Menag Dorong Kolaborasi Pendidikan dan Industri Perkuat Ekonomi Syariah

SuaraJakartaCo, JAKARTA— Menteri Agama Nasaruddin Umar mendorong kolaborasi yang lebih erat antara dunia pendidikan dan industri dalam pengembangan ekonomi syariah nasional. Penguatan sumber daya manusia (SDM) dinilai menjadi kunci agar Indonesia mampu bersaing dan mewujudkan ambisi sebagai pusat ekonomi syariah dunia.

Hal itu disampaikan Nasaruddin dalam acara Top Economic Special Islamic Economic yang digelar Metro TV, Selasa (3/3/2026). Dalam forum tersebut, ia hadir bersama Wakil Ketua Umum Ikatan Alumni Ekonomi Syariah Indonesia (IAEI) Irfan Syauqi Beik.

Menurut Nasaruddin, Indonesia memiliki modal demografis yang kuat sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia. Namun, potensi tersebut harus ditopang oleh kualitas SDM ekonomi syariah yang memadai.

“Kita punya potensi besar. Tetapi pengembangan SDM ekonomi syariah masih perlu diperkuat, terutama dalam integrasi keilmuan,” ujarnya.

Ia menekankan pentingnya pembaruan kurikulum pendidikan ekonomi syariah dengan mengintegrasikan fikih muamalah dan ekonomi konvensional. Lulusan ekonomi syariah, kata dia, harus memahami terminologi dan praktik keuangan modern tanpa meninggalkan prinsip-prinsip syariah.

Nasaruddin yang juga menjabat Ketua IAEI menilai perlu ada sintesis antara keilmuan di Fakultas Syariah dan Fakultas Ekonomi umum. Dengan demikian, lulusan ekonomi syariah tidak hanya kuat secara normatif, tetapi juga adaptif terhadap kebutuhan industri modern.

“Ekonomi syariah menekankan keberlanjutan dan moralitas. Model ini relevan untuk menjawab krisis ekonomi global,” katanya.

Sementara itu, Irfan Syauqi Beik menyoroti tiga sektor utama dalam pengembangan SDM ekonomi syariah, yakni industri halal, keuangan syariah, serta sektor sosial seperti zakat dan wakaf. Ia menilai penguatan pendidikan tidak boleh hanya terfokus pada sektor keuangan, tetapi juga mendorong pengembangan industri halal sebagai motor pertumbuhan baru.

“Sektor makanan dan minuman halal, pariwisata ramah Muslim, hingga fesyen Islami membutuhkan SDM yang kompeten dan terampil,” ujar Irfan.

Ia juga menyinggung masih adanya kesenjangan kompetensi antara lulusan ekonomi syariah dan ekonomi konvensional, khususnya di sektor keuangan. Karena itu, peningkatan kualitas kurikulum, sertifikasi, serta riset yang aplikatif menjadi kebutuhan mendesak.

Kedua narasumber sepakat bahwa kolaborasi pemerintah, perguruan tinggi, dan industri—yang dikenal sebagai model triple helix—harus diperkuat untuk membangun ekosistem ekonomi syariah yang berkelanjutan.

Pemerintah, menurut mereka, telah menunjukkan dukungan melalui berbagai regulasi yang mengakomodasi pengembangan ekonomi syariah. Namun, peran perguruan tinggi tetap krusial dalam mencetak SDM yang mampu menjawab tantangan dan memanfaatkan peluang ekonomi syariah di tingkat global.

Related Articles

Latest Articles