Site icon SuaraJakarta.co

Mencicipi Bakso Mang Oedin di Jeddah

Foto: sigitdian.com

Jeddah konon 2500 tahun yang lalu adalah sebuah kampung nelayan. Lalu khalifah Ustman bin Affan membangunnya menjadi sebuah kota pesisir.

Kini, kota itu terus menggeliat, Bandara King Abdul Aziz yang berdiri kokoh di sana tak pernah sepi didatangi pesawat dari berbagai negara terutama negara muslim, yang hendak umroh atau haji ke Mekkah, atau yang hendak ke Medinah terlebih dahulu.

Dalam rute umroh, biasanya biro penyelenggara tidak pernah melewatkan satu tempat perbelanjaan besar di daerah Balad kota Jeddah, yaitu Corniche Commercial Center. Pusat perbelanjaan ini kurang lebih semacam pasar turinya Surabaya, atau tanah abangnya Jakarta. Ada satu bangunan besar bertingkat, dengan beberapa toko lain di sekitarnya. Tapi jangan singgung soal harga ya, kabarnya di situ harganya tidak lebih murah daripada tempat lain.

Yang menarik soal Corniche adalah soal sebuah kedai yang ada di sampingnya. Kedai ini bernama: Bakso Mang Oedin. Hampir semua jamaah umroh yang pernah ke Jeddah membicarakannya. Meski bertajuk ‘Bakso’, tapi sebenarnya kedai ini tidak cuma menyediakan bakso. Kedai ini menyediakan hampir semua jenis makanan PKL ala Indonesia, yang belum tentu di Mekkah dan Madinah bisa didapat. Selain bakso, pengunjung juga bisa memesan mie goreng, nasi goreng, nasi campur, bubur ayam, mie ayam, bahkan pempek pun ada!

Kedai ini makin terasa Indonesia-nya karena menyediakan minuman ala PKL Indonesia yang bahkan di Bin Dawood (supermarketnya Arab) pun belum tentu ada. Mereka menyediakan teh botol sosro, teh botol merk Estee hingga teh pucuk harum. Pengunjung yang biasa mengepulkan asap tembakau pun difasilitasi dengan tersedianya berbagai merk rokok seperti yang tersedia di Indonesia.

Konsep tempat ini memang dibuat seperti kantin ala Indonesia. Karena itu, jangan berharap pelayanan VIP apalagi VVIP di sini, semua jika ingin kenyang harus mau berdiri antri memesan makanan. Minumanpun harus anda racik sendiri, atau ambil sendiri dari dalam lemari pendingin. Mau teh susu misalnya, anda harus menuang air panas, mencelupkan teh, menuang gula, menuang susu, lalu mengaduknya sendiri.

Jangan lupa juga untuk berburu meja dan tempat duduk, sebab kedai ini ramainya bukan main. Lumrahnya sebuah kantin, di sini tidak disediakan pelayan yang bertugas mereservasikan meja untuk pengunjung yang baru datang. Maka sebaiknya jika anda masuk bersama teman, lebih baik berbagi tugas: ada yang bertugas mengambil makanan, ada yang bertugas mencari tempat duduk yang kosong.

Setelah semua itu dilalui, makanlah dengan tenang. Tidak usah berpikir soal biaya, yang penting ingat makanan apa saja yang sudah anda makan. Sesuai dengan motto yang tertulis di papan menu di samping pintu masuk: “Ingat yang anda makan, yang lupa kami ikhlaskan”. Sebab, perhitungan soal berapa biayanya akan diurus setelah perut kenyang. Kasir tidak akan menerima pembayaran jika tahu anda belum menghabiskan makanan anda, dia akan menjawab: “Makan dulu, bayar nanti!”.

Jadi, selesai makan, barulah pengunjung akan berurusan dengan kasir: sebutkan apa saja yang sudah dimakan dan diminum, kasir akan mentotal, lalu menagih sejumlah real dari kantong anda. Bakso, mie ayam, dan bubur ayam masing-masing seporsi 12 real. Soto ayam, mie goreng, nasi goreng ayam, pempek dan rawon masing-masing dihargai 18 real. Sementara sop iga, sate ayam dan kambing, juga nasi campur dihargai 20 real seporsi. Minuman dihargai mulai dari 2 real (teh hangat dan teh mint) hingga 8 real (es campur dan berbagai jus). Yang paling mahal hanya jus alpukat yang seharga 10 real, atau 35 ribu rupiah. Tidak ada real? Rupiah pun diterima kasir dengan ikhlas.

Soal rasa? Jangan berharap rasa baksonya setara dengan bakso lapangan tembak atau bakso-nya es teler 77. Tapi tidak boleh juga meremehkannya seumpama bakso abang-abang seharga 7 ribu seporsi. Dagingnya terasa kok, ayam di mie ayam juga lumayan terasa. Lumayan lah untuk mengobati rindu lidah Indonesia jamaah umroh di negeri para nabi.

Penulis: Sari Kusuma

Exit mobile version