Site icon SuaraJakarta.co

Punya Kamar Kosong? Ambil Pendapatan Tambahan Dengan Bisnis Bareng OK OCE Homestay

SuaraJakarta.co, JAKARTA – Warga Jakarta kini disuguhkan peluang bisnis yang sangat bagus. Bisnis kamar kosong. Maksudnya? Baca terus yah gaes!

Usaha Penginapan Rakyat (UPR), pondok wisata, ataupun homestay ini merupakan usaha mikro kecil (UMK) sejalan dengan konsep Community Based Tourism (CBT).

UPR mampu diandalkan karena memainkan peran penting dalam pembangunan perdesaan. Konsep UPR bisa diintegrasikan dengan segala komponen utama desa wisata seperti: wisata budaya dan wisata sejarah, wisata agro, wisata kesehatan, wisata olahraga, wisata aneka kerajinan, wisata kuliner, wisata hiburan dan rekreasi, wisata petualangan, wisata lingkungan berbasis alam dan sejenisnya. Integrasi semua komponen pariwisata sebagai cara untuk mengembangkan industri pariwisata adalah konsep yang relatif baru dan relatif ampuh untuk pengembangan pariwisata perdesaan.

Gimana? Keren kan?

Anggota OK OCE kini memiliki alternatif dalam memulai usaha. Menurut ketua Perkumpulan Gerakan OK OCE, Faransyah Jaya mengatakan, konsep bisnis homestay bisa dimulai dari kamar yang tak berisi alias kamar kosong.

“Konsep OK OCE homestay dapat di mulai dengan satu atau dua kamar kosong yang dimiliki warga Jakarta dan bisa menghasilkan uang bila diikutsertakan dalam program OK OCE HOMESTAY,” ujar Faransyah saat Soft Launching OK OCE Homestay di Pulau Tidung, Kepulauan Seribu, Sabtu (5/5/2018).

Lebih lanjut Faransyah menerangkan, UPR memang belum mampu berkembang dan bersaing dengan industri akomodasi lainnya seperti hotel, villa, bungalow, cottage, maupun losmen berskala besar. Tingkat keberhasilan UPR masih rendah disebabkan rendahnya tingkat keberdayaan, keterbatasan kompetensi kerja, dan perilaku kewirausahaan masyarakat pesisir yang belum mampu memenuhi kebutuhan dan keinginan para wisatawan.  

“Namun demikian, bukan berarti UPR tidak bisa memberikan akomodasi, fasilitas dan pelayanan yang diberikan kepada konsumen tidak memenuhi standar atau ala kadarnya, karena kenyataan homestay pada saat masa liburan bisa memasang tarif tinggi (lebih mahal) karena penginapan lainnya sudah fully booked,” katanya.

Pemilik UPR merupakan orang terpenting, berperan sebagai tuan rumah sekaligus operator harian. Karakter individu dan karakter lingkungan berpengaruh pada kompetensi kerja dan perilaku kewirausahaan para Pemilik UPR. Rendahnya nilai sosial yang dimiliki masyarakat pesisir yang memengaruhi kepuasan tamu atas pelayanan pondok wisata yang diterimanya.  

“Seperti kata-kata umpatan kasar yang meluncur khas dari masyarakat lokal Pemilik UPR yang pasrah dengan situasi dan kondisi usahanya yang memiki banyak keterbatasan, dengan mengatakan “lu mau ambil, kagak jadi kagak ape” (artinya: kalau mau silakan, tidak-pun tak masalah).  Perilaku tidak acuh ini jelas salah, jika optimis dalam berusaha, pasti akan mempertahankan tamunya agar tidak pergi,” jelas Farnsyah.

Pria yang kerap disapa Coach Faran itu paham betul bahwa kekecewaan tamu terjadi sebagai akibat tidak terpenuhinya kebutuhan akan keramahtamahan, yang menjadi ciri khas adat dan budaya masyarakat Indonesia. Hal tersebut akan meluas pengaruhnya ke bidang usaha lain.  
Kang Ayat Taufik Arevin, sebagai seorang akademisi, menawarkan model bisnis OK OCE Homestay sebagai alternatif usaha penginapan rakyat dengan varian bisnisnya rumah singgah (homestay) yang dapat dikembangkan di sekitar obyek wisata untuk wisatawan, di sekitar rumah sakit utk keluarga pasien, di sekitar wilayah transit  transportasi (TOD/Transit Oriented Development).

Hal itu direstui oleh PGO. PGO menilai bisnis homestay cocok untuk diterapkan dengan kondisi wilayah di DKI Jakarta.

“Oleh karenanya PGO sangat mendukung model bisnis OK OCE Homestay yang dalam pelaksanaannya akan menerapkan konsep 7 Pas OK OCE, yaitu pendaftaran, pelatihan, pendampingan, perijinan, pemasaran, pelaporan keuangan dan permodalan,” jelas Coach Faran

Bentuk kerjasama awal yang akan dijalin adalah dengan lembaga pendidikan tinggi kepariwisataan untuk memberikan pelatihan dan pendampingan kepada para pengelola usaha Homestay. Untuk pemasaran homestay, OK OCE berkolaborasi dengan PT Telkom yang juga sedang menjalankan program digitalisasi homestay melalui ITX (Indonesia Tourism Exchange). Sedangkan PGO akan fokus membantu proses pendaftaran, perizinan pelaporan keuangan dan memfasilitasi kepada lembaga keuangan dan bekerjasama dengan swasta, memanfaatkan CSR.

Bisnis Homestay bisa dikelola melalui dukungan keluarga, merupakan bisnis unggulan, perekat sosial dan budaya. Kesederhanaan sistim pengelolaan sehingga bisa dikendalikan oleh Lulusan SMK, atau pengelolaan oleh Ibu-ibu rumah tangga melalui teknologi online berupa website dan aplikasi.

“Diharapkan program ini memiliki multiplier effect kepada anggota OK OCE lainnya, seperti: industri suplai perlengkapan mandi, perlengkapan tidur, usaha laundry, warung dan toko kelontong,” singkat Faransyah.

Exit mobile version