Site icon SuaraJakarta.co

Antara Spekulasi Soros, Roubini dan Harga Emas

(Foto: IST)

Emas sedang perkasa. Tidak lazim kejadiannya : emas sedang tinggi ketika minyak bumi sedang jatuh ke titik terendahnya. Juga ketika USD sedang menguat dan ketika Rupiah sedang berusaha bangkit. Dalam situasi ini, emas biasanya tertekan. Tapi faktor Rusia yang sedang krisis memang tak bisa dilupakan karena Rusia adalah salah satu pemilik cadangan emas dan penambang emas terbesar.

Kita perlu kilas balik sejenak. Pada Oktober 2010, karena begitu mencemaskannya kondisi ekonomi AS – angka pengangguran dan pencetakan uang-uang baru, dan jatuhnya negara-negara Eropa dalam jurang hutang yang makin dalam, beberapa negara yang diinisiasi Jerman kemudian menghentikan penjualan emasnya, dan memilih berlindung dibalik ‘Safe Haven’ itu. Alhasil karena makin ‘seret’nya supply, ini mendorong harga emas makin tinggi. Ketika itu, emas diperdagangkan di USD 1.318/ troy ounce, rekor tertingginya selama ini. 12 tahun lalu, emas dihargai USD 200/troy ounce lebih sedikit atau Rp 57.000 per gram. Saat Oktober 2010 tersebut, situs Logam Mulia menunjukkan harga Rp 381.000 per gram untuk pecahan terbesarnya yakni 1.000 gram.

Kejadiannya mirip dengan sekarang. Dalam kondisi resesi, mengapa emas tidak bisa mungkin terus tertekan harganya? Karena justru dalam keadaan seperti itu, negara-negara dan investor justru perlu ‘pegangan’ dan pelindung dari dampak buruk ekonomi yang terus melemah. Caranya? Salah satunya adalah menjual cadangan mata uang asing yang ia punya lalu mengalihkannya ke ‘safe haven’ yakni emas.

Banyak ahli (atau spekulan?) termasuk George Soros dan Nouriel Roubini mengatakan harga emas menggelembung begitu cepat dan bersiap meletus. Mereka lupa bahwa emas adalah komoditas, yang gerak naik-turunnya, selain terkait berbagai pemicu dan sentimen eksternal, juga terikat pada dirinya sendiri, yakni supply-demand yang mengenai dirinya. Komoditas relatif ‘steril’ dari gelembung / bubble, berbeda dengan sektor finansial.

Tahun 2006, para ahli mengatakan hal yang sama. Gold Bubble, ketika meletus, harga emas diperkirakan akan kempes. Hingga kini itu tak pernah terjadi. Yang terjadi 2 tahun setelahnya, bubble ekonomi itu meletus dengan dahysat di AS dipicu macetnya kredit perumahan. 17 tahun lalu, tiga tahun sebelum krisis moneter terjadi, para ahli mengatakan hal yang sama. Beberapa saat sebelum krisis moneter itu pula, Agustus 1997, kita ingat bersama emas dihargai Rp 27.100 per gram. Itulah harga terendah emas sejak 1997 hingga 2010.

Awal 2015, Roubini juga mengatakan hal yang sama bahwa emas akan jatuh dibawah USD 1.000/troy ounce, terutama disebabkan kondisi Amerika yang mulai pulih dan The Fed menghentikan pencetakan uangnya. Hari ini, yang terjadi sebaliknya. Emas naik hampir 2% dalam seminggu di situasi yang serba sulit dijelaskan.

Sekarang, biarkan kondisi global dan makro itu terjadi. Penting kita melihat yang berkait langsung dengan diri kita. Pada masa-masa emas sedang naik tinggi, saya mendapatkan 2 pertanyaan paling heboh :

– Harga emas sedang tinggi, apakah sekarang saatnya menjual ?
– Harga emas merangkak naik, apakah ini saat yang tepat untuk membeli ?

Dan dua pertanyaan ‘sederhana’ itu tak perlu dijawab dengan analisis dan prediksi-prediksi. Jawabannya berpulang pada Anda. Apa motif jual dan beli emas atau Dinar Anda ?

Jika Anda sudah simpan minimal setahun dan merasa telah merasakan keuntungan dari naiknya harga emas itu, kemudian ada objek investasi lain yang lebih menguntungkan, misalnya investasi riil dalam bentuk rumah makan, Anda tak perlu pikir panjang lagi. Lepas emas Anda sejumlah yang diperlukan lalu re-investasi di tempat lain. Jika Anda jual atau gadaikan emasnya, hanya karena merasa bahwa keuntungan berlipat dibanding pertama kali Anda investasikan, kemudian tak tahu akan diapakan dana itu, lebih baik tak perlu Anda jual. Artinya Anda sendiri tidak sedang ada kebutuhan untuk menjualnya.

Sama halnya bagi Anda yang menyimpan emas atau Dinar itu untuk cadangan dan berjaga-jaga. Misalnya biaya pelunasan sekolah anak Anda yang masuk kuliah S-2. Anda sedang butuh, maka jual saja. Dengan motif simpanan/ dana cadangan ini, maka saat yang tepat menjual emas adalah saat dibutuhkan.

Pertanyaan satu lagi, apa di saat harga sedang tinggi begini adalah saat yang tepat membeli emas? Ilmu masa depan hanya milik Allah, dan jika motif kita adalah investasi jangka panjang, maka tak ada kata terlambat – tak ada kata terlalu cepat – tak kenal kata ‘waktu yang salah’, untuk investasi pasif dalam bentuk emas / Dinar. Mengapa? Karena tujuan investasi (atau simpanan dan dana cadangan) logam mulia adalah kenaikan kapital dalam jangka panjang.

Penulis: @endykurniawan – Trainer, coach dan penulis bidang Bisnis, Investasi dan Keuangan. Pendiri dan pemilik Salama Mitra Investa

Exit mobile version