Site icon SuaraJakarta.co

Indonesia Siap Tingkatkan Daya Saing Teknologi Inovatif

Georg Villinger (kanan) berdiskusi bersama tim transfer teknologi di MITI Headquarter. (Foto: MITI)

Georg Villinger (kanan) berdiskusi bersama tim transfer teknologi di MITI Headquarter. (Foto: MITI)

SuaraJakarta.co, TANGERANG – Posisi Indonesia di dunia internasional semakin menguat. Dalam laporan World Economic Forum tentang Indeks Kompetisi Global tahun 2014-2015, Indonesia berhasil naik empat peringkat menjadi urutan 34 dari 144 negara. Meskipun demikian, tingkat kompetisi Indonesia masih jauh di bawah Singapura, Malaysia, dan Thailand. Indonesia tak hanya harus memperbaiki infrastruktur agar dapat meningkatkan daya saing, namun mesti juga mengembangkan sumber daya manusia dengan pendidikan yang mumpuni agar dapat meningkatkan inovasi di dalam negeri misalnya dengan melakukan aktivitas transfer teknologi.

Indonesia ditunjuk menjadi contoh program transfer teknologi bagi negara-negara ASEAN yang tergabung dalam program PIT-ASEAN (Promoting Innovation and Technology-ASEAN), sebuah program kerjasama ASEAN dengan Pemerintah Jerman, bulan Maret lalu. Masyarakat Ilmuwan dan Teknolog Indonesia (MITI) sebagai representatif kantor transfer teknologi di Indonesia yang dijadikan contoh, melakukan kerjasama dengan Steinbeis Transfer Center dalam membuat skema transfer teknologi sesuai budaya lokal Indonesia. Steinbeis Transfer Center adalah sebuah lembaga transfer teknologi di Jerman yang telah berpengalaman selama lebih dari 30 tahun untuk membantu usaha kecil, menengah, hingga skala besar.

Setelah tahun lalu mengirim delegasi untuk belajar sistem transfer teknologi ke Jerman dengan bantuan Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristek Dikti), MITI yang didukung oleh Deutsche Gesellschaft für Internationale Zusammenarbeit (GIZ) Jerman, dan Sekretariat ASEAN, selama dua pekan (13-26 April 2015) akan mengadakan pelatihan ahli bagi tenaga-tenaga transfer teknologi Indonesia. Pelatihan ini dipimpin oleh Georg Villinger, perwakilan Steinbeis Transfer Center. Pelatihan dilaksanakan di MITI Headquarter Alam Sutera Tangerang dengan objek enam industri skala menengah. Industri tersebut terdiri dari industri yang menggunakan teknologi tinggi dan industri dengan teknologi tepat guna.

“Indonesia bisa bangga dengan pencapaian Global Competitiveness Index yang naik empat peringkat dari tahun lalu. Namun perlu disadari bahwa indeks tersebut dihitung pada skala makro. Kami harus memastikan banyak orang yang mendapatkan keuntungan dari pembangunan ekonomi. Tugas kami sebagai sebuah lembaga non-pemerintahan adalah untuk membantu pemerintah dalah mengembangkan kapasitas masyarakat,” tutur Dr. Warsito P. Taruno, M. Eng, Ketua Umum MITI dalam sambutannya membuka program pelatihan ahli tersebut, Senin (13/04). “Salah satu upaya pengembangan kapasitas masyarakat yang kami lakukan adalah dengan melakukan transfer teknologi. Masyarakat akan diedukasi agar dapat menolong diri mereka sendiri menghadapi tantangan global dengan penguasaan teknologi yang mumpuni.”

Pelatihan ini bertujuan untuk mencetak tenaga-tenaga ahli transfer teknologi yang mampu menjembatani kebutuhan masyarakat dengan riset-riset yang dilakukan oleh para ilmuwan. Masyarakat juga akan diedukasi dalam mengakses dan menggunakan teknologi untuk meningkatkan produktivitas usaha mereka sehingga mampu menghadapi tantangan global. Selain itu, para ilmuwan juga akan distimulasi agar dapat memenuhi kebutuhan masyarakat dengan problem based research.

Perlu diketahui bahwa Indonesia memasuki urutan ke-61 dari 239 negara, dalam hal banyaknya jumlah jurnal ilmiah terpublikasi internasional menurut publikasi yang disampaikan oleh Scimago Journal & Country Rank. Indonesia (25.481 dokumen) masih kalah dengan India (868.719), Taiwan (446.282), Meksiko (188.449), Malaysia (125.084), Thailand (95.690) dan bahkan Nigeria (47.126). Padahal jumlah jurnal ilmiah yang terpublikasi internasional menjadi salah satu ukuran kualitas penelitian. Ini menunjukkan Indonesia belum bisa menyeimbangkan transformasi IPTEK di dunia dengan hasil riset dan inovasi yang berkualitas. Sehingga, meski Indonesia memiliki SDA dan SDM potensial, Indonesia belum mampu menghasilkan cukup banyak produk inovasi. (DWH)

Exit mobile version