Menelusuri Desa Situ Udik, Bedah Rumah yang Diawali Seratus Rupiah

Berapa banyak rumah yang dibedah yang disiarkan melalui program televisi? Adakah limapuluh, tujuhpuluh lima atau bahkan seratus? Lalu, berapa lama program itu bisa bertahan di stasiun televisi? Adakah satu tahun? Atau dua tahun? Pertanyaan selanjutnya, apakah bisa program televisi itu berjalan tanpa adanya sponsor, iklan bahkan rating AC Nielsen? Sepertinya tidak mungkin. Terbukti sekarang program itu sudah tergusur dengan banyaknya sinetron yang ratingnya lebih baik, yang juga artinya mendatangkan pundi-pundi iklan lebih banyak.

Sekarang bandingkan dengan apa yang dilakukan Kepala Desa Situ Udik, Enduh Nuhudawi. Hanya bermodalkan tekad kuat dan keikhlasan, pria bersahaja ini mampu membedah 118 rumah warganya dalam kurun waktu tiga tahun. Dia tidak perlu sponsor atau iklan. Dia hanya membutuhkan seratus rupiah dari warganya. Luar biasa bukan?

Desa Situ Udik berada di Kecamatan Cibungbulang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Lokasinya terbilang masih asri dan juga jauh dari hiruk pikuk kota. Akses menuju desa ini pun melalui jalan sempit yang masih bisa dilalui dua mobil arah berlawanan. Seperti layaknya kehidupan desa, potret warganya masih kental dengan nilai-nilai relijiusitas. Banyaknya remaja putri berjilbab yang menelusuri area persawahan, atau sayup-sayup terdengar suara pengajian di kejauhan, menjadi bukti betapa kehidupan di desa ini sarat dengan nilai-nilai agama.

Memang ada sebagian rumah-rumah warga yang memiliki kendaraan roda empat. Tapi, jumlahnya sedikit, dan mobil-mobil itu pun sepertinya lebih banyak parkir di garasi, ketimbang digunakan untuk bepergian. Mereka lebih menyukai sepeda motor atau angkot untuk menjelajah ke tempat lain. Bisa jadi, mobil-mobil itu digunakan pemiliknya saat hari libur atau hari raya saja.

Yang tidak kalah menariknya adalah pemandangan alam berupa Gunung Salak. Bagi petualang, desa ini menjadi salah satu destinasi wisata di wilayah Bogor. Keindahan Gunung Salak bisa dinikmati manakala cuaca bersahabat. Gunung yang biru berselimut awan putih menjadi daya tarik tersendiri. Apalagi bagi fotografer, tentunya obyek itu tidak boleh dilewatkan demi mendapat visual yang menarik.

Enduh Nuhudawi mungkin tidak menyangka tekadnya untuk membenahi rumah warganya mendapat perhatian dari berbagai pihak. Bahkan, tidak kurang televisi nasional mengundangnya sebagai narasumber. No Gain without Pain, begitulah kira-kira pepatah yang tepat untuk menggambarkan apa yang dilakukannya. Sejak terpilih menjadi kepala desa, Enduh bertekad untuk mengorbankan seluruh kemampuannya demi desa yang dicintainya. Banyaknya pengangguran, rumah-rumah yang kumuh, sekolah-sekolah yang terbengkalai menjadi bagian problematika yang harus dituntaskannya.

Salah satu program andalannya adalah renovasi rumah tidak layak huni (RTLH). Dia tidak muluk-muluk, hanya meminta warga mengumpulkan dengan ikhlas uang seratus rupiah setiap hari. Nilainya sangat kecil, bahkan pak ogah di pinggir jalan pasti membuangnya, jika ada pengendara mobil yang memberinya seratus rupiah. Tapi, bagi Enduh, uang segitu sudah cukup. Pada awalnya, inisiatif kepala desa ini mendapat penolakan warga, tidak sedikit juga yang mencibirnya. Tapi, dia tidak berhenti begitu saja, tekadnya sudah bulat.

Setelah terkumpul beberapa juta, selama satu tahun, Enduh kemudian membuktikan upayanya itu dengan membangun enam rumah warga. Masyarakat di desa Situ Udik tentu terkejut dengan pembuktian ini.

“Yang mendasari adanya gerakan karena kepedulian saja. Saya selaku kepala desa sangat peduli sekali. Banyak temuan di masyarakat, rumah-rumah yang tidak layak huni. tentunya saya harus merealisasikan, dan tugas saya sebagai pimpinan,” katanya saat diwawancara beberapa waktu lalu

Kepedulian itulah yang menguatkan tekad dalam dirinya. Apalagi warga juga melihat langsung hasil kerja kerasnya. Dua tahun kemudian, semakin banyak warga yang terkesima dengan program bedah rumah ini. Alhasil, setelah terkumpul sekian ratus juta rupiah, ada 118 rumah yang berhasil direnovasi. Waktu yang dibutuhkan Enduh untuk mewujudkan program ini juga tidak lama, hanya tiga tahun.

Kepala Desa ini berhasil mencuri perhatian salah satu televisi nasional. Dia diminta menjadi tamu untuk menjelaskan keberhasilannya mengubah wajah Desa Situ Udik menjadi tidak “udik” lagi. Meski sudah masuk televisi, dia tidak lantas lupa diri. Gayanya tetap bersahaja, bahkan jika berdialog dengannya, tidak ada kesan bahwa pria ini adalah kepala desa. Tapi, itulah kelebihannya, di balik kebersahajaannya, ada tekad luar biasa dan pengorbanan yang tinggi. (*)

Leave a Reply