan yang memicu kekerasan terhadap hewan.

Petisi yang diinisiasi oleh warga Jerman Bettina Bergener tersebut meminta Facebook untuk mencantumkan klausul terkait kekerasan terhadap hewan. Dalam Standar Komunitasnya Facebook diminta tegas menolak konten kekerasan terhadap hewan, sama halnya seperti kekerasan pada manusia.

Bettina mengatakan:

“Dengan mencantumkan klausul tersebut, pengguna dapat secara khusus melaporkan kekerasan terhadap hewan pada halaman tertentu di Facebook. Dengan cara ini, kekerasan terhadap hewan dapat dihapuskan dari Facebook.”

Kampanye global ini didukung oleh aktivis pencinta hewan sedikitnya di 9 negara dan petisinya dibuat dalam bahasa Jerman, Inggris, Prancis, Spanyol, Italia, dan Indonesia. Di Indonesia sendiri, petisi ini juga mendapat dukungan dari para aktivis pemerhati satwa.

Davina Veronica dari Garda Satwa Indonesia mengatakan: “Sebagai salah satu jejaring sosial yang mempunyai jutaan pengguna, semestinya Facebook bisa mengubah standar komunitasnya agar dapat mengakomodir laporan masyarakat tentang kekerasan terhadap hewan. Penyiksaan terhadap hewan, baik domestik maupun liar, tidak bisa dibiarkan begitu saja. ”

Pernyataan senada juga disampaikan oleh Riyanni Djangkaru aktivis pemerhati satwa dan lingkungan: “Senang banget kalau perusahaan besar seperti Facebook menyatakan komitmennya untuk melarang postingan-postingan penyiksaan terhadap hewan.”

Benvika dari Jakarta Animal Aid Network (JAAN) juga mendukung petisi ini dan menyatakan: “Kami meminta pihak pihak pengelola web, blog, dan media sosial termasuk Facebook untuk memblokir jika ada konten-konten kekejaman dan perdagangan ilegal terhadap satwa.”

Dalam petisinya, Bettina mengatakan: “Ada banyak halaman, kelompok, dan event-event di Facebook di mana pelaku kekerasan terhadap hewan memasang foto-foto yang sadis dan kejam terhadap hewan. Foto-foto itu menampilkan hewan ditangkap hidup-hidup, dimasukkan ke dalam stoples, dibakar hidup-hidup atau disiksa secara seksual.”

Leave a Reply