Site icon SuaraJakarta.co

Ka’bah: Saksi Perjuangan Dakwah Nabi-Nabi

Hanya buah itu saja yang tak boleh disentuh apalagi dimakan di sana, itu saja. Selainnya, semua boleh dinikmati sepuasnya oleh sepasang manusia pertama itu, tanpa batas!

Namun, setan ternyata amat lihai, jeli dan terlalu licik. Sepasang manusia itu pun terbujuk, memegang hingga memakan buah itu. Inilah pelanggaran manusia yang pertama atas larangan Tuhannya. Manusia sekelas Nabi Adam pun terperdaya setan, bersama istrinya Ibunda Hawa, apalagi manusia biasa jaman sekarang? Sungguh, jangan meremehkan godaan setan..

Lalu, kita pun tahu bagaimana kelanjutan ceritanya: Sejoli manusia pertama itu pun Allah keluarkan dari surga, lalu diturunkan ke bumi, terpisah pula dalam jarak ribuan mil antara mereka. Sejak itulah sejarah manusia di muka bumi pun dimulai.

Peneliti sejarah Islam Prof.Aidil Thaha Yunus berpendapat bahwa kemunculan Adam dan Hawa diperkirakan terjadi pada tahun 5872 sebelum masehi. Imam Thabari dalam Tarikh Thabari meriwayatkan bahwa Adam diturunkan di India, sedangkan Hawa di tanah Arab. Al -Tsa’aibi dan Ibnu Umar menyebutkan bahwa Allah mewahyukan pada Adam untuk berhaji (berkunjung) ke Baitullah, yaitu bangunan yang disebutkan riwayat bahwa para malaikatlah yang pertama kali membangunnya. Maka Adam pun menetap di sana. Di sanalah Allah memperkenankan doanya untuk bertemu Hawa.

Allah menjadikan Baitullah sebagai tempat para malaikat dan menjadikan mereka di sana bertasbih siang dan malam tanpa lelah.

Ibnu Katsir dalam bukunya Al-Bidayah wal Nihayah menyebutkan sebuah hadist riwayat Imam Ahmad bin Hanbal tentang haji nabi sebelum Ibrahim. Ketika melewati lembah Usfan saat berhaji, Nabi Muhammad
berkata pada Abu Bakar:”Hud dan Shalih alaihissalam pernah melewati tempat ini dengan mengendarai unta-unta muda yang tali kekangnya terbuat dari anyaman serabut. Sarung mereka adalah jubah dan baju-baju mereka adalah pakaian bergaris. Mereka mengucapkan talbiyah melaksanakan haji ke Baitullah”.

Lalu, diperkirakan pada tahun 1897 SM, terjadi peristiwa hancurnya kaum Nabi Luth di kota Sodom dan Amora. Beberapa belas tahun sebelumnya, lahirlah Ismail, yang kemudia atas perintah Allah, ia
bersama Ibunda Hajar diasingkan di antara bukit Shafa dan Marwa, tak jauh dari Baitullah.

Diperkirakan pula selang beberapa tahun kemudian, tahun 1892 SM, Ibrahim bersama Ismail remaja membangun fondasi Ka’bah sesuai perintah Allah dalam surat Al-Baqoroh ayat 127-128,” Dan (ingatlah) ketika Ibrahim meninggikan dasar-dasar Baitullah bersama Ismail, kemudian berdoa,”Ya Tuhan kami terimalah amalan kami, sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Ya Tuhan kami, jadikanlah kami berdua orang yang tunduk patuh kepada Mu dan di antara anak cucu kami umat yang tunduk patuh kepada Mu. Tunjukkanlah pada kami cara-cara dan tempat-tempat ibadah haji kami, terimalah tobat kami..”

Maka Allah mengabulkan doa Ibrahim. Allah jadikan para Nabi berasal dari keturunannya. Karena itu ahli siroh menyebut Ibrahim sebagai bapak dari para Nabi.

Sejak saat itu, Ka’bah terus menjadi pusat kehidupan. Atas ijin Allah setiap tahun manusia berbondong-bondong mendatanginya. Hingga seorang gubernur nasrani dari Habasyah bernama Abrahah berusaha menandingi kemegahannya dengan membangun sebuah katedral di San’a yang dikenal sebagai “al-Qulays”. Namun kemegahan al-Qulays tak mengalihkan manusia dari mendatangi Ka’bah, sehingga membuat Abrahah murka. Maka pada tahun 570 Masehi, ia mengirimkan pasukan bergajah untukenghancurkannya. Namun janji Allah pasti, Dia menjaga Ka’bah dan menghancurkan pasukan tersebut dengan pasukan burung ababil.

Pada tahun yang sama inilah Nabi Muhammad dilahirkan. Nabi Muhammadlah yang setelah dewasa menjadi risau ketika Ka’bah dijadikan tempat berlakunya paganisme. Haji pun dilakukan tanpa aturan, ada yang tawaf dengan bertelanjang badan, ada pula yang menggabungkan tawaf dengan penyembahan berhala. Lalu pada tahun 610 M, kerisauan itu ia akhiri, ketika Allah menyerunya untuk mendakwahi manusia.

Begitulah, Ka’bah telah menjadi pusat kehidupan sejak tujuh millenium yang lalu. Ia pula menjadi saksi perjuangan dakwah para Nabi, juga para sahabat Nabi Muhammad sepeninggalnya. Umar bin Khattab adalah khalifah pertama yang berusaha mengadakan perluasan wilayah masjdil Haram. Perluasan ini kemudian dilanjutkan Ustman bin Affan. Begitu terus, hingga kini Masjidil Haram terus mengalami renovasi dan perbaikan.

Labbaika Allahumma Labbaik. Mari kita jawab seruanNya beribadah di Baitullah.

*Sari Kusuma, dari berbagai sumber.

Exit mobile version