SuaraJakartaCo, BOGOR — Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar memimpin pembacaan doa pada Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Pemerintah Pusat dan Daerah Tahun 2026 yang digelar di Sentul International Convention Center (SICC), Bogor, Jawa Barat, Senin (2/2/2026). Doa tersebut menjadi penanda dimulainya forum strategis lintas pemerintahan yang mempertemukan ribuan pengambil kebijakan dari seluruh Indonesia.
Rakornas 2026 menjadi ajang penyelarasan arah pembangunan nasional antara pemerintah pusat dan daerah. Sebanyak 4.011 pejabat negara tercatat hadir, mulai dari jajaran Menteri Kabinet Merah Putih, wakil menteri, pimpinan lembaga negara, hingga kepala daerah tingkat provinsi dan kabupaten/kota dari berbagai wilayah.
Kementerian Agama hadir dengan formasi lengkap. Selain Menag dan Wakil Menteri Agama (Wamenag) Romo H.R. Muhammad Syafi’i, turut mendampingi jajaran pejabat eselon I, termasuk Sekretaris Jenderal, Inspektur Jenderal, serta para Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat lintas agama dan Pendidikan Islam. Kehadiran ini mencerminkan kesiapan Kemenag mengawal agenda kebangsaan yang inklusif dan berorientasi pada pelayanan seluruh umat beragama.
Suasana ruang utama SICC berubah khidmat ketika Menag didaulat memimpin doa. Di hadapan ribuan pemimpin bangsa, Nasaruddin Umar memanjatkan harapan agar Rakornas tidak hanya menjadi forum koordinasi administratif, tetapi juga ruang penguatan nilai moral, integritas, dan tanggung jawab kenegaraan.
Dalam doanya, Menag menekankan pentingnya sinergi antarpemimpin serta internalisasi nilai-nilai kebangsaan dalam setiap kebijakan publik. Ia berharap Rakornas mampu melahirkan gagasan-gagasan cerdas dan kreatif yang menjadi arah terbaik dalam menjalankan tugas kenegaraan.
“Kiranya rapat koordinasi ini juga bisa melahirkan pikiran-pikiran cerdas, kreatif, dan sekaligus menjadi direction terbaik di dalam menjalankan tugas-tugas kenegaraan kami,” ucap Menag dalam doa yang dipanjatkan.
Menag juga memohon agar Indonesia senantiasa dijauhkan dari fitnah, bencana, dan perpecahan yang berpotensi melemahkan sendi-sendi persatuan nasional. Ia menegaskan bahwa kekuatan bangsa tidak hanya bertumpu pada kebijakan dan regulasi, tetapi juga pada kesadaran moral para pemimpinnya.
Lebih lanjut, Menag mendoakan agar Indonesia terus meningkatkan martabat dan citra positif di mata dunia sebagai bangsa yang berdaulat, damai, dan berkeadilan. Doa tersebut menjadi refleksi spiritual atas amanah besar yang diemban para penyelenggara negara.
Pembacaan doa Menag pada Rakornas 2026 menegaskan dimensi spiritual dalam tata kelola pemerintahan, sekaligus menjadi pengingat bahwa pembangunan nasional memerlukan fondasi etika, persatuan, dan integritas yang kokoh.

