Site icon SuaraJakarta.co

Lebaran dan Mudik Konon Berasal dari Budaya Hindu

SuaraJakarta.co, JAKARTA – Taqobbalallohu minna wa minkum. Taqobbal Yaa Kariim. Minal Aidin wal Faidzin. Mohon Maaf Lahir dan Batin. Selamat merayakan Hari Raya Idul Fitri 1438 H.

Seluruh umat Islam di dunia merayakannya, setelah berpuasa satu bulan penuh lamanya. Momen ini seakan tidak lagi menjadi ritual agama tapi juga menjadi ritual budaya (tradisi), dimana banyak sanak keluarga saling berkunjung meminta maaf bahkan hingga harus melintasi jarak (mudik).

Tapi, tahukah anda darimana Tradisi Lebaran dan Mudik itu pertama kali muncul?

Menurut analisis singkat dari Tirto.id (5/6/2016), istilah Lebaran sendiri setidaknya sudah dipakai sejak zaman kolonial. Tak sekadar istilah, lebaran juga hari penting di masa itu. Meski kekuasaan di Indonesia kala itu dikuasai non-muslim, pemerintah dan perusahaan swasta pada zaman kolonial berupaya menghormati mayoritas dengan meliburkan diri di hari Lebaran.

Menurut MA Salmun, dalam artikelnya di majalah Sunda tahun 1954, istilah lebaran berasal dari tradisi Hindu. Artinya kira-kira selesai, sudah atau habis. Menurut orang Jawa sendiri, kata lebaran berasal dari kata wes bar, yang artinya sudah selesai.

Koran zaman Belanda De Prenger Bode pun meliburkan diri dan tidak terbit pada 14 Januari 1902, ketika Lebaran. Begitu pun kantor pemerintah seperti Sekretariat Umum juga meliburkan diri keesokan harinya, seperti diumumkan Bataviasche Niuewsblad edisi 14 September 1918.

“Di Indonesia, lebaran selalu dikaitakan dengan mudik. Mudik sebenarnya bukanlah bagian dari ritual Islam. Di Timur Tengah dan beberapa negara lain perayaan Idul Fitri dirayakan secara biasa dan tentunya tidak ada tradisi mudik,” jelas artikel tersebut.

Belum ada penulisan sejarah lengkap tentang asal muasal mudik di kala Lebaran. Gus Miftah, dalam sebuah khutbah Idul Fitri di Masjid Uswatun Hasanah di Jalan Kaliurang, Yogyakarta, pernah berusaha merekonstruksi sejarah mudik lebaran.

Dia menceritakan, setelah melakukan perjalanan panjang, bangsawan Jawa bernama Amangkurat memerintahkan pengikutnya untuk pulang sebentar ke rumah mereka masing-masing. Perintah mudik ini pun akhirnya jadi tradisi.

Mudik konon berasal dari bahasa Jawa ngoko: mulih dilik (pulang sebentar). Dalam tradisi ini seorang perantau bersama keluarganya akan pulang ke rumah orangtua atau leluhurnya. Menurut Jacob Sumardjo, tradisi mudik ini sudah ada sebelum zaman Majapahit, yang dilakukan menjelang musim panen. Setelah masuknya Islam dan orang-orang Indonesia mulai merayakan lebaran Idul Fitri, mudik dilakukan menjelang lebaran.

“Andaikata mudik berasal dari bahasa Arab: dho’a: hilang, mudli: orang yang menghilangkan, orang yang kehilangan. Menjelang lebaran orang berduyun-duyun pulang ke perantauan ke kampungnya masing-masing karena kehilangan, sehingga mudik untuk menemukan kembali,” tulis Emha Ainun Najib dalam Jejak Tinju Pak Kyai (2008).

Meskipun bukan berasal dari Tradisi Islam, namun budaya Mudik dan Lebaran secara muamalah tidak bertentangan dengan ajaran Islam. Tentu, tradisi akulturasi nan baik ini dapat dilestarikan demi menjaga khazanah budaya Indonesia.

Exit mobile version