Pesan Gubernur DKI: ASN DKI Jakarta Harus Tangguh! Katakan Pada Semua… Kita Tetap Penuh Komitmen untuk Terus Bekerja Bagi Rakyat Jakarta!

Anies Baswedan dan Ariza Patria - SuaraJakarta.co

SuaraJakarta.co, JAKARTA – Akibat wabah Covid-19, kegiatan perekonomian di Jakarta terhenti. Pendapatan pajak anjlok. APBD turun drastis.

Pemprov DKI terpaksa mengurangi pendapatan pegawainya hingga 50%. Dalam kondisi seperti itu, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan memberikan arahan bagi seluruh jajaran, berikut ini transkripnya.

Assalamu alaikum wr. wb.

Saudara-saudara semua, seluruh jajaran ASN DKI Jakarta yang saya hormati, yang saya banggakan,

Pertama, izinkan kami mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri. Mohon maaf lahir dan batin. Taqaballahu minna wa minkum.

Yang kedua, pesan yang akan disampaikan ini adalah perintah. Harap diperhatikan dan harap dilaksakan. Pesan ini adalah tentang kenyataan, tentang cobaan, dan langkah kita ke depan

Sejak wabah COVID-19 melanda Ibu Kota, perlahan dampaknya mulai kita rasakan. Dan kini, di bulan Mei ini, kita mulai melihat secara nyata dampak ekonomi dari wabah COVID-19 ini. Semula ini adalah krisis kesehatan umum, kini sudah mulai terasa sebagai krisis ekonomi. Dan Jakarta adalah episentrum pertama dan di awal-awal, mayoritas kasus (positif) adalah di Jakarta

Saat ini, Jakarta sudah menunjukkan tanda-tanda wabahnya melandai, tapi masalahnya belum selesai. Dan segala pembatasan, yang selama ini kita lakukan sama-sama, membawa dampak yang amat nyata di kota kita. Kegiatan keagamaan terhenti. Kegiatan sosial terhenti. Kegiatan budaya terhenti. Dan tentu saja, kegiatan perekonomian juga terhenti. Pasar terganggu. Perdagangan terganggu. Perindustrian terganggu. Kegiatan perekonomian informal juga banyak yang terhenti.

Dan kita, di Pemprov DKI Jakarta, juga terkena dampak langsung. Pendapatan pajak turun dari Rp50,17 triliun menjadi Rp22,5 triliun, tinggal 45%. Anggaran kita turun dari Rp87,9 triliun menjadi Rp47,2triliun, tinggal 53%. Belum pernah di dalam sejarah Pemprov DKI Jakarta, kita mengalami penurunan pendapatan sebesar ini, yaitu lebih dari Rp40 triliun.

Konsekuensinya, keputusan relokasi anggaran harus diambil. Tidak ada pilihan! Dalam kondisi pendapatan yang berkurang separuh, maka kita harus lakukan relokasi, kita harus melakukan pengurangan anggaran di berbagai sektor belanja langsung, belanja tidak langsung. Semua mengalami pemangkasan dan pemangkasannya drastis.

Di balik pemangkasan itu semua, program-program yang terkait dengan bantuan rakyat prasejahtera dipertahankan. Anggaran sebesar Rp4,8 triliun untuk rakyat prasejahtera tidak diubah. Biaya menangani bencana yang semula hanya Rp188 miliar, sekarang menjadi Rp5 triliun. Ini adalah untuk penanganan kesehatan, dampak sosial ekonomi, bantuan-bantuan sosial yang terkait dengan COVID-19

Tapi semua tenaga kerja yang mengabdi untuk Pemprov DKI Jakarta termasuk 120 ribu tenaga PJLP, kontraknya tidak dihentikan. Pemprov DKI Jakarta tetap menjaga perannya sebagai pemberi lapangan kerja bagi rakyat di Jakarta.

Relokasi juga terjadi pada belanja pegawai. Anggaran belanja pegawai berkurang sebesar Rp4,3 triliun, dimana TKD (Tunjangan Kinerja Daerah) ASN Pemprov DKI Jakarta besarannya 25% direlokasi untuk mengamankan anggaran bansos, dan 25% berikutnya ditunda pemberiannya karena dialihkan untuk darurat penanganan COVID-19. Gaji ASN tidak berubah, tetap sama.

Dalam pembahasan saat itu, sempat ada usulan agar bansos seperti KJP lalu bantuan-bantuan lain itu dipangkas 50%. Tujuannya agar TKD bagi semua ASN bisa dipertahankan. Nilai pemotongan bansos itu kira-kira Rp2 triliun, sama dengan 25% anggaran TKD.

Tapi saya perlu tegaskan bahwa mereka yang prasejahtera itu, yang jumlahnya 1,2 juta orang, yang menerima bansos kita adalah orang-orang yang saat ini mengalami kesulitan ekonomi. Pilihannya adalah uang rakyat sebesar Rp2 triliun itu diterima oleh 63 ribu ASN atau diterima 1,2 juta rakyat prasejahtera di Jakarta. Kita pilih untuk memberikan Rp2 triliun itu bagi rakyat prasejahtera di Jakarta.

