SuaraJakarta.co | Media Ibukota Indonesia

Lomba Makan Kerupuk Dinilai Menjadikan Masyarakat Indonesia Rakus. Benarkah?

SuaraJakarta.co – Adu cepat makan kerupuk merupakan kebiasaan saat memperingati hari kemerdekaan Republik Indonesia 17 Agustus. Filosofi lomba makan kerupuk berawal dari sejarah saat Indonesia dijajah masyarakatnya dalam keadaan miskin. Saat ini hanya bisa makan nasi dan kerupuk.

Kondisi terpuruk itu kemudian diperingati setiap 17 Agustus dengan mengadakan lomba makan kerupuk. Hal itu disinyalir sebagai bentuk nasionalisme mengenang masa-masa sebelum kemerdekaan.

Kerupuk merupakan makanan ringan yang terbuat dari adonan tepung tapioka dengan campuran bumbu kemudian dijemur, setelah dijemur kemudian digoreng hingga mengembang.

Saat ini, Indonesia telah merdeka 71 tahun. Indonesia dikenal negara kaya raya. Peringatan kemerdekaan dengan lomba makan kerupuk hanya menjadi ajang rekreasi anak bangsa.

Akan tetapi, bentuk nasionalisme dari lomba makan kerupuk juga sebenarnya bisa tumbuh kepada hal yang lebih produktif membangun bangsa. Mungkin selama ini lomba itu hanya sebagai peringatan semata mengenang masa lalu, namun kini bisa kita dalami maknanya dengan cara lomba berbagi kerupuk (makanan).

Seandainya masyarakat mengambil makna dalam itu, setiap masyatakat berlomba-lomba berbagi makanan kepada orang miskin, bisa dipastikan Indonesia menjadi negara sejahtera dan penuh kedamaian.

Saat ini, lomba makan kerupuk memiliki peran dalam menjadikan manusia rakus, cepat dalam memakan. Bisa jadi nilai-nilai itu tumbuh menjadikan masyarakat Indonesia rakus dan saling cepat-cepatan dalam memakan.

Untuk itu, selayaknya setiap perlombaan dalam peringatan 17 an, hendaknya memiliki nilai-nilai yang menuju proses menjadikan masyaraat indonesia menjadi lebih baik. (JML)

BACA JUGA  Anda Harus Tahu Etika Bertetangga Kalau Mau Hidup Damai

Leave a Reply