Menag tekankan penguatan spiritualitas dan jejaring alumni santri

SuaraJakartaCo, Makassar — Menteri Agama Nasaruddin Umar menekankan pentingnya penguatan spiritualitas dan solidaritas di kalangan santri dan alumni pesantren sebagai fondasi kepemimpinan di berbagai sektor.

Pesan tersebut disampaikan Menag saat menghadiri Milad ke-20 Pondok Pesantren Madinatunnajah Is’ad (PPMI) Sholawatul Is’ad di Makassar, Senin (9/2).

Menag menyampaikan bahwa santri saat ini telah banyak berkiprah di berbagai bidang strategis, mulai dari militer, diplomasi hingga dunia akademik. Namun, menurut dia, keberhasilan tersebut harus tetap disertai dengan konsistensi menjaga kedekatan spiritual kepada Tuhan.

“Saya mohon anak-anak, di manapun kalian berada, jaga kepribadian santrinya. Jangan meninggalkan ibadah sunat,” ujar Nasaruddin.

Ia menilai ibadah sunnah seperti salat malam dan puasa memiliki peran penting dalam membentuk keteguhan karakter dan ketajaman batin seorang pemimpin. Spiritualitas yang kuat, kata dia, menjadi landasan dalam mengambil keputusan yang bijak.

Menag juga mengingatkan agar kesuksesan duniawi tidak mengikis kebiasaan ibadah yang telah dibentuk selama masa pendidikan di pesantren. Ia mendorong para santri menempatkan amalan sunnah sebagai prioritas dalam kehidupan sehari-hari.

“Jangan melalaikan ibadah sunat, apakah itu salat, apakah itu puasa, apakah itu ibadah-ibadah lain,” katanya.

Selain aspek spiritual, Nasaruddin menekankan pentingnya membangun jaringan yang solid antaralumni pesantren. Ia meminta para santri tidak berjalan sendiri-sendiri, tetapi mengedepankan kolaborasi untuk kemaslahatan bersama.

Menurut Menag, sinergi antaralumni akan memperkuat kontribusi pesantren dalam pembangunan masyarakat dan bangsa.

“Persatuan itu akan melahirkan kekuatan. Di mana ada sinergi, di situ ada energi,” ujarnya.

Dalam kesempatan tersebut, Menag juga mengajak santri untuk terus meningkatkan kualitas diri, tidak hanya menguasai pengetahuan, tetapi juga menginternalisasi nilai-nilai keilmuan dalam kehidupan sehari-hari.

Ia menilai kedekatan dengan nilai spiritual menjadi bekal agar santri mampu berkiprah di berbagai bidang tanpa kehilangan identitas sebagai insan pesantren.

Related Articles

Latest Articles