Site icon SuaraJakarta.co

Tujuan Hidup

Oleh Husni Mutaqin (Kontributor RZ Magz)

SuaraJakarta.co, FILANTROPI – Tujuan hidup menjadi sangat penting artinya bagi setiap individu maupun kelompok. Setiap aksi yang dilakukan tentunya selalu terkait dengan tujuan tersebut. Al Qur’an menjelaskan bahwa sebagian manusia menjadikan makan dan kesenangan yang lain sebagai tujuan hidupnya. Perhatikan firman Allah swt, “Dan orang-orang yang kafir itu bersenang-senang (di dunia) dan mereka makan seperti makannya binatang-binatang dan neraka adalah tempat tinggal mereka”, (QS Muhammad: 12).

Firman Allah lainnya mengatakan, “Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu : wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allah lah tempat kembali yang baik (syurga)”, (QS Ali Imran: 14).

Al-Qur’an juga menjelaskan bahwa ada sebagian manusia yang menjadikan penyebaran fitnah, kejahatan, dan kerusakan sebagai tujuan hidupnya. Firman Allah swt, “Dan di antara manusia ada orang yang ucapannya tentang kehidupan dunia menarik hatimu, dan dipersaksikannya kepada Allah (atas kebenaran) isi hatinya, padahal ia adalah penantang yang paling keras. Dan apabila ia berpaling (dari kamu), ia berjalan di bumi untuk mengadakan kerusakan padanya, dan merusak tanam-tanaman dan binatang ternak, dan Allah tidak menyukai kerusakan”, (QS Al Baqarah: 204-205).

Itulah beberapa macam tujuan manusia dalam menjalani hidupnya menurut Al Qur’an. Allah swt telah membersihkan kaum mukminin dari tujuan-tujuan buruk itu dan mencanangkan untuk mereka sebuah tujuan yang mulia lagi luhur. Di atas pundak mereka Allah meletakkan beban besar yang sangat luhur, yaitu tugas membawa manusia ke jalan kebenaran, membimbing mereka ke jalan kebaikan, menerangi seluruh penjuru dunia dengan matahari Islam.

Inilah firman Allah swt, “Hai orang-orang yang beriman, rukuklah kamu, sujudlah kamu, sembahlah Tuhanmu, dan perbuatlah kebajikan supaya kamu mendapat kemenangan. Dan berjihadlah kamu di jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya. Dia telah memilih kamu dan Dia tidak sekali-kali menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan. (Ikutilah) agama orang tuamu Ibrahim. Dia (Allah) telah menamai kamu sekalian orang-orang Muslim sejak dahulu, dan (begitu pula) dalam Al Qur’an ini, supaya Rasul itu menjadi saksi atas dirimu dan supaya kamu semua menjadi saksi atas segenap manusia, maka dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan berpeganglah kamu kepada tali Allah. Dia adalah pelindungmu, maka Dialah sebaik-baik Pelndung dan sebaik-baik Penolong”, (QS Al Hajj: 77-78).

Selanjutnya, Allah menjelaskan bahwa dalam mencapai tujuan suci, kaum muslimin rela menjual jiwa dan hartanya kepada Allah swt. Dengan keimanannya mereka merasa tidak berhak lagi atas jiwa dan hartanya. Keduanya telah menjadi wakaf di jalan Allah swt demi mensukseskan dakwah dan menyampaikannya kepada segenap hati manusia. Simaklah firman Allah swt, “Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan syurga untuk mereka”, (QS At Taubag: 111).

Itulah sebabnya setiap muslim menjadikan dunianya sebagai wakaf bagi dakwahnya agar ia bisa mendapatkan akherat sebagai balasan dari Allah atas pengorbanannya. Itu pula sebabnya seorang pejuang muslim adalah juga seorang guru yang memiliki semua sifat yang semestinya ada pada seorang guru; cahaya, hidayah, rahmat dan kelembutan. Sehingga pembebasan Islam berarti juga pembebasan demi peradaban, kemajuan, pengajaran dan bimbingan kepada seluruh umat manusia.

Maka, apakah kaum muslimin telah memahami makna dari Al Qur’an sehingga jiwa dan ruh mereka naik ke langit ketinggian, terbebas dari perbudakan materialisme, bersih dari syahwat dan ambisi dunia, mengarahkan wajah dengan lurus kepada Allah Yang telah menciptakan langit dan bumi, menegakkan kalimat Allah dan berjuang di jalan-Nya, menyebarkan agama dan membela syari’at-Nya? Ataukah mereka justru telah menjadi tawanan syahwat dan budak keserakahan, dimana mereka hanya memikirkan makanan lezat, kendaraan megah, perhiasan mewah, tidur nyenyak, istri cantik, penampilan parlente dan gelaran-gelaran palsu?

Sebuah pepatah mengatakan, ”Mereka sudah cukup senang dengan mimpi-mimpi dan teruji dengan keberuntungan. Mereka bilang menyelami laut perjuangan, tapi mereka toh tak teruji”. Sungguh benar ketika Rasulullah bersabda, “Celakalah hamba dinar, celakalah hamba dirham, celakalah hamba selimut”.

Tujuan adalah dasar yang mendorong kita sepanjang perjalanan. Tapi karena tujuan itu masih samar bagi umat kita, maka adalah wajib bagi para ulama untuk menjelaskan dan membatasinya. Telah jelas bahwa tujuan umat Islam adalah memimpin dunia dan membimbing manusia kepada ajaran Islam yang syamil, dimana manusia tidak mungkin menemukan kebahagiaan kecuali bersamanya.

Itulah misi yang ingin disampaikan oleh muslim sejati kepada segenap manusia dan maksud yang mereka ingin agar umat Islam memahaminya dengan benar, untuk kemudian segera merealisasikannya dengan tekad yang bulat penuh gelora. Itulah misi yang setiap saat mungemuka pada tiap-tiap ayat Al Qur’an, menampakkan diri dari hadits-hadits Rasulullah, terasakan dalam tindakan dan perilaku generasi pertama yang merupakan panutan tertinggi dalam hal pemahaman dan pengamalan Islam. Bila kaum muslimin bersedia menerima misi ini, maka itulah sesungguhnya manifestasi keimanan dan keislaman yang benar. Tapi jika mereka merasa keberatan menerimanya, maka antara mereka ada kitab Allah yang menentukan siapa yang berada pada jalan yang lurus.

Exit mobile version