Comeback Ika Putri : “100 Ribu Streams Itu Seperti Angan-angan Setelah 7 Tahun Hiatus”

SuaraJakartaCo, JAKARTA — Penyanyi pop balada IKA PUTRI menegaskan keseriusannya kembali ke industri musik Indonesia lewat single “Sadis” saat konferensi pers di Radio Republik Indonesia (RRI), Jumat (13/2/2026). Dalam kesempatan itu, ia berbagi cerita tentang proses comeback, tantangan interpretasi lagu karya Bebi Romeo, hingga rasa harunya menembus 100 ribu streams di platform digital.

“Banyak yang tanya, tujuh tahun hiatus masih relevan atau tidak? Sampai akhirnya ada rezeki dari Mas Bebi Romeo dan saya diperkenankan membawakan lagu ini dengan cara yang berbeda,” ujar IKA PUTRI di hadapan media.

Single “Sadis” diproduksi BHS Productions dengan aransemen Irwan Simanjuntak. Lagu ini sebelumnya dikenal lewat versi penyanyi pria dengan karakter vokal meledak. Namun, IKA PUTRI justru diminta menurunkan ego dan menyanyikannya dengan pendekatan yang lebih tenang.

“Saya dihadapkan pada ekspektasi pencipta lagu untuk menyanyikan dengan cara berbeda. Egosnya harus turun, lebih surut, hampir berbisik. Itu justru jauh lebih sulit daripada menyanyi dengan suara yang ‘mental’ dan meledak,” katanya.

(foto:rr).

Menurutnya, hingga kini ia masih terus beradaptasi dengan interpretasi tersebut. “Setiap ruangan, setiap panggung, rasanya berbeda. Bahkan sampai sesi terakhir rekaman, kami masih mencari rasa yang tepat,” tambahnya.

100 Ribu Streams, Pencapaian Emosional

Dalam waktu kurang dari dua bulan sejak dirilis, “Sadis” mencatat lebih dari 115 ribu streams di Spotify dan menembus sejumlah Official Playlist. Bagi sebagian musisi besar, angka tersebut mungkin terlihat biasa. Namun bagi Ika putri, capaian itu sangat berarti.

“Rp100 ribu streams mungkin terlihat kecil bagi yang sudah punya nama besar. Tapi buat saya, setelah hampir tujuh tahun tidak produksi dan tidak aktif, angka 100 ribu itu seperti di angan-angan. Ketika benar-benar tercapai, saya terharu dan senang,” ujarnya.

Distribusi digital lagu ini didukung Trinity Optima Production sebagai agregator, dengan dukungan publikasi dari Seno M. Hardjo dan tim.

Kenangan Festival Internasional

Dalam sesi tanya jawab, Ika putri juga mengenang salah satu momen paling berkesan dalam kariernya, yakni ketika mewakili Indonesia di Shanghai Music Festival pada 2001.

“Saat itu saya masih belasan tahun, masih SMP. Dikirim sebagai duta Indonesia. Disambut banyak orang, dan bisa meraih predikat di kategori stage image performance. Itu pengalaman yang luar biasa,” kenangnya.

Secara keseluruhan, ia telah mengikuti lebih dari 300 festival dan mengoleksi ratusan trofi kejuaraan vokal, membentuk fondasi teknik dan mental panggungnya hingga kini.

Strategi di Tengah Industri yang Berubah

Menjawab pertanyaan soal strategi promosi, Ika putri mengakui bahwa industri telah berubah drastis. Viralitas di media sosial sering dianggap sebagai “resep sukses” baru. Namun ia memilih jalur berbeda.

Ia tetap melakukan visit radio, termasuk beberapa kali ke Surabaya, untuk memperkuat koneksi dengan pendengar. “Waktu visit radio di Surabaya, responsnya meriah sekali. Itu tidak akan terlupakan,” ujarnya.

Ika putri juga menekankan bahwa kualitas tetap menjadi prioritas. Proses produksi “Sadis” bahkan sempat berpindah studio hingga beberapa kali demi mendapatkan hasil vokal yang sesuai ekspektasi.

“Kualitas itu harus dijaga. Kami bisa saja membuat sesuatu yang unik atau kolaborasi yang sensasional. Tapi kami memilih menjaga rasa dan identitas,” tegasnya.

Mengapa Bukan Lagu Baru?

Terkait pertanyaan mengapa memilih lagu yang sudah pernah dirilis alih-alih karya baru, Ika putri menjelaskan bahwa sebagai langkah comeback, ia membutuhkan materi yang kuat dan familiar.

“Setiap lagu punya tujuannya sendiri. Untuk comeback setelah sekian tahun hiatus, saya merasa butuh sesuatu yang sudah dikenal agar lebih mudah di-notice. Kebetulan Mas Bebi memberikan ‘Sadis’ untuk saya bawakan kembali,” katanya.

Ia memastikan, setelah momentum ini, materi-materi baru juga tengah disiapkan.

Comeback Ika putri lewat “Sadis” bukan sekadar nostalgia, melainkan pembuktian bahwa kualitas vokal dan kedalaman interpretasi masih memiliki tempat di industri musik Indonesia. Di tengah tuntutan viralitas, ia memilih konsistensi rasa sebagai fondasi utama kariernya.

Related Articles

Latest Articles