SuaraJakartaCo, JAKARTA — Menjelang satu tahu kepemimpinan Gubernur dan Wakil Gubernur Daerah Khusus Jakarta, Pramono Anung dan Rano Karno, semangat membangun kota yang tangguh dan berdaya saing terus digaungkan dari berbagai elemen masyarakat. Salah satu fokus yang dinilai strategis adalah penguatan ketahanan pangan melalui gerakan urban farming atau pertanian perkotaan.
Di tengah dinamika harga bahan pokok dan tingginya ketergantungan Jakarta terhadap pasokan dari luar daerah, urban farming dinilai bukan sekadar tren gaya hidup hijau, melainkan solusi konkret untuk memperkuat kemandirian warga. Gerakan Tani Syarikat Islam (Gertasi) DKJ mendorong agar pertanian perkotaan menjadi program yang terintegrasi, produktif, dan berkelanjutan.
Ketua Gertasi DKJ Salim Wehfany menyebut, momentum satu tahun kepemimpinan daerah harus dimaknai sebagai titik refleksi sekaligus akselerasi kebijakan.
“Jakarta sedang bergerak menuju kota global dan kota hijau. Urban farming harus menjadi bagian dari transformasi itu. Bukan hanya hobi, tetapi gerakan ekonomi rakyat yang mampu memperkuat ketahanan pangan keluarga,” ujarnya di Jakarta.
Menurutnya, kota modern tidak hanya diukur dari gedung-gedung tinggi dan infrastruktur canggih, tetapi juga dari kemampuan menjamin kebutuhan dasar warganya secara berkelanjutan. Ketahanan pangan, kata dia, adalah fondasi kota yang resilien.
Dari Lahan Tidur Menjadi Lumbung Produktif
Gertasi mendorong optimalisasi lahan tidur milik pemerintah daerah maupun fasilitas sosial dan fasilitas umum yang belum termanfaatkan. Lahan-lahan tersebut dinilai dapat diubah menjadi kebun komunitas yang produktif dan dikelola secara kolektif oleh warga.
Selain itu, konsep rooftop farming pada gedung-gedung perkantoran dan hunian vertikal juga dinilai relevan dengan karakter Jakarta sebagai kota metropolitan. Insentif kebijakan bagi bangunan yang menerapkan konsep hijau diyakini dapat mempercepat adopsi pertanian perkotaan secara luas.
Tak kalah penting, pemanfaatan teknologi hidroponik dan aquaponik di kawasan padat penduduk membuka peluang bagi warga untuk memproduksi sayuran dan sumber protein secara mandiri, meski dengan keterbatasan lahan.
“Urban farming bukan hanya soal tanam-menanam, tetapi tentang membangun mental kemandirian. Ketika warga mampu memproduksi sebagian kebutuhannya sendiri, di situlah kekuatan ekonomi mikro tumbuh,” kata Salim.
Menuju Jakarta yang Mandiri dan Berkelanjutan
Dalam dialog bersama warga, muncul harapan agar pemerintah daerah menghadirkan regulasi yang lebih spesifik untuk mendukung kelompok tani kota, termasuk melalui skema pendanaan dan pendampingan berkelanjutan.
Sebagai kota global, Jakarta dinilai perlu memiliki sistem pangan yang tangguh, adaptif, dan terintegrasi dengan teknologi digital. Akses terhadap pangan sehat dan terjangkau harus menjadi bagian dari hak dasar warga kota.
Kegiatan tersebut turut dihadiri Tenaga Ahli Utusan Gubernur Jakarta Aldy Perdana Putra, Sekretaris Dinas Ketahanan Pangan DKJ Mujiati, serta akademisi dan Tenaga Ahli DPR RI Mesak Paidjala.
Momentum satu tahun kepemimpinan Pramono–Rano menjadi ruang evaluasi sekaligus peluang memperkuat kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat. Urban farming dapat menjadi simbol gerakan bersama—bahwa Jakarta bukan hanya kota konsumsi, tetapi juga kota produksi.
Dengan kolaborasi, regulasi yang berpihak, dan partisipasi aktif warga, pertanian perkotaan berpotensi menjelma menjadi pilar kedaulatan pangan Jakarta. Sebab kota yang kuat bukan hanya yang mampu tumbuh tinggi, tetapi juga yang mampu menghidupi warganya dari akarnya sendiri.

