Site icon SuaraJakarta.co

Kata Siapa Anak Petani Tak Bisa Jadi Dokter

Marlina Yanti, Mahasiswa Kedokteran Universitas Hasanuddin Makassar.

Marlina Yanti, Mahasiswa Kedokteran Universitas Hasanuddin Makassar. (Foto: Dokpri)

SuaraJakarta.co, MAKASAR – Jurusan kedokteran merupakan jurusan favorit, karena jaminan hampir pasti mengenai pekerjaan masa depan setelah setelah lulus kuliah dan memperoleh izin praktek. Jurusan kedokteran menjadi rebutan di universitas manapun walau terkenal mahal. Biaya kuliah dan praktikum yang sangat mahal membuat tidak semua orang bisa kuliah di jurusan kedokteran, walaupun seseorang itu pintar. Maka tak pelak pola pikir sebagian mahasiswa kedokteran adalah materialistis, akibat biaya mahal sehingga mau tak mau harus lulus cepat. Namun tak semua mahasiswa kedokteran berfikir seperti itu, salah satunya Marlina Yanti. Perempuan kelahiran Dusun Rinjani, Desa Sumber Agung, Kecamatan Kalaena, Kabupaten Luwu Timur 20 tahun silam ini berbeda dan unik.

“Sukses bukan hanya milik mereka orang orang yang mampu tapi juga milik orang yang mau,” ujar Marlina.

Marlina lahir dari keluarga sederhana. Ayahnya Surahman seorang petani, sedangkan ibunya Dumianti merupakan ibu rumah tangga. Semenjak kecil ia memiliki kepercayaan dan keyakinan bahwa jalan kesuksesan itu bukan berdasarkan apa yang dimiliki namun karena usaha dan kemauan.

Perjuangan Marlina dan kekuarga tak sia-sia, kini anak kedua dari 4 bersaudara ini merupakan mahasiswa jurusan kedokteran Universitas Hasanuddin Makassar. Marlina bisa mengeyam pendidikan dokter yang terkenal mahal itu ia setelah mendapatkan beasiswa. Beastudi Etos-PTTEP merupakan beasiswa yang ia dapatkan. Beasiswa tersebut adalah beasiswa kerjasama antara PTTEP dengan Beastudi Indonesia Dompet Dhuafa yang memberikan pembiayaan full hingga lulus. PTTEP sendiri merupakan perusahaan eksplorasi dan produksi minyak asal Thailand. PTTEP merupakan mitra strategis Dompet Dhuafa dalam melahirkan sumber daya manusia berkualitas yang berasal dari masyarakat majinal. Saat ini, PTTEP sudah memberikan beasiswa kepada 25 mahasiswa dari 8 perguruan tinggi terbaik di Indonesia, yang salah satu penerimanya adalah Marlina.

Beasiswa yang diperoleh Marlina membuat ia merasa bahwa kelak pekerjaan sebagai dokter merupakan pengabdian kepada masyarakat. Sebagai dokter kelak penggemar buku character building Erie Sudewo ini tidak akan memungut biaya yang memberatkan pasien mengingat saat ini ia bisa merasakan pendidikan dokter karena dana masyarakat juga.

Sebagai mahasiswa kedokteran aktivitas Marlina tidak melulu bolak-balik ke kampus lalu asrama. Buktinya Medical Muslim Family (salah satu organisasi di jurusan kedokteran) memberikan kepercayaan kepada Marlina sebagai pengurus divisi kemuslimahan periode 2015-2016, dalam kegiatan sosial masyarakat sebagai bentuk pengabdian keilmuan semenjak dini. Marlina aktif sebagai penggerak komunitas 1000 Hari Awal Kehidupan. Berbagai kegiatan diluar aktivitas kuliah membuat Marlina peka terhadap lingkungan sekitar, peduli dan mau berbagi.

Exit mobile version