Site icon SuaraJakarta.co

Wanita Mungil Berjilbab Ini Mengais Pahala dengan Menjadi Tukang Ojeg

Ilustrasi. (Foto: malesbanget.com)

Hari ini dunia transportasi ibukota kembali ramai dengan turunnya penyelenggara transportasi massal ke jalanan: mogok massal dan berdemo. Protes mereka salah satunya soal kendaraan roda empat berplat hitam yang beroperasi sebagai taxi order online. Ini memang bukan soal berebut rejeki, tapi soal plat kuning itu dimiliki penyelenggara angkutan massa melalui proses yang panjang, juga biaya yang lumayan. Untuk ijin trayek, ijin usaha angkutan, hingga urusan pajak: mereka melaluinya semua.

Ramai-ramai masyarakat beropini, beroposisi, juga berkualisi. Tapi tidak dengan wanita yang berpostur kecil dengan jilbab rapi ini. Semua orang memanggilnya Bu Ida, seorang janda tanpa anak, yang harus menghidupi diri, juga keponakan-keponakannya yang tinggal serumah dengannya.

Saat perusahaan ojeg online mengumumkan lowongan, Bu Ida melirik motor metik kecilnya: Wah, kesempatan manis! Segera ia bergerak mengumpulkan berkas-berkas, lalu mengirimnya ke kantor ojeg online itu. Dalam hitungan hari, ia dipanggil, menandatangani persetujuan kerja, lalu menerima semua atribut ojeg online: Jaket, sepasang helm, jas hujan, masker, hingga seperangkat smartphone yang nantinya harus ia cicil dengan honornya.

Maka sejak itu, bila ada waktu luang, matanya tak lelah menatapi smartphone barunya itu. Setiap orderan datang, matanya makin berbinar. Apalagi jika order berasal dari pelanggan yang berlokasi tak jauh dari rumahnya, dengan tujuan kurang dari 5 kilometer, di sekitar waktu pagi, siang dan sore. Ia tetap harus mengukur kemampuan diri, sebab sebagai wanita berumur hampir 40 tahun dan postur tergolong mungil, rasanya terlalu ‘tamak’ jika harus memaksakan diri menerima order jarak jauh lewat dan menjelang waktu magrib. Meskipun sebenarnya waktu-waktu itu adalah ‘prime time’ nya orderan, banyak pekerja kantoran yang hendak pulang dan segan melintasi macetnya jalanan ibukota dengan kendaraan roda empat.

Di luar ngojeg, ia aktif sebagai kader posyandu dan PKK, juga relawan sebuah balai pengobatan gratis untuk dhuafa di sebuah masjid perkantoran tak jauh dari rumahnya. Jika aktivitas sosialnya itu sedang berjalan, smartphonenya ia letakkan jauh dalam tas,”Biar ga mupeng sama orderan yang deket Bu, ntar kerjaan ga fokus lagi,” dalihnya.

“Pernah Bu, saya ‘terpaksa ngambil orderan jarak jauh habis magrib. Hampir 10 kilometer lah. Saking sepinya order, gerimis soalnya. Yah, demi nutup poin, tanggung soalnya tinggal dikit lagi ketutup target poin sehari. Penumpangnya sih Ibu-ibu juga, pegawai gitu. Dalem hati ngarep dong, dia bakal ngasih lebihannya banyak. Jauh soalnya. Eh, ternyata cuma ditambahin 2 rebu, dari 15 rebu jadi 17 rebu doang. Hehe, tapi saya ya senyum aja lah. Biar testimoninya bagus..”, jawabnya saat ditanya soal suka duka menjadi ojeg wanita.

“Pernah juga nih Bu, nerima order, ternyata pelanggannya laki-laki, badannya tinggi gede kekar lagi. Pas ketemu saya, dia rada melotot, tapi kayaknya karena kasihan, dia ga gagalin order. Ngeliat dia ekspresinya galau gitu, saya tawarin deh ke dia: ‘Pak, kalau ngerasa ga nyaman dan batalin order ga apa-apa, saya maklum kok’. Ternyata dia keburu-buru, jadi ga sempet order ulang lagi. Lalu saya tawarin: Kalau Bapak keberatan saya bonceng, monggo Bapak yang nyetir aja, ga pa-pa”, lanjutnya dengan pengalaman lain.

“Bayangin aja Bu: Motor saya metik kecil gitu, saya kecil, terus penumpangnya gede tinggi. Khawatir jomplang juga sih… Tapi Alhamdulillah nggak, lancar. Bayar ongkosnya ditambahinnya lumayan lagi!”, celotehnya penuh semangat, sambil sesekali merapikan jilbabnya yang tertiup angin.

Ia merasa beruntung sebab akhirnya motor metik mungil yang ia cicil selama dua tahun itu akhirnya bisa mendatangkan rupiah. Ia yakin bahwa mencari nafkah yang halal bisa menjadi pintu pahala pula bagi dirinya, sebab ia tak punya anak ataupun suami yang bisa menjadi pintu pahala bagi kebanyakan Ibu lainnya.

Lebih dari 1400 tahun yang lalu, pada masa hidup Nabi Muhammad, ada seorang lelaki yang tangannya luar biasa kasar bahkan nyaris melepuh. Saat ditanya mengapa tangannya bisa sekasar itu, ia menjawab: “Tangan ini setiap hari saya pakai untuk bekerja. Pekerjaan saya adalah membelah batu, lalu batu itu saya jual, untuk menafkahi keluarga saya”.

Lalu, apakah hadiah bagi lelaki bertangan kasar itu? Inilah hadiahnya:
“Inilah tangan yang tidak akan pernah disentuh oleh api neraka selama-lamanya”.

Jadi, bekerja bukan hanya tentang banyaknya rupiah yang dihasilkan, tapi tentang kerasnya berusaha demi menafkahi sepenuh hati.

Penulis: Sari Kusuma

Exit mobile version