SuaraJakartaCo– Platform pertunjukan musik independen Buitenstage kembali digelar dengan volume kedua di Kopi Wangsa, Bogor, Jumat (16/1) malam. Mengusung konsep gigs intim lintas genre, acara ini menjadi ruang temu bagi musisi independen, media, dan penikmat musik dalam suasana yang dekat dan tanpa sekat.
Buitenstage Vol. 2 menghadirkan deretan musisi dari berbagai kota dan generasi, di antaranya Swazta dan Man Sinner dari Jakarta, Hurtslaves asal Depok, serta dua musisi tuan rumah Bogor, USIX dan Ambarila. Acara ini digagas oleh Buitenfest bekerja sama dengan Cadaazz Pustaka Musik sebagai bagian dari upaya memperluas panggung bagi karya-karya musik independen Indonesia.
Mengusung jargon “Amplify Your Music”, Buitenstage dirancang sebagai platform live performance terkurasi yang menitikberatkan pada pengalaman menonton yang personal dan autentik. Tidak hanya menjadi ruang pertunjukan, Buitenstage juga berfungsi sebagai etalase bagi musisi untuk memperkenalkan rilisan terbaru mereka secara langsung kepada audiens dan media.
Perwakilan Cadaazz Pustaka Musik, Fransiscus Eko, mengatakan Buitenstage hadir dengan konsep gigs yang sengaja dibuat intim agar interaksi antara musisi dan penonton dapat terbangun secara natural.
“Buitenstage adalah ruang yang mempertemukan musisi dengan audiens tanpa jarak. Didukung oleh rekan-rekan jurnalis musik nasional, platform ini diharapkan menjadi tempat musisi memperkenalkan karya barunya secara langsung,” ujar Eko.
Acara yang dipandu oleh Qenny Alyano (Bolehmusic) dan Yogi Hutabarat (Buitenfest) ini dibuka oleh Swazta, unit city pop asal Jakarta yang membawakan materi dari debut EP mereka. Lagu “Di Bawah Langit Senja” menjadi salah satu penampilan yang mendapat respons hangat dari penonton berkat nuansa ringan dan reflektif yang dihadirkan.
Energi panggung kemudian meningkat saat Man Sinner, kuartet skate punk asal Jakarta Timur, tampil dengan set cepat dan agresif. Band ini dikenal konsisten menyuarakan isu sosial, lingkungan, serta pesan anti-diskriminasi dalam karya-karyanya.
Giliran Hurtslaves mengambil alih panggung dengan sajian alternative rock bercorak gitar distorsi dan lirik emosional. Mereka membawakan sejumlah materi orisinal, termasuk single “I See A Stranger” dan “Kelu”, yang mendapat sambutan solid dari audiens.
Nuansa musik berubah saat USIX tampil dengan warna jazzy yang lebih cair. Band asal Bogor ini membuka penampilan dengan single terbaru “Pupus” yang mengajak penonton bernyanyi bersama, menciptakan suasana hangat dan akrab.
Sebagai penutup, Ambarila menghadirkan pertunjukan bernuansa vintage dengan pendekatan storytelling. Membawakan single “Hajumari” dan “Tuning Song”, Ambarila yang kini tampil dalam format band penuh berhasil menghadirkan pengalaman menonton yang interaktif dan personal.
Perwakilan Buitenfest, Anang, menegaskan bahwa Buitenstage lahir dari kesadaran akan pentingnya koneksi langsung antara musisi dan pendengarnya.
“Pengalaman menyaksikan musisi tampil langsung membawa emosi yang tidak bisa digantikan oleh layar digital. Melalui kolaborasi musisi, media, label, dan manajemen artis, Buitenstage diharapkan memberi dampak positif bagi ekosistem musik independen,” katanya.
Antusiasme penonton yang hadir sepanjang acara menjadi penanda bahwa platform pertunjukan musik alternatif seperti Buitenstage masih memiliki ruang dan kebutuhan kuat di tengah geliat industri musik digital. Penyelenggara memastikan Buitenstage akan kembali digelar dengan konsep serupa pada edisi berikutnya.

