SuaraJakartaCo, Jakarta – Di tengah narasi yang kerap menyebut remaja sebagai generasi rentan masalah kesehatan mental, sebuah eksperimen sosial berbasis sekolah di Jakarta justru menunjukkan temuan sebaliknya. Intervensi sederhana berupa kebiasaan “melaporkan kebaikan teman” terbukti mampu meningkatkan empati dan perilaku prososial remaja secara signifikan.
Program CekTemanSebelah 2.0: Laporkan Kebaikan Teman yang diinisiasi Health Collaborative Center (HCC) melibatkan 699 siswa SMA di Jakarta. Sebanyak 541 siswa menyelesaikan program penuh selama 10 hari.
Ketua Tim Eksperimen sekaligus Ketua HCC, Ray Wagiu Basrowi, mengatakan intervensi ini terinspirasi dari metode tootling, yakni praktik melaporkan tindakan positif teman sebaya yang di sejumlah negara telah menjadi bagian dari pendidikan karakter.
“Dalam 10 hari intervensi, terkumpul 4.710 laporan kebaikan. Ini menunjukkan daya multiplikasi hampir 10 kali lipat hanya dari satu intervensi sederhana,” ujar Ray dalam keterangan tertulis, Senin (2/3/2026).
5 Kali Lebih Empati dan Prososial
Hasil pengukuran menunjukkan siswa yang aktif melaporkan kebaikan teman memiliki:
5 kali lebih empati
5 kali lebih prososial
Hampir 4 kali lebih tinggi kemampuan perspective-taking atau memahami sudut pandang orang lain
Sebanyak 8 dari 10 siswa mengaku merasakan perubahan positif setelah mengikuti program. Bahkan, siswa yang aktif melaporkan kebaikan memiliki peluang 11 kali lebih besar untuk merasakan perubahan positif tersebut.

Ray menegaskan, praktik sederhana seperti ini mampu memperkuat fondasi psikologis remaja dalam waktu singkat.
Fakta Menarik Selama 10 Hari
Dari ribuan laporan yang masuk, alasan siswa melaporkan kebaikan temannya antara lain:
77% sebagai bentuk mengucapkan terima kasih
71% sebagai bentuk apresiasi
50% sebagai balas kebaikan
41% untuk menginspirasi teman lain
34% agar kebaikan diketahui publik
Menariknya, siswa perempuan tercatat memiliki peluang 34 kali lebih besar melaporkan kebaikan kepada sesama perempuan dibandingkan kepada siswa laki-laki. Temuan ini dinilai bisa menjadi dasar pengembangan strategi intervensi sosial di sekolah.
Ukur 6 Aspek Emosional Remaja
Program ini mengukur enam aspek emosional, meliputi gejala emosional, masalah perilaku, hiperaktivitas, relasi teman sebaya, skor kesulitan, serta prososial. Pengukuran empati dilakukan menggunakan Interpersonal Reactivity Index.

Psikolog Klinis Puskesmas Ciracas, Sulastry Pardede, mengatakan pelatihan perilaku prososial melalui metode tootling terbukti meningkatkan empati dan solidaritas antar siswa.
“Hasilnya menunjukkan peningkatan reaksi sosial positif, berkurangnya ketidaknyamanan diri, serta hubungan teman sebaya yang lebih kuat,” ujarnya.
Guru dan Siswa Rasakan Perubahan
Guru Bimbingan Konseling MAN 2 Jakarta Timur, Naeni Rohmawati, mengaku melihat perubahan suasana kelas selama program berlangsung.
“Siswa yang biasanya pasif mulai berani mengapresiasi temannya. Program ini sederhana, tetapi dampaknya nyata. Empati tumbuh, interaksi lebih hangat, dan ruang kelas terasa lebih aman secara emosional,” katanya.
Salah satu peserta, Donita Putri Shanum, siswi kelas X-D, mengaku awalnya menganggap kegiatan ini sekadar tugas menulis.
“Setelah melaporkan kebaikan teman, saya jadi lebih sadar bahwa banyak hal baik di sekitar yang sering terlewat. Rasanya senang bisa mengapresiasi teman,” ujarnya.
Hal senada disampaikan Muhammad Khoirul Anam, siswa kelas XI-G. Ia merasa hubungan antarteman menjadi lebih solid dan saling menghargai.
Intervensi Sederhana, Dampak Besar
Tim CekTemanSebelah 2.0 menyimpulkan bahwa pelatihan melaporkan kebaikan teman selama 10 hari mampu membuat remaja:
5 kali lebih empati
5 kali lebih prososial
4 kali lebih mampu memahami perspektif orang lain
Di tengah meningkatnya kekhawatiran terhadap kesehatan jiwa remaja, pendekatan berbasis kekuatan (strength-based intervention) ini dinilai membuka peluang besar bagi penguatan promosi kesehatan mental berbasis sekolah secara nasional.