Dan tahun ini tidak ada lagi pembangunan baru, tidak ada lagi belanja modal kecuali terkait penanggulangan banjir, dan tidak ada belanja yang tidak prioritas. Pemangkasan dilakukan di semua sektor. Semua difokuskan pada penanganan COVID-19, dampak turunannya, dan saya garisbawahi ini: semua usaha untuk mengembalikan kesejahteraan rakyat Jakarta.

Saudara-saudara para ASN Pemprov DKI Jakarta yang saya hormati, yang saya banggakan,

Saya ingin ingatkan kepada kita semua bahwa kita adalah penyelenggara negara. Tugas kita adalah melindungi rakyat. Keselamatan rakyat adalah prioritas nomor satu. Dalam kondisi apapun, sikap kita harus jelas. Menomorsatukan rakyat daripada diri sendiri, apalagi dalam kondisi penuh cobaan seperti sekarang ini.

Saya perintahkan kepada semua ASN di Pemprov DKI Jakarta untuk bersikap sebagai penyelenggara negara yang ksatria, yang tangguh, yang tabah, yang tak lunglai menghadapi cobaan. Kita berada di garis terdepan. Kita harus beri contoh sikap tangguh.

Perhatikan ini semua! Jangan ada yang lemah, lembek, mudah mengeluh menghadapi situasi seperti ini! Kita memang kena dampak, tapi lihatlah rakyat Jakarta! Lihat rakyat Indonesia! Lihat rakyat di berbagai belahan dunia!

Di kota kita ini, ratusan saudara sebangsa kehilangan nyawanya akibat COVID-19. Ratusan kolega kita, para tenaga medis, terpapar COVID-19 dan sebagian meninggal. Ribuan dimakamkan dengan prosedur COVID-19. Ribuan keluarga di Jakarta ini kehilangan kerabatnya dan mereka tidak bisa mengantarkan ke pemakaman orang-orang tercinta itu. Ribuan orang kehilangan pendapatan secara total, ada yang kehilangan pekerjaan, dan tidak sedikit yang usahanya berhenti sama sekali

Jadi bukan hanya kita di Pemprov DKI Jakarta yang terdampak, semua terdampak! Tapi harus kita ingat bahwa semua yang terdampak itu, mereka bukanlah penyelanggara negara. Berbeda dengan kita!

Kita di jajaran Pemprov DKI Jakarta, saya, pak Wagub, dan saudara-saudara semua adalah penyelenggara negara. Tunjukkan bahwa pikiran, ucapan, tindakan kita jauh lebih besar dari sekadar urusan gaji, tunjangan, atau urusan fasilitas lain. Kita harus ingat, di sisi depan baju seragam kita di sini ada simbol abdi negara. Ini bukan sekadar ornamen seragam. Ini, simbol ini adalah wujud sikap kita.

Karena itu, saya ulangi sekali lagi. ASN DKI Jakarta harus tangguh! Katakan pada semua: “Ya, anggaran kita turun. Ya, pendapatan kita berkurang. Ya, TKD kita berkurang. Tapi kita tetap penuh komitmen untuk terus bekerja bagi rakyat Jakarta!” Jangan pernah luntur! Jangan goyah! Jangan lesu! Tunjukkan di depan keluarga, di depan kolega, di depan warga semua: dalam kondisi penuh cobaan seperti ini, ASN DKI Jakarta tangguh

Saudara-saudara harus ingat, kita ditakdirkan untuk menjadi angkatan yang berjuang menghadapi wabah dan semua dampaknya. Jalani tanggung jawab sejarah ini dengan rasa bangga, dengan penuh semangat, dan penuh rasa tanggung jawab!

Perintahnya jelas: jangan tengok kanan kiri! Jangan membanding-bandingkan pekerjaan! Jangan membanding-bandingkan tunjangan! Jangan lepas tangan, tapi ambil tanggung jawab! Jangan loyo, tapi tegak bersemangat!

Di depan kita ada bencana kesehatan. Di depan kita ada krisis ekonomi. Fokus kita adalah menghadapi itu semua, menyelesaikan semua dampaknya. Kita bertanggung jawab untuk mengembalikan. Kita bertanggung jawab untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat. Dan semua ASN DKI Jakarta harus fokus pada tugasnya, harus fokus pada masa depan, harus fokus pada rakyat Jakarta!

Perintah untuk semuanya. Segera bergerak di bidang masing-masing untuk mengembalikan kondisi kesejahteraan rakyat! Ini fokus kita! Itu tanggung jawab kita! Itu sejarah yang kita torehkan untuk Ibu Kota dan itulah sikap Pemprov DKI Jakarta.

Harap dicamkan dan dilaksanakan dengan sebaik-baiknya!

Semoga Allah SWT terus menunjukkan jalan-jalan terbaik yang memudahkan kita, memudahkan rakyat Jakarta, dan seluruh bangsa Indonesia untuk kembali berkarya meraih keadilan dan kesejahteraan. Dan semoga Allah SWT merahmati kota Jakarta dan semoga Allah SWT melindungi kita semua.

Wassalamu’alaikum wr. wb.

Leave a Reply