Site icon SuaraJakarta.co

Insiden Tolikara, DPR RI Minta Pemerintah Waspada Adanya Potensi Perang Proxy

SuaraJakarta.co, JAKARTA – Anggota Legislatif dari Komisi I DPR RI, Dr. Sukamta, mendesak pemerintah mewaspadai kemungkinan terjadinya potensi Perang Proxy (Proxy War) menyusul konflik yang terjadi di Tolikara, Papua, atas insiden pembubaran dan pembakaran rumah ibadah saat warga Muslim melaksanakan shalat idul fithri, jumat (17/8) kemarin.

Selain itu, dirinya juga meminta Pemerintah untuk mengambil kebijakan yang tidak parsial dan tidak reaktif.

Menurut Sukamta, di Papua, potensi konflik berkelindan antara suku, marga, budaya, ekonomi dan politik.

“Semua menjadi satu, hybrid. Bisa jadi ada pihak-pihak tertentu yang mengambil manfaat dari situasi ini untuk memecah belah bangsa,” ujarnya saat dihubungi via telepon, Minggu (19/7)

Oleh karena itu, masih menurut Sukamta, pemerintah perlu mengambil kebijakan yang komprehensif dan tidak reaktif. Pemerintah juga diminta memerhatikan kompleksitas kondisi Papua secara cermat dan serius.

“Jangan malah malah mengeluarkan statement yang justru menyebabkan konflik semakin menjadi,” tutur doktor lulusan Birmingham University, Inggris, ini.

Politisi asal Yogyakarta ini menjelaskan, bahwa sebetulnya secara umum warga di sana sudah hidup dalam bingkai perdamaian dan toleransi. Warga Muslim dan Kristen hidup berdampingan. Meskipun begitu, perang antar suku memang menjadi budaya. Dan resolusi damai biasanya dilakukan dengan pesta bakar batu antarsuku yang berkonflik. Di sana juga sepertinya ada kecemburuan sosial. Belum lagi soal politik yang dinamis. Juga soal ancaman separatisme yang didalangi OPM baik dari dalam maupun luar negeri. Semuanya menjadi permasalahan yang harus ditangani dalam bentuk kebijakan pemerintah.

Sukamta melihat, sebelumnya, pemerintahan Presiden Jokowi mengambil beberapa kebijakan terkait Papua ini yang sedikit banyak memengaruhi dinamika politik di Papua, seperti, polemik Rancangan Undang-Undang Otsus Plus, kebijakan pelonggaran izin terhadap pers asing masuk ke Papua, termasuk kebijakan pemberian Grasi kepada tahanan-tahanan OPM.

“Sedikit banyak hal-hal tersebut memengaruhi dinamika politik di Papua,” ujar Sukamta.

Mantan Wakil Ketua DPRD Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) ini berharap, kasus Tolikara jangan sampai memunculkan kembali konflik antara aparat keamanan dengan warga sipil.

“Jangan sampai ada yang memancing di air keruh dalam kasus ini, baik dari asing maupun dalam negeri. Jangan sampai kasus ini mempermulus jalan separatisme,” Sukamta mengingatkan.

Selain itu, tuturnya, ia mendorong pemerintah dengan aparat keamanannya segera mengambil tindakan penegakan hukum. “Segera usut tuntas siapa aktor-aktor dan dalang insiden Tolikara, lalu proses secara hukum agar memberi efek jera. Saya kira ini cara efektif meredam kemungkinan Perang Proxy,” pungkas Sukamta.

Exit mobile version