SuaraJakarta..Co– Nama Heni Purnamasari, atau yang lebih dikenal publik sebagai Heni Sagara, kembali menjadi perbincangan di dunia maya. Apoteker sekaligus pengusaha di industri perawatan kulit ini akhirnya memberikan klarifikasi terkait dua isu yang menyeret namanya: tuduhan keterlibatan dalam rekaman suara sidang Nikita Mirzani dan label “mafia skincare” yang pernah disematkan kepadanya.
Heni, yang berasal dari Sumedang, Jawa Barat, bukan nama asing di dunia kecantikan. Ia membangun pabrik skincare yang seluruh produknya telah mengantongi izin BPOM dan memenuhi standar keamanan ketat. Perusahaan yang dirintisnya selama bertahun-tahun menjadi sumber penghidupan bagi ribuan pekerja.
Namun, kesuksesan tersebut sempat terguncang tahun lalu, ketika namanya disebut dalam sebuah podcast yang menampilkan dr. Oky Pratama dan dr. Richard Lee. Tanpa bukti, istilah “mafia skincare” yang dilontarkan mengarah ke Heni, memicu stigma negatif di media sosial hingga dugaan upaya pemerasan.
“Semua kerja keras saya nyaris hancur akibat stigma yang ditempelkan begitu saja tanpa dasar,” ujar Heni.
Belum selesai menghadapi tuduhan tersebut, Heni kembali terseret dalam isu baru. Dalam persidangan antara Nikita Mirzani dan Reza Gladys, beredar rekaman suara yang diklaim sebagai percakapan pengaturan aparat. Tanpa konfirmasi, sejumlah pihak langsung menuding bahwa suara tersebut milik Heni.
Serangan komentar negatif pun membanjiri media sosialnya. Hingga akhirnya, publik dikejutkan oleh unggahan Lucinta Luna yang memposting rekaman tersebut dan menyebut bahwa suara itu bukan milik Heni.
Pernyataan ini diperkuat oleh repost dari Nikita Mirzani, yang juga memastikan bahwa rekaman itu sama sekali tidak terkait dengannya.
“Fakta ini membuktikan tuduhan terhadap saya salah alamat. Semoga ini menjadi pelajaran untuk selalu tabayyun sebelum menyebarkan kabar,” tegas Heni.
Perjalanan bisnis Heni juga diwarnai berbagai serangan digital. Pada Oktober 2024, ia menjadi korban hoaks kematian yang membuat keluarganya panik. Kemudian, pada April 2025, situs resmi Marwah—brand yang terkait usahanya—dibajak dan dipalsukan. Tak berhenti di situ, ia juga mengalami doxing, di mana data pribadinya disebarkan ke publik, mengancam keamanan dirinya dan keluarganya.
Meski menghadapi banyak tantangan, Heni menegaskan bahwa seluruh operasional bisnisnya dijalankan sesuai aturan.
“Saya bukan mafia skincare. Saya apoteker yang bekerja mengikuti aturan. Nama saya dicatut dan reputasi saya diserang, tapi saya percaya kebenaran akan menemukan jalannya,” katanya.
Kuasa hukum Heni memastikan akan menempuh jalur hukum terhadap pihak-pihak yang menyebarkan fitnah, hoaks, melakukan peretasan, maupun doxing. Heni juga mengajak masyarakat untuk lebih bijak dalam menyikapi informasi yang beredar di media sosial.
> “Di era banjir informasi, kabar bohong bisa lebih cepat menyebar daripada klarifikasi. Prinsip tabayyun bukan hanya ajaran agama, tapi pedoman moral agar kita tidak ikut merusak nama baik orang yang tak bersalah,” tutupnya.

