Site icon SuaraJakarta.co

Pemuda Itu Memilih Menghajikan Orang Tuanya

Ini kisah tentang seorang pemuda berusia 32 tahun, asal Gorontalo, yang belum menemukan jodoh, tapi sudah punya pekerjaan tetap, dan tabungannya genap 30 juta saat itu. Tabungan itu rencananya akan ia gunakan untuk biaya menikah jika telah menemukan jodoh. Namun ia juga terpikir naik haji dengan tabungan itu. Pada waktu itu, ONH reguler memang butuh total ‘hanya’ 30 juta saja.

Menikah tentu saja belum bisa, karena ia belum punya calon mempelai wanita. Maka ia pun memutuskan mendaftar haji. Tapi, sesaat akan mendaftar, ia teringat ayahnya yang sudah lanjut, 71 tahun usianya saat itu. Bagaimana mungkin ia sendiri berangkat haji sementara ayah -yang dulu bekerja keras membiayai hidupnya hingga bisa mandiri seperti sekarang- belum sekalipun melihat Baitullah? Haji memang wajib bagi yang mampu, tapi tidak ada larangan kan jika aku ‘memampukan’ ayahku dengan memberikan seluruh tabungan ini untuknya? Begitu batinnya, memantapkan diri. Lagipula, kapan lagi ia punya kesempatan menghajikan ayahnya, ia juga khawatir sang ayah keburu wafat jika keinginan itu ditundanya.

Singkat cerita, sang ayah akhirnya berangkat haji. Pemuda itu memilihkan biro haji yang direkomendasikan temannya, sebab ayahnya sudah tidak terlalu lincah lagi berjalan, jadi harus benar-benar dititipkan pada pembimbing haji yang amanah. Ia bahkan mendekati langsung, lalu berkenalan dan mencatat nomor telepon ustadz pembimbing haji itu, agar bisa dikontak dari Indonesia sewaktu-waktu.

Saat berkenalan dengan sang ustadz, ayahnya pun tak tahan untuk bercerita tentang anak yang menbayarkan ONH nya itu, juga soal niat awalnya dulu memakai tabungan untuk biaya menikah. Tentu saja, sang ustadz pun berdecak kagum, lalu menepuk pundak pemuda itu,”Subhanallah. Nak, insyaAllah sedekahmu pada orang tuamu ini kelak akan menjadi salah satu jalan mempertemukanmu dengan jodohmu..”

Si pemuda hanya tersenyum malu, sambil mengaminkan doa itu.

Prosesi haji pun berjalan. Hari terus berganti, bulan haji pun telah berlalu. Sang ayah pun dijadwalkan pulang. Si pemuda bersiap menjemput dengan suka cita di asrama haji. Namun ternyata hari itu bukan hanya sang ayah yang ia temui, tapi juga seorang lelaki teman sekamar ayahnya saat berhaji. Rupanya, lelaki ini banyak mendengar hal baik soal pemuda ini dari ayahnya. Lelaki ini pun jatuh simpati, dan terpikir menjodohkannya dengan adik perempuannya yang ternyata usianya sepantaran.

Bukan main tersipunya pemuda ini mendengar rencana itu. Rupanya, doa pak pembimbing haji itu cepat sekali makbulnya. Tentu saja, makbul juga doa sang ayah selama di tanah Haram yang tak bosan-bosannya mendoakan jodoh bagi puteranya itu.

Pemuda itu akhirnya menikahi adik lelaki tadi. Ia menemukan jodohnya. Ia bahkan mampu mengajak istrinya naik haji pula 3 tahun setelah mereka menikah. Oiya, setahun setelah menikah, ia juga membiayai ongkos naik haji ibunya, patungan dengan saudara yang lain.

Begitulah, jika saja ia dulu memilih naik haji sendiri, bisa jadi saat ini ia belum punya istri, masih menjadi perjaka tua tanpa belahan jiwa. Begitulah, seorang pemuda yang menemukan jodohnya, berkat sedekahnya dengan menghajikan orang tuanya. Berkah atasmu wahai pemuda, semoga keluargamu senantiasa dikaruniai cinta kasih, rasa sayang serta kenyamanan, sehingga kekal jodoh kalian hingga di surga.

Penulis: Sari Kusuma

Exit mobile version